Irak Kecam Serangan Gabungan AS‑Saudi: 20 Tewas, Ketegangan Regional Meningkat

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Irak Kecam Serangan Gabungan AS‑Saudi: 20 Tewas, Ketegangan Regional Meningkat
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Irak mengutuk serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi yang menewaskan sekitar 20 orang.
  • Serangan menargetkan anggota Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF) di tujuh provinsi Irak, yang dianggap melanggar kedaulatan negara.
  • Ketegangan antara Ali Falih Al Zaidi dan koalisi militer regional memuncak di tengah konflik yang melibatkan Iran, Houthi, dan kehadiran militer AS di wilayah tersebut.

Perdana Menteri Irak Ali Falih Al Zaidi mengadakan pertemuan darurat dengan koalisi politik Kerangka Koordinasi pada Rabu (29/7) untuk mengecam serangan udara yang dilancarkan secara bersamaan oleh Amerika Serikat dan Arab Saudi. Menurut pernyataan resmi kantor Perdana Menteri yang dipublikasikan di platform X, serangan tersebut menewaskan 20 orang, termasuk anggota Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF), serta menimbulkan sejumlah korban luka.

Koalisi politik menegaskan bahwa tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak. “Segala bentuk pelanggaran atau kompromi terhadap keamanan dan kedaulatan Irak tidak akan ditoleransi dalam keadaan apa pun,” tegas pernyataan tersebut.

Menurut pihak militer Irak, serangan itu ditujukan untuk menghancurkan jaringan PMF yang dituduh berperan dalam serangan terhadap fasilitas milik Riyadh dan Washington. PMF membantah tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai “rekayasa” dan mengancam akan membalas dengan tindakan keras terhadap setiap aksi Saudi yang dianggap “bodoh”.

Ini merupakan kali pertama sejak pecahnya konflik terbuka antara AS dan Iran pada pekan ini, Saudi secara terbuka mengakui keterlibatan militer bersama Amerika. Sebelumnya, Riyadh selalu menegaskan bahwa mereka menahan diri meski pangkalan AS di Irak menjadi sasaran serangan Iran. Konflik ini terjadi bersamaan dengan eskalasi serangan antara Saudi dan milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman, termasuk pemblokiran jalur maritim Saudi di Laut Merah.

Analisis Pakar

Serangan gabungan ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Keterlibatan langsung Amerika Serikat bersama Arab Saudi menunjukkan upaya koalisi anti‑Iran untuk menekan jaringan milisi yang didukung Tehran, khususnya PMF. Namun, langkah ini berisiko memperdalam rasa anti‑AS di kalangan publik Irak, yang masih mengingat trauma invasi 2003.

Secara hukum, serangan tersebut melanggar prinsip kedaulatan negara dan dapat dianggap sebagai pelanggaran Piagam PBB kecuali ada mandat resolusi Dewan Keamanan yang sah. Tanpa persetujuan Irak, tindakan militer unilateral dapat memicu respons diplomatik yang lebih keras, termasuk kemungkinan pengajuan resolusi atau sanksi di forum internasional.

Di sisi lain, Saudi menegaskan bahwa operasi ini merupakan balasan terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh milisi pro‑Iran di wilayahnya. Dengan mengakui peran militer secara terbuka, Riyadh berusaha mengirim sinyal kepada Tehran bahwa dukungan logistik dan operasional kepada kelompok bersenjata di Irak tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi. Namun, strategi ini dapat memperburuk hubungan Saudi‑Irak, yang selama ini berusaha menyeimbangkan hubungan dengan Washington dan Tehran.

Ke depan, kemungkinan eskalasi lebih lanjut tidak dapat diabaikan. Jika Iran memutuskan untuk merespons secara militer, kawasan dapat kembali ke kondisi perang proksi yang lebih intens. Komunitas internasional, terutama Uni Eropa dan PBB, perlu memainkan peran mediasi yang lebih proaktif untuk mencegah spiral konflik yang dapat mengancam stabilitas energi global dan keamanan maritim di Laut Merah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Amerika Serikat dan Arab Saudi melakukan serangan bersama di Irak?
    A: Kedua negara menargetkan milisi yang dianggap berafiliasi dengan Iran, khususnya PMF, sebagai bagian dari upaya menekan pengaruh Tehran di Timur Tengah.
  • Q: Apakah serangan ini melanggar hukum internasional?
    A: Ya, tanpa persetujuan pemerintah Irak atau mandat Dewan Keamanan PBB, serangan tersebut dianggap melanggar kedaulatan Irak dan Piagam PBB.
  • Q: Apa dampak potensial serangan ini terhadap hubungan Saudi‑Irak?
    A: Serangan dapat memperburuk ketegangan diplomatik, mengurangi kerja sama keamanan, dan memicu respons balasan militer atau politik dari pihak Irak.
Meow! Tanya Nesi!
😸