Ribuan Triliun Dolar Terkuras: Amerika Gagal Menundukkan Iran Meski Anggaran Mencapai Rp672 Triliun

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ribuan Triliun Dolar Terkuras: Amerika Gagal Menundukkan Iran Meski Anggaran Mencapai Rp672 Triliun
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Amerika Serikat telah menghabiskan US$37,5 miliar (sekitar Rp672 triliun) untuk operasi militer di Iran.
  • Pete Hegseth meminta tambahan US$67 miliar serta anggaran US$1,5 triliun untuk Departemen Pertahanan pada tahun fiskal berikutnya.
  • Donald Trump mengindikasikan kemungkinan serangan besar‑besaran, sementara Iran mengumumkan masuknya fase baru dalam konflik.

Dalam sebuah dengar pendapat dengan anggota Kongres di Washington pada Selasa (21/7), Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, mengungkapkan total pengeluaran militer di Iran mencapai US$37,5 miliar atau setara Rp672 triliun. Angka tersebut mencakup operasi udara, penempatan pasukan, serta dukungan logistik yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Selain menginformasikan total biaya, Hegseth menekankan kebutuhan mendesak untuk tambahan dana sebesar US$67 miliar guna menutupi biaya operasional yang terus meningkat dan mengisi kembali persediaan militer yang terkuras. Ia juga mengajukan permohonan anggaran sebesar US$1,5 triliun untuk Departemen Pertahanan pada tahun fiskal berikutnya, menandakan bahwa konflik Iran dipandang sebagai komponen strategis jangka panjang dalam kebijakan keamanan Amerika.

Presiden Donald Trump memperkuat nada agresifnya dalam sebuah wawancara dengan Axios pada Kamis (23/7). Trump menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan "serangan besar‑besaran" yang akan jauh "lebih besar dari sebelumnya" dan menegaskan kesiapan pasukannya. Ia menambahkan bahwa Israel siap bergabung dalam operasi dalam hitungan menit bila diminta, meskipun menegaskan bahwa Amerika tidak memerlukan sekutu lain untuk melaksanakan rencana tersebut.

Di sisi lain, Angkatan Bersenjata Iran melalui juru bicara Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menegaskan bahwa Iran telah memasuki fase baru dalam perang melawan Amerika Serikat. Akraminia menyatakan bahwa operasi pembalasan akan terus berlanjut selama serangan AS terhadap infrastruktur dan wilayah pesisir Iran berlangsung, serta menambahkan bahwa masa gencatan senjata sebelumnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesiapan tempur pasukan Iran.

Para analis strategis, termasuk Mick Ryan dari CSIS dan Lowy Institute Australia, memperingatkan bahwa definisi "kemenangan" bagi Amerika Serikat semakin kabur. Menurut Ryan, kemenangan militer harus dipadukan dengan tujuan jangka panjang di bidang ekonomi, diplomasi, dan sosial, serta harus menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan. Tanpa pendekatan yang holistik, konflik ini berisiko memperpanjang ketegangan regional dan menimbulkan biaya manusia serta finansial yang jauh lebih besar.

Analisis Pakar

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menyoroti dilema klasik dalam kebijakan luar negeri: apakah kekuatan militer dapat secara efektif memaksa perubahan rezim di negara yang memiliki struktur politik dan sosial yang kompleks? Sejarah menunjukkan bahwa intervensi militer tanpa dukungan politik domestik yang kuat sering kali menghasilkan hasil yang kontraproduktif. Dalam konteks Iran, rezim teokratik telah mengembangkan jaringan loyalitas yang mendalam di antara militer, pasukan paramiliter, dan masyarakat yang dipengaruhi oleh narasi anti‑Barat. Oleh karena itu, upaya "menghancurkan infrastruktur nuklir" atau "menurunkan kapasitas angkatan laut" tidak serta merta memicu perubahan rezim, melainkan dapat memperkuat narasi perlawanan dan meningkatkan sentimen anti‑Amerika.

Permintaan anggaran tambahan sebesar US$67 miliar dan US$1,5 triliun untuk tahun fiskal berikutnya mencerminkan ambisi strategis Washington untuk mempertahankan kehadiran militer yang luas di Timur Tengah. Namun, alokasi sumber daya sebesar itu menimbulkan pertanyaan tentang prioritas fiskal Amerika, terutama mengingat beban utang nasional yang terus meningkat. Kebijakan belanja militer yang berkelanjutan tanpa evaluasi hasil yang objektif dapat menurunkan kepercayaan publik dan mengalihkan dana yang seharusnya dialokasikan untuk infrastruktur domestik, pendidikan, atau kesehatan.

Di tingkat regional, sinyal bahwa Israel siap bergabung dalam operasi militer menambah dimensi geopolitik yang sensitif. Keterlibatan Israel dapat memicu reaksi balasan tidak hanya dari Iran, tetapi juga dari sekutu‑sekutunya seperti Rusia dan China, yang telah menegaskan dukungan mereka terhadap kedaulatan Iran. Konflik yang melibatkan banyak aktor dapat dengan cepat meluas menjadi perang proksi yang melibatkan wilayah‑wilayah strategis seperti Selat Hormuz, mengancam jalur perdagangan minyak global.

Terakhir, pernyataan Mick Ryan tentang perlunya "menang perang serta memenangkan perdamaian" menekankan pentingnya strategi yang terintegrasi. Keberhasilan jangka panjang tidak dapat diukur hanya dari penghancuran fasilitas militer lawan, melainkan dari kemampuan menciptakan kerangka diplomatik yang memungkinkan Iran berpartisipasi dalam sistem keamanan regional yang inklusif. Tanpa upaya diplomatik yang seimbang, konflik ini berpotensi berlarut‑larut, menambah beban ekonomi bagi semua pihak dan meningkatkan risiko eskalasi nuklir.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa total biaya yang telah dikeluarkan Amerika Serikat untuk operasi militer di Iran?
    A: Hingga 21 Juli 2024, total pengeluaran diperkirakan mencapai US$37,5 miliar atau sekitar Rp672 triliun.
  • Q: Apa saja permintaan anggaran tambahan yang diajukan oleh Menteri Pertahanan AS?
    A: Pete Hegseth meminta tambahan US$67 miliar untuk menutupi biaya konflik Iran serta US$1,5 triliun untuk anggaran Departemen Pertahanan pada tahun fiskal berikutnya.
  • Q: Bagaimana Iran menanggapi peningkatan tekanan militer Amerika?
    A: Iran menyatakan bahwa mereka telah memasuki fase baru dalam perang, meningkatkan kesiapan tempur, dan akan melanjutkan operasi pembalasan selama serangan AS terhadap infrastruktur Iran berlangsung.
Meow! Tanya Nesi!
😸