Kemensos Gandeng BRIN: Janji Riset dan Teknologi untuk Sekolah Rakyat, Tapi Apa Buktinya?

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kemensos Gandeng BRIN: Janji Riset dan Teknologi untuk Sekolah Rakyat, Tapi Apa Buktinya?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kementerian Sosial (Kemensos) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat Sekolah Rakyat serta program pemberdayaan berbasis teknologi.
  • BRIN berjanji menyediakan kajian kebijakan berbasis bukti dan teknologi seperti sistem pengolahan sampah LASAMOR untuk mendukung inisiatif Kampung Bersih dan Berdaya.
  • Para pengamat menyoroti risiko implementasi yang belum jelas, mulai dari mekanisme pendanaan hingga pengawasan hasil riset.

Pertemuan antara Kementerian Sosial dan BRIN pada Rabu (29/7) menandai langkah formal pemerintah untuk menggabungkan riset ilmiah dengan program sosial. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa Sekolah Rakyat menjadi prioritas utama dalam agenda pengentasan kemiskinan antargenerasi.

Menurut Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, Nunung Nuryartono, lembaga riset siap menanggapi surat permintaan Kemensos dengan "kajian kebijakan, pengembangan teknologi, hingga evaluasi program". Penawaran tersebut mencakup teknologi pencarian dan pemanenan air, desalinasi, daur ulang, serta sistem pengolahan sampah skala rumah tangga (LASAMOR) yang diklaim dapat mengubah limbah menjadi nilai ekonomi.

Wamensos menuturkan bahwa program Kampung Bersih dan Berdaya—yang sudah dipilotkan di Serang, Bogor, dan Bali—akan menjadi arena uji coba teknologi BRIN. "Jika teknologi pengolahan sampah dapat diintegrasikan, kami harap dapat meningkatkan kesejahteraan KPM sekaligus mengurangi beban lingkungan," ujarnya.

Namun, di balik antusiasme resmi, terdapat pertanyaan mendasar: bagaimana mekanisme koordinasi teknis akan dijalankan? Siapa yang akan mengawasi kualitas riset dan memastikan bahwa rekomendasi tidak hanya menjadi dokumen kertas? Dan yang paling krusial, apakah alokasi anggaran sudah disiapkan atau masih bergantung pada dana hibah yang belum pasti?

Analisis Pakar

Kolaborasi antara Kemensos dan BRIN memang tampak progresif, namun sejarah kolaborasi lintas kementerian di Indonesia sering kali berujung pada birokrasi yang berlapis dan kurangnya akuntabilitas. Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua potensi bahaya utama. Pertama, risiko "riset on demand" yang hanya menghasilkan laporan singkat tanpa tindak lanjut yang terukur. Kedua, ketergantungan pada teknologi yang belum teruji di lapangan dapat menimbulkan kegagalan implementasi, terutama di daerah terpencil dengan infrastruktur minim.

Penggunaan istilah "evidence‑based policy" memang menggugah, namun bukti yang dimaksud harus bersifat longitudinal—mengikuti perkembangan siswa Sekolah Rakyat selama beberapa tahun, bukan sekadar survei satu kali. Tanpa data jangka panjang, rekomendasi kebijakan akan bersifat reaktif, bukan proaktif.

Selanjutnya, program Kampung Bersih dan Berdaya menuntut sinergi antara teknologi, pelatihan masyarakat, dan pasar untuk produk sampah yang diolah. Tanpa mekanisme pasar yang jelas—misalnya kontrak dengan perusahaan daur ulang atau insentif fiskal—teknologi LASAMOR berpotensi menjadi “gadget” yang terabaikan setelah fase percontohan selesai.

Terakhir, transparansi anggaran harus menjadi prasyarat. Pemerintah perlu mempublikasikan alokasi dana, target output, serta indikator keberhasilan yang dapat dipantau oleh publik dan lembaga pengawas. Tanpa itu, janji kolaborasi ini berisiko menjadi sekadar narasi politik untuk menambah poin prestasi di mata publik.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja teknologi yang akan disumbangkan BRIN untuk Sekolah Rakyat?
    A: BRIN menawarkan teknologi pencarian dan pemanenan air, desalinasi, daur ulang air, serta sistem pengolahan sampah rumah tangga (LASAMOR).
  • Q: Bagaimana mekanisme kerja sama antara Kemensos dan BRIN?
    A: Kedua lembaga akan menyusun mekanisme kerja sama melalui koordinasi teknis antarsatuan kerja, termasuk pengiriman surat kebutuhan kajian dan teknologi.
  • Q: Apa yang membedakan program Sekolah Rakyat dari program pendidikan lainnya?
    A: Sekolah Rakyat difokuskan pada anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem dengan tujuan memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan gratis dan berbasis komunitas.
Meow! Tanya Nesi!
😸