Anindya Bakrie Pujian Pengunduran Diri Perry Warjiyo: Implikasi Besar bagi QRIS dan Masa Depan Bank Indonesia
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- Ketua Kadin Anindya Bakrie menghormati keputusan Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia.
- Warjiyo dipuji atas stabilitas moneter dan peluncuran QRIS yang kini meluas ke pasar ASEAN.
- Kadin menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan agar transformasi sistem pembayaran tetap berkelanjutan.
Jakarta â Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Anindya Bakrie menyatakan rasa hormatnya terhadap keputusan Perry Warjiyo untuk mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI). Menurut Anindya, pengunduran diri tersebut merupakan hak pribadi yang harus dihargai, sekaligus menegaskan kontribusi Warjiyo dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional selama delapan tahun memimpin bank sentral.
âPengunduran diri Pak Perry, seperti yang dijelaskannya, adalah keputusan pribadi dengan alasan pribadi. Kita menghormati keputusan beliau,â kata Anindya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Senin (27/7/2026). Ia menambahkan bahwa hubungan KadinâBI tetap solid, terbukti dari dua kali pertemuan diskusi yang membahas isuâisu aktual, terutama dukungan kebijakan moneter bagi dunia usaha.
Salah satu warisan paling menonjol Warjiyo adalah peluncuran QRIS pada 17 Agustus 2019, yang menyatukan standar pembayaran digital di dalam negeri. QRIS kini tidak hanya menjadi tulang punggung transaksi domestik, tetapi juga mulai diadopsi di tiga negara ASEAN â Thailand, Malaysia, dan Singapura â membuka peluang bagi Indonesia menjadi hub pembayaran lintasâbatas di kawasan.
âKadin mengapresiasi semua jasa Pak Perry dalam menjaga stabilitas moneter. Keberhasilan QRIS adalah bukti nyata transformasi sistem pembayaran nasional yang terus berlanjut,â ujar Anindya. Ia menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan agar momentum digitalisasi keuangan tidak terhenti ketika kepemimpinan BI berganti.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat pengunduran diri Warjiyo sebagai momen kritis bagi kebijakan moneter Indonesia. Selama masa jabatannya, BI berhasil menurunkan inflasi ke level terendah dalam dekade terakhir dan menjaga nilai tukar rupiah relatif stabil meski terjadi gejolak eksternal. Keberhasilan ini tidak lepas dari kebijakan suku bunga yang responsif serta koordinasi erat dengan sektor riil melalui forum KadinâBI.
Namun, tantangan yang lebih besar kini berada pada fase pascaâWarjiyo: menjaga kredibilitas kebijakan moneter di tengah tekanan global seperti pengetatan kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve dan volatilitas harga komoditas. Pengganti Warjiyo harus mampu menyeimbangkan antara menjaga inflasi tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang masih dipengaruhi oleh pemulihan pascaâpandemi.
Di sisi lain, QRIS telah menjadi aset strategis bagi Indonesia. Dengan adopsi lintasânegara, QRIS dapat menjadi pintu gerbang bagi ekosistem fintech ASEAN yang terintegrasi. Namun, untuk memaksimalkan potensi ini, regulator perlu memperkuat standar keamanan siber, memperluas jaringan merchant, dan memastikan interoperabilitas dengan sistem pembayaran lain seperti UPI (India) atau PayNow (Singapura). Tanpa langkah tersebut, QRIS berisiko menjadi âpembayaran siloâ yang hanya berfungsi di pasar domestik.
Terakhir, hubungan KadinâBI harus terus dipertahankan. Kadin memiliki akses langsung ke pelaku usaha yang dapat memberikan umpan balik realâtime mengenai dampak kebijakan moneter. Sinergi ini penting untuk menghindari kebijakan yang terkesan âtopâdownâ dan meningkatkan efektivitas stimulus fiskal serta moneter di masa depan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa Perry Warjiyo mengundurkan diri?
A: Warjiyo menyatakan alasan pribadi dan memilih untuk mengakhiri masa jabatan delapan tahun sebagai Gubernur Bank Indonesia. - Q: Apa dampak pengunduran diri Warjiyo terhadap kebijakan moneter?
A: Kebijakan moneter akan tetap berlanjut dengan fokus pada stabilitas inflasi dan nilai tukar, namun transisi kepemimpinan dapat menimbulkan ketidakpastian jangka pendek. - Q: Bagaimana QRIS dapat memperluas penggunaan di luar Indonesia?
A: QRIS sudah mulai diadopsi di Thailand, Malaysia, dan Singapura; keberhasilan ekspansi selanjutnya bergantung pada standar keamanan, interoperabilitas, dan dukungan regulasi regional.


