Energi Panas Bumi Siap Gantikan Batu Bara: Ambisi 3 GW PGE Buka Peluang Bisnis Besar

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Energi Panas Bumi Siap Gantikan Batu Bara: Ambisi 3 GW PGE Buka Peluang Bisnis Besar
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pertamina Geothermal Energy (PGE) targetkan kapasitas terpasang 3 GW, naik dari 727 MW saat ini.
  • Panas bumi dapat suplai listrik stabil 24/7, mengatasi intermitensi surya dan angin serta mengurangi ketergantungan impor batu bara.
  • Proyek baru termasuk PLTP Lumut Balai Unit 3, eksplorasi di Gunung 3 Lampung, dan pengeboran di Kotamobagu, diperkirakan tambah 45 MW dalam hitungan minggu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Pertamina Geothermal Energy (PGE) mempercepat transisi energi bersih dengan menargetkan pembangkit panas bumi sebagai tulang punggung listrik nasional. Direktur Eksplorasi dan Pengembangan, Edwil Suzandi, menegaskan bahwa panas bumi memiliki keunggulan mirip energi fosil: produksi listrik konstan tanpa terpengaruh cuaca, siang‑malam, atau musim.

“Panas bumi itu seperti energi fosil, bisa menjadi baseload yang tidak terpengaruh hujan atau panas. Jadi konsisten menghasilkan listrik dalam situasi apa pun,” ujar Suzandi dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, Senin (27/7/2026). Keunggulan ini menjadikannya pilihan strategis dibandingkan energi terbarukan lain yang bersifat intermiten.

Indonesia memiliki cadangan panas bumi terbesar ke‑3 di dunia, namun baru memanfaatkan 11‑12 % dari potensi total. PGE bertekad mengubah angka ini dengan meningkatkan kapasitas terpasang dari 727 MW menjadi 3 GW, menjadikannya pemain terbesar di pasar global. “Visi kami menjadi nomor satu dunia dengan 3 GW kapasitas terpasang,” tegas Suzandi.

Untuk mencapainya, PGE mempercepat proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 di Muara Enim, Sumatra Selatan, serta eksplorasi di Gunung 3 Lampung dan persiapan pengeboran di Kotamobagu, Sulawesi Utara. “Beberapa proyek sedang dibahas dengan PLN; dalam beberapa hari ke depan kami berharap menandatangani perjanjian yang menambah sekitar 45 MW,” tambahnya.

Analisis Pakar

Secara makroekonomi, percepatan pengembangan panas bumi oleh PGE dapat menjadi katalisator utama dalam menurunkan intensitas karbon sektor energi Indonesia. Dengan mengalihkan beban pembangkit dari PLTU batu bara ke sumber yang tidak menghasilkan emisi CO₂, pemerintah dapat lebih cepat memenuhi komitmen NDC pada Konferensi Perubahan Iklim (COP). Selain itu, stabilitas pasokan listrik yang dijamin oleh baseload panas bumi akan mengurangi volatilitas harga energi, yang selama ini menjadi beban bagi industri manufaktur dan UMKM.

Dari perspektif investasi, target 3 GW membuka peluang pendanaan hijau (green financing) yang kini melimpah di pasar internasional. Lembaga keuangan global, termasuk bank pembangunan multilateral, semakin menuntut proyek energi bersih dengan profil risiko rendah. PGE, sebagai anak perusahaan BUMN, memiliki keunggulan akses ke infrastruktur jaringan PLN serta dukungan kebijakan pemerintah, yang dapat menurunkan cost of capital secara signifikan dibandingkan pemain swasta.

Namun, tantangan regulasi dan tata kelola lahan tetap menjadi penghalang. Proses perizinan eksplorasi di wilayah terpencil sering kali terhambat oleh konflik agraria dan kebutuhan kompensasi sosial‑ekonomi. PGE harus mengintegrasikan pendekatan social license to operate (SLO) dengan stakeholder lokal untuk menghindari penundaan proyek yang dapat menggerus profitabilitas.

Jika PGE berhasil mencapai 3 GW dalam dekade berikutnya, Indonesia tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada impor batu bara, tetapi juga dapat mengekspor keahlian teknologi panas bumi ke negara‑negara berkembang lain. Ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai hub energi bersih di kawasan Asia‑Pasifik, sekaligus menciptakan ekosistem industri pendukung – dari manufaktur turbin hingga layanan pemeliharaan – yang dapat menambah nilai tambah signifikan pada PDB nasional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa kapasitas panas bumi yang sudah terpasang di Indonesia?
    A: Saat ini sekitar 727 MW, atau hanya 11‑12 % dari potensi total yang diperkirakan mencapai lebih dari 20 GW.
  • Q: Apa keuntungan utama panas bumi dibandingkan energi surya atau angin?
    A: Panas bumi menghasilkan listrik secara kontinu (baseload) tanpa tergantung pada kondisi cuaca, sehingga lebih stabil untuk jaringan listrik.
  • Q: Bagaimana PGE akan membiayai target 3 GW?
    A: PGE berencana menggabungkan pendanaan internal, obligasi hijau, serta kerjasama dengan lembaga keuangan internasional yang mendukung proyek energi bersih.
Meow! Tanya Nesi!
😸