ANTAM Turunkan Emisi Karbon 9,43% lewat Energi Terbarukan: Peluang Bisnis Hijau Meningkat

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

ANTAM Turunkan Emisi Karbon 9,43% lewat Energi Terbarukan: Peluang Bisnis Hijau Meningkat
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • ANTAM berhasil menurunkan emisi karbon 9,43% pada 2025, melampaui target yang ditetapkan.
  • Penggunaan solar photovoltaic dan biosolar mempercepat dekarbonisasi operasional tambang.
  • Gerak Hijau 2026 menampilkan aksi penanaman 5.000 bibit mangrove serta kolaborasi pemerintah dan swasta.

Jakarta, ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) mengumumkan penurunan emisi karbon sebesar 9,43% pada tahun 2025, melampaui target internal perusahaan. Hingga pertengahan 2026, realisasi penurunan emisi terus berada di atas target tahunan berkat percepatan program efisiensi energi dan peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan.

Direktur Utama Untung Budiharto menegaskan bahwa capaian ini merupakan bagian integral dari strategi dekarbonisasi perusahaan. "Kami mengoptimalkan penggunaan energi dan meningkatkan pemanfaatan energi ramah lingkungan, termasuk solar photovoltaic dan biosolar di seluruh wilayah operasional," ujarnya dalam acara Gerak Hijau 2026 di Jakarta pada 26 Juli 2026.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, memuji inisiatif ANTAM, menyoroti bahwa pertambangan dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. "ANTAM tidak hanya melampaui target reklamasi dan penurunan emisi, tetapi juga aktif menanam ribuan bibit pohon untuk masyarakat," katanya, sambil menambahkan harapan agar bibit tersebut tidak hanya berakhir di bagasi mobil.

Gerak Hijau 2026, yang sekaligus memperingati HUT ke-58 ANTAM, mencakup penanaman 5.000 bibit mangrove sebagai bagian dari rehabilitasi ekosistem pesisir dan upaya penyerapan karbon. Kegiatan lain meliputi Fun Walk, edukasi pengelolaan sampah, bazar UMKM, program Junior Miners, serta kampanye gaya hidup berkelanjutan.

Analisis Pakar

Penurunan emisi sebesar 9,43% dalam satu tahun merupakan sinyal kuat bahwa sektor pertambangan Indonesia mulai menginternalisasi biaya lingkungan ke dalam model bisnisnya. Dari perspektif makroekonomi, transisi ke energi terbarukan di industri berat dapat mengurangi volatilitas biaya operasional yang sebelumnya dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan bakar fosil. Hal ini memberi keunggulan kompetitif bagi perusahaan seperti ANTAM dalam menarik investasi ESG (Environmental, Social, Governance) yang kini menjadi kriteria utama bagi dana internasional.

Penggunaan solar photovoltaic dan biosolar tidak hanya menurunkan jejak karbon, tetapi juga membuka peluang pasar baru. Misalnya, surplus listrik dari panel surya dapat dijual kembali ke jaringan nasional, menghasilkan aliran pendapatan tambahan. Selain itu, teknologi biosolar—yang memanfaatkan limbah organik dari proses penambangan—menunjukkan potensi circular economy, mengurangi limbah sekaligus menghasilkan bahan bakar alternatif.

Namun, tantangan tetap ada. Investasi awal untuk infrastruktur energi terbarukan masih tinggi, dan regulasi tarif listrik serta insentif fiskal harus lebih konsisten untuk memastikan ROI yang menarik. Pemerintah perlu memperkuat kerangka kebijakan yang memfasilitasi skema pembiayaan hijau, seperti green bonds, agar perusahaan tambang dapat mengakses modal dengan biaya lebih rendah.

Secara keseluruhan, langkah ANTAM dapat menjadi benchmark bagi pemain lain di sektor pertambangan. Jika tren ini berlanjut, kita dapat mengharapkan peningkatan nilai pasar perusahaan tambang Indonesia, sekaligus kontribusi signifikan terhadap target nasional pengurangan emisi karbon pada 2030.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa target emisi karbon ANTAM untuk tahun 2027?
    A: ANTAM menargetkan penurunan tambahan sekitar 5-7% dibandingkan tahun 2026, dengan fokus pada ekspansi solar PV dan biosolar.
  • Q: Bagaimana dampak penurunan emisi ini terhadap nilai saham ANTAM?
    A: Penurunan emisi meningkatkan profil ESG perusahaan, yang biasanya menarik investor institusional, sehingga dapat mendukung kenaikan harga saham dalam jangka menengah.
  • Q: Apakah program penanaman mangrove akan berkontribusi pada komitmen iklim Indonesia?
    A: Ya, penanaman 5.000 bibit mangrove membantu meningkatkan penyerapan CO₂ dan memperkuat ekosistem pesisir, selaras dengan target Indonesia dalam Paris Agreement.
Meow! Tanya Nesi!
😸