Diisukan Cari Pesugihan di Gunung Kawi, Sarwendah Akhirnya Buka Suara: '1.000 Persen Nggak Ada!'

Selebriti
Nadia PutriNadia Putri
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Diisukan Cari Pesugihan di Gunung Kawi, Sarwendah Akhirnya Buka Suara: '1.000 Persen Nggak Ada!'
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Sarwendah membantah keras rumor miring yang menuduhnya melakukan ritual pesugihan di Gunung Kawi.
  • Keberadaannya di lokasi mistis tersebut murni untuk syuting program horor berbayar 'KBP the Lost World' bersama tim Media Onsu Perkasa saat pandemi.
  • Klarifikasi ini disampaikan langsung di podcast Denny Sumargo, bahkan sempat dikonfrontasi langsung oleh Pesulap Merah via telepon.

Halo pop culture lovers! Balik lagi bareng gue, Nadia Putri. Kali ini kita mau bahas gosip yang bener-bener bikin bulu kuduk merinding sekaligus geleng-geleng kepala. Yup, apalagi kalau bukan rumor panas yang menerpa mantan istri Ruben Onsu, yaitu Sarwendah. Belakangan ini, nama ibu tiga anak ini mendadak dikait-kaitkan dengan isu miring ritual pesugihan di Gunung Kawi. Serem banget, kan?

Nggak mau isu ini makin liar menggelinding bak bola salju, Sarwendah akhirnya memutuskan buat spill the tea dan memberikan klarifikasi super tegas. Lewat obrolan mendalam di podcast Curhat Bang Denny Sumargo, mantan personel Cherrybelle ini blak-blakan membantah semua tuduhan mistis tersebut.

'Aku ke situ untuk syuting horor, bukannya berita-berita di luar sana (pesugihan). Itu sama sekali tidak benar,' tegas Sarwendah dengan nada geram namun tetap tenang.

Usut punya usut, kedatangan Sarwendah ke Gunung Kawi beberapa waktu lalu itu murni karena urusan profesional, lho. Dia terlibat dalam syuting program horor bertajuk 'KBP the Lost World' yang diproduksi oleh Media Onsu Perkasa milik Jordi Onsu. Program ini ditayangkan secara berbayar saat masa pandemi Covid-19, makanya videonya nggak nampang di YouTube reguler—hal inilah yang diduga memicu salah paham netizen yang hobi berasumsi liar.

Nah, yang bikin podcast Densu kemarin makin tegang, tiba-tiba ada sesi telepon interaktif bareng Marcel Radhival alias Pesulap Merah! Si Pesulap Merah yang emang terkenal vokal langsung nanya blak-blakan soal kebenaran isu pesugihan itu. Sarwendah pun dengan santai menjelaskan bahwa ritual yang sempat terekam kamera itu sebenarnya cuma tradisi lokal biasa untuk menghormati adat setempat sebelum syuting dimulai, seperti makan nasi kuning bareng kru dan kuncen.

'Benar-benar aku syuting, kami syuting, aku juga enggak tahu kuncennya bawa ke mana-mana. Jadi dia mengenalkan lokasi sini lokasi sini dijelaskan satu satu untuk kebutuhan syuting,' cerita Sarwendah.

'Itu juga semuanya ada tayangannya. Setelah itu, saya enggak pernah ke situ lagi sama sekali. Enggak ada kata-kata pesugihan. Itu 1.000 persen enggak ada,' pungkasnya. Sarwendah juga menyentil netizen dan media karena klarifikasi dari juru kunci Gunung Kawi sebelumnya justru sepi peminat. 'Kalau fakta sepertinya susah naik,' sindirnya telak.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat budaya pop, gue melihat fenomena tuduhan pesugihan pada figur publik ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Masyarakat kita itu punya obsesi kolektif yang unik sekaligus toksik terhadap hal-hal mistis. Ketika ada selebriti yang sukses, kaya raya, atau punya bisnis gurita, sebagian netizen sering kali mencari jalan pintas logika: 'Ah, pasti pakai pesugihan.' Ini adalah bentuk coping mechanism sosial yang menyedihkan, di mana kerja keras seseorang didegradasi menjadi sekadar bantuan makhluk halus.

Kasus Sarwendah ini makin miris karena rumornya sampai terdengar ke telinga anak-anaknya, salah satunya Thalia. Bayangkan betapa beratnya beban mental seorang ibu yang harus menjelaskan ke anaknya bahwa ibunya dituduh bersekutu dengan setan demi uang. Di sini gue angkat topi buat kedewasaan Sarwendah yang memilih menghadapi isu ini secara langsung di platform besar seperti podcast Denny Sumargo. Ini adalah langkah taktis public relations yang cerdas untuk merebut kembali narasi (reclaim the narrative) sebelum reputasi personal dan bisnisnya hancur total akibat hoaks.

Sindiran Sarwendah soal 'kalau fakta sepertinya susah naik' itu bener-bener menampar industri media kita saat ini. Kita hidup di era click economy, di mana rumor mistis yang bombastis jauh lebih laku dijual daripada klarifikasi logis yang membosankan. Netizen lebih suka percaya teori konspirasi liar daripada kenyataan bahwa Sarwendah cuma lagi kerja profesional cari duit halal lewat konten horor. Ini jadi refleksi penting buat kita semua sebagai konsumen informasi: apakah kita mencari kebenaran, atau cuma mencari sensasi?

Akhir kata, langkah Sarwendah ini harusnya jadi titik balik buat kita untuk stop menormalisasi fitnah berkedok 'gosip mistis'. Di era modern ini, mari kita lebih rasional dalam menilai kesuksesan orang lain. Kesuksesan finansial keluarga Onsu itu hasil dari kerja keras bertahun-tahun di industri hiburan dan bisnis kuliner, bukan karena sesajen di Gunung Kawi. So, let's be smart netizen, guys!

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apakah benar Sarwendah melakukan ritual pesugihan di Gunung Kawi?
A: Tidak benar. Sarwendah menegaskan 1.000 persen bahwa keberadaannya di Gunung Kawi murni untuk keperluan syuting program horor 'KBP the Lost World' bersama tim produksi Media Onsu Perkasa.

Q: Mengapa video syuting Sarwendah di Gunung Kawi tidak ada di YouTube biasa?
A: Karena program horor tersebut merupakan konten eksklusif berbayar yang ditayangkan khusus pada masa pandemi Covid-19, sehingga tidak diunggah secara bebas di kanal YouTube reguler.

Q: Bagaimana tanggapan juru kunci Gunung Kawi mengenai isu pesugihan Sarwendah?
A: Juru kunci setempat sebenarnya sudah memberikan klarifikasi terbuka di media sosial bahwa tidak ada ritual pesugihan yang dilakukan oleh Sarwendah, melainkan hanya prosesi adat makan nasi kuning bersama untuk meminta izin sebelum syuting dimulai.

Meow! Tanya Nesi!
😸