Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Anak SD di Sulut Dihujat Karena Keluarga Miskin, Video Tangisannya Jadi Viral

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Anak SD di Sulut Dihujat Karena Keluarga Miskin, Video Tangisannya Jadi Viral
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Anak kelas IV SD bernama Anisa Azahra Munaimbala (Icha) dipermalukan oleh teman sebayanya karena kondisi ekonomi keluarganya.
  • Insiden terjadi di Jaga V, Desa Molompar II Utara, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, dan video tangisan Icha menyebar luas di media sosial.
  • Orang tua Icha menuntut agar bullying tidak lagi dijadikan senjata diskriminasi ekonomi, sambil mengkritik kurangnya respons sekolah dan masyarakat.

Seorang siswi berusia 9 tahun, yang akrab dipanggil Icha, menjadi korban bullying pada Kamis (23/7) sore di sekitar rumahnya, Jaga V, Desa Molompar II Utara, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Sejumlah anak sebayanya mengejek Icha dengan menyebut ayahnya “miskin” dan rumahnya “jelek”. Tangisan Icha terekam kamera oleh ibunya, Feyti Kawulusan, dan video tersebut kemudian menjadi viral di platform media sosial.

Menurut Feyti, yang merupakan ibu rumah tangga, ia mendengar keributan di depan rumahnya dan menemukan Icha dalam keadaan terisak. "Saya langsung menanyakan apa yang terjadi, dan dia mengaku dipermalukan," ujarnya. Feyti menegur para pelaku, namun menambahkan bahwa ini bukan kali pertama Icha mengalami perlakuan serupa. "Kali pertama saya bersabar, namun kali ini sudah keterlaluan," katanya.

Ayah Icha bekerja sebagai buruh dan petani, sementara Icha menempuh pendidikan di kelas IV SD Negeri 1 Molompar. Feyti menegaskan bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak boleh menjadi bahan olok-olok. "Kami memang miskin, semua orang di lingkungan ini tahu, tapi jangan sampai mem-bully anak saya. Bagaimana dengan mental anak saya," tegasnya.

Analisis Pakar

Kasus ini mengungkapkan kegagalan struktural dalam penanganan bullying di tingkat sekolah dasar, terutama di daerah terpencil. Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa permasalahan tidak hanya terletak pada perilaku agresif anak-anak, melainkan pada kurangnya kebijakan anti‑bullying yang tegas dan pengawasan yang memadai dari pihak sekolah serta pemerintah daerah. Tanpa adanya program edukasi yang menanamkan nilai empati dan toleransi, stigma ekonomi akan terus menjadi senjata sosial yang memecah belah.

Lebih jauh, fenomena viralitas video di media sosial menimbulkan paradoks: di satu sisi, memperlihatkan realitas keras yang harus dihadapi anak-anak, namun di sisi lain, dapat memicu sensationalisme yang mengabaikan kebutuhan akan solusi jangka panjang. Media harus berperan sebagai katalisator perubahan, bukan sekadar penyebar sensasi. Penyelidikan lebih lanjut terhadap respons institusi pendidikan setempat, serta penegakan sanksi yang konsisten terhadap pelaku bullying, menjadi keharusan.

Terakhir, penting untuk menyoroti peran orang tua dalam melindungi anak mereka. Feyti sudah melakukan langkah tepat dengan merekam kejadian dan mengangkat isu ini ke publik. Namun, dukungan psikologis bagi korban dan keluarga juga harus diakomodasi oleh layanan sosial daerah. Tanpa intervensi holistik—yang mencakup pendidikan, penegakan hukum, dan layanan kesehatan mental—kasus serupa akan terus berulang kecuali ada tindakan konkret dari semua pihak terkait.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa yang harus dilakukan sekolah ketika ada kasus bullying seperti ini?
    A: Sekolah wajib mengaktifkan prosedur anti‑bullying, memberikan edukasi kepada siswa, serta menindak tegas pelaku sesuai kebijakan yang ada.
  • Q: Bagaimana cara orang tua melindungi anak dari bullying berbasis ekonomi?
    A: Orang tua dapat mengajarkan nilai harga diri, melaporkan insiden ke pihak sekolah, dan mencari dukungan psikologis bila diperlukan.
  • Q: Apakah video viral dapat membantu menyelesaikan masalah bullying?
    A: Video dapat meningkatkan kesadaran publik, namun solusi nyata memerlukan tindakan konkret dari institusi terkait, bukan sekadar sorotan media.
Meow! Tanya Nesi!
😸