Pemilu 27 Oktober: Nasib Netanyahu di Titik Balik—Apakah Israel Akan Pilih Perubahan?

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pemilu 27 Oktober: Nasib Netanyahu di Titik Balik—Apakah Israel Akan Pilih Perubahan?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Knesset menjadwalkan pemilihan umum pada 27 Oktober 2024, yang dipandang sebagai referendum atas kepemimpinan Benjamin Netanyahu.
  • Konflik di Gaza, tuduhan genosida, dan kasus korupsi menambah tekanan politik pada pemerintah.
  • Mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Gadi Eisenkot muncul sebagai pesaing utama, memicu persaingan internal dalam koalisi kanan.

Parlemen Israel, Knesset, secara resmi mengumumkan bahwa pemilihan umum akan dilaksanakan pada 27 Oktober mendatang. Pemilu ini secara luas dianggap sebagai ujian akhir bagi Benjamin Netanyahu, yang saat ini menjabat sebagai perdana menteri terlama dalam sejarah Israel, untuk mempertahankan posisinya pada periode ketujuh. Baru-baru ini, Netanyahu mengadakan pertemuan penting dengan pemimpin Amerika Serikat.

Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu operasi militer Israel di Jalur Gaza, pemerintah Netanyahu telah menghadapi kritik tajam. Lebih dari 75.000 warga sipil Palestina dilaporkan tewas, sementara kelompok bersenjata Hamas berhasil menembus sistem pertahanan perbatasan Israel dan menyandera 251 orang. Kritik ini dipadukan dengan tuduhan genosida oleh organisasi hak asasi manusia internasional serta penyelidikan korupsi yang dapat menjatuhkan hukuman penjara hingga sepuluh tahun.

Di tengah gejolak tersebut, mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Gadi Eisenkot, muncul sebagai tokoh politik yang menantang kepemimpinan Netanyahu. Survei yang dirilis oleh Channel 13 menunjukkan partai Yashar yang dipimpin Eisenkot unggul tipis atas Likud, partai Netanyahu. Eisenkot, yang sebelumnya menjadi bagian dari kabinet perang, mengundurkan diri pada Juni 2024 dengan menyatakan bahwa pemerintah telah "sepenuhnya gagal" dalam mencapai tujuan di Gaza. Tragedi pribadi juga menghiasi latar belakangnya, karena putranya tewas pada awal konflik di Gaza pada Desember 2023.

Para pengkritik menilai bahwa ketidakmampuan pemerintah untuk menghancurkan Hamas secara total, serta kebijakan yang dianggap menindas, menandakan bahwa Netanyahu tidak lagi layak memimpin negara. Sementara itu, hubungan Israel dengan sekutu tradisionalnya, termasuk Amerika Serikat, mengalami ketegangan, dan kebijakan domestik yang kontroversial menimbulkan kekhawatiran tentang kemajuan demokrasi di negara tersebut.

Analisis Pakar

Yossi Mekelberg, peneliti senior di Chatham House, menilai bahwa pemilu Oktober akan menjadi pemilu paling menentukan sejak berdirinya Israel pada 1948. Menurutnya, dinamika politik dalam tiga setengah tahun terakhir dipenuhi oleh krisis yang berakar pada kegagalan kebijakan luar negeri dan domestik. Konflik berkelanjutan di Gaza, ketegangan di Tepi Barat, serta ancaman dari Iran dan Lebanon menambah beban strategis bagi pemerintah. Mekelberg menekankan bahwa kegagalan dalam menuntaskan konflik Gaza tidak hanya mempengaruhi persepsi publik di dalam negeri, tetapi juga menurunkan kredibilitas Israel di panggung internasional.

Selain itu, proses hukum yang sedang berlangsung terhadap Netanyahu menambah lapisan kompleksitas politik. Tuduhan korupsi yang melibatkan penyuapan, penipuan, dan penyalahgunaan kepercayaan publik dapat menjadi faktor penentu bagi pemilih yang mengutamakan integritas pemerintahan. Jika terbukti bersalah, konsekuensi hukum tidak hanya akan mengakhiri karier politiknya, tetapi juga membuka ruang bagi oposisi untuk mengkonsolidasikan dukungan.

Di sisi lain, munculnya Gadi Eisenkot sebagai calon utama menunjukkan pergeseran dalam lanskap politik kanan Israel. Eisenkot mengusung platform yang menekankan keamanan nasional yang lebih tegas, namun juga menyoroti kebutuhan akan reformasi kebijakan yang lebih transparan dan akuntabel. Keberhasilan partainya dalam survei menunjukkan adanya kelelahan pemilih terhadap status quo, serta keinginan akan perubahan kepemimpinan yang dapat mengatasi krisis kemanusiaan dan geopolitik secara simultan.

Secara keseluruhan, pemilu ini tidak hanya akan menentukan nasib premiernya, tetapi juga arah kebijakan luar negeri Israel dalam menghadapi tantangan regional yang semakin kompleks. Hasilnya akan mempengaruhi hubungan Israel dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, serta negara-negara Arab yang tengah menilai kembali posisi mereka di tengah dinamika konflik yang terus berubah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan tepatnya pemilu Israel 2024 akan dilaksanakan?
    A: Pemilu dijadwalkan pada 27 Oktober 2024.
  • Q: Siapa saja kandidat utama yang bersaing melawan Benjamin Netanyahu?
    A: Mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Gadi Eisenkot menjadi pesaing utama, bersama dengan kandidat lain dari partai-partai oposisi.
  • Q: Apa dampak konflik Gaza terhadap hasil pemilu?
    A: Konflik Gaza menjadi faktor utama yang mempengaruhi persepsi publik, dengan kritik terhadap kebijakan militer dan tuduhan genosida yang dapat memicu perubahan dukungan politik.
Meow! Tanya Nesi!
😸