Iran Selalu Sembunyi di Laut Malaysia: Bagaimana Minyaknya Masuk ke Kilang China Meski Sanksi AS

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Iran Selalu Sembunyi di Laut Malaysia: Bagaimana Minyaknya Masuk ke Kilang China Meski Sanksi AS
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kapal tanker Iran Humanity mematikan AIS di zona OuterPortLimits Malaysia, memudahkan transfer minyak secara rahasia.
  • Jaringan "ship‑to‑ship" melibatkan lebih dari 200 kapal, termasuk 18 tanker berbendera Iran, untuk mengalirkan sekitar 1,4 juta barel per hari ke China melalui kilang teapot yang tidak terjangkau SWIFT.
  • Meski sanksi AS‑EU dan blokade militer, perdagangan tetap hidup karena celah hukum di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Malaysia serta penggunaan sistem pembayaran CIPS.

Jakarta – Pada Sabtu (30/7/2026), kapal tanker Humanity milik Iran mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) saat melintasi Outer Port Limits (EOPL) Malaysia di Laut China Selatan. Tindakan ini diperkirakan merupakan persiapan untuk ship‑to‑ship transfer ke perantara sebelum minyak mentah dikirim ke China.

Menurut laporan Al Jazeera, aktivitas perdagangan minyak Iran di zona seluas 1.200 kmÂČ itu tetap padat meski konflik bersenjata antara AS‑Israel dan Iran telah berlangsung lima bulan, serta blokade angkatan laut AS kembali diberlakukan sejak 14 Juli.

Data satelit mencatat 62 kapal yang menonaktifkan atau memalsukan identitas sejak awal tahun, menjadi bagian dari jaringan perantara yang mengalirkan minyak ke kilang independen “teapot” di China. Kilang‑kilang kecil ini, berbeda dengan raksasa BUMN energi seperti CNPC, Sinopec, dan CNOOC, tidak terhubung ke sistem keuangan AS sehingga lebih berani mengambil risiko sanksi.

Kawasan EOPL Malaysia menawarkan perairan tenang sekitar 70 km dari pantai, berada di luar laut teritorial namun masih dalam ZEE. Hal ini menciptakan zona abu‑abu hukum yang sulit dipatroli. Pakar keamanan maritim YCAPS, Charlie Brown, memperkirakan hingga 200 kapal berlabuh di area tersebut pada hari biasa, dengan setengahnya terkait langsung dengan jaringan minyak Iran.

Malaysia pada Juni lalu mengamandemen Undang‑Undang ZEE untuk menindak tegas kegiatan ilegal seperti anchoring tanpa izin, bunkering, dan transfer kargo. Namun, satelit masih mencatat 18 tanker berbendera Iran dan 50 kapal yang dikenai sanksi AS/UE tetap beroperasi di zona tersebut.

Transaksi minyak Iran ke China difasilitasi oleh sistem pembayaran lintas‑batas CIPS, yang memungkinkan penggunaan yuan di luar jaringan SWIFT yang dipantau AS. Data bea cukai menunjukkan Iran mengekspor sekitar 1,4 juta barel per hari ke China tahun lalu, meski impor tersebut dicatat sebagai dari Malaysia.

Pemerintah China terus menolak sanksi sepihak AS dan menegaskan bahwa penggunaan yurisdiksi ekstrateritorial melanggar hukum internasional. Pada akhir April, China bahkan memblokir sanksi Departemen Keuangan AS terhadap lima kilang teapot untuk melindungi pelaku domestik.

Menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent, pembelian minyak mentah Iran oleh kilang‑kilang China turun sekitar 40 % sejak perang dimulai. Namun, jaringan pasar gelap di EOPL Malaysia tetap menjaga aliran ekspor Iran tetap hidup.

Analisis Pakar

Strategi Iran untuk memanfaatkan zona abu‑abu di perairan Malaysia bukan sekadar taktik taktis, melainkan bagian dari strategi geopolitik jangka panjang. Dengan menempatkan operasi di luar wilayah kedaulatan negara mana pun, Iran mengurangi risiko intervensi militer sekaligus memanfaatkan kelemahan regulasi maritim regional. Bagi investor, ini menandakan bahwa risiko geopolitik di sektor energi tetap tinggi, namun peluang arbitrase harga tetap terbuka bagi pemain yang mampu mengakses jaringan pembayaran alternatif seperti CIPS.

Penggunaan kilang teapot di China menegaskan pergeseran kekuatan dalam rantai pasokan minyak global. Kilang‑kilang kecil ini, yang tidak terikat pada sistem keuangan Barat, menjadi “jembatan” penting bagi negara‑negara yang terkena sanksi. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas sanksi tradisional yang mengandalkan kontrol atas sistem perbankan internasional. Jika negara‑negara seperti China terus mengembangkan infrastruktur keuangan alternatif, sanksi AS‑EU akan semakin terpinggirkan.

Di sisi lain, Malaysia menghadapi dilema antara menegakkan kedaulatan ZEE dan menjaga hubungan ekonomi dengan China serta negara‑negara lain yang bergantung pada jalur perdagangan ini. Amandemen undang‑undang yang baru belum cukup untuk menutup celah, terutama karena pengawasan satelit menunjukkan aktivitas tetap tinggi. Pemerintah Malaysia perlu memperkuat kerjasama maritim dengan negara‑negara ASEAN serta meningkatkan kapasitas patroli untuk menegakkan hukum secara efektif.

Bagi pelaku pasar, implikasi utama adalah volatilitas harga minyak mentah yang dapat dipicu oleh gangguan pada jalur “dark shipping” ini. Investor harus memantau sinyal-sinyal geopolitik, termasuk kebijakan sanksi baru, perubahan regulasi ZEE, serta perkembangan sistem pembayaran alternatif. Diversifikasi portofolio energi dengan menambah eksposur pada energi terbarukan atau perusahaan logistik yang tidak terpengaruh oleh sanksi dapat menjadi strategi mitigasi risiko yang bijak.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Iran memilih zona EOPL Malaysia untuk transfer minyak?
    A: Karena zona ini berada di luar laut teritorial Malaysia, sehingga pengawasan militer dan hukum sulit, menciptakan “zona abu‑abu” yang memudahkan operasi rahasia.
  • Q: Bagaimana China dapat menerima minyak Iran meski ada sanksi?
    A: China menggunakan sistem pembayaran CIPS berbasis yuan, yang beroperasi di luar jaringan SWIFT yang dipantau AS, serta mengalihkan catatan impor melalui Malaysia.
  • Q: Apa dampak potensial bagi pasar minyak global?
    A: Jika jaringan “dark shipping” terganggu, pasokan minyak Iran ke Asia dapat berkurang drastis, memicu kenaikan harga dan meningkatkan volatilitas pasar energi.
Meow! Tanya Nesi!
😾