The Odyssey: Film Spektakuler yang Bikin Antusias, Tapi Hanya Segelintir yang Bisa Nikmati Versi Asli!

Selebriti
Nadia PutriNadia Putri
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

The Odyssey: Film Spektakuler yang Bikin Antusias, Tapi Hanya Segelintir yang Bisa Nikmati Versi Asli!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Film The Odyssey langsung sold out di bioskop IMAX dunia.
  • Hanya 41 bioskop yang pakai IMAX 70mm dapat menayangkan versi ultra‑high‑definiton.
  • Penonton di Indonesia dan India terpaksa menonton versi terpotong, memicu kritik ‘elitisme’ film.

Siapa yang tidak terpesona melihat Christopher Nolan kembali menggebrak layar lebar dengan The Odyssey? Film terbarunya ini memang berhasil memikat hati penonton global, hingga tiket IMAX habis terjual berbulan‑bulan sebelum premiere. Bahkan, beberapa studio harus menambah jadwal tayang hingga larut malam hanya untuk mengakomodasi antusiasme yang luar biasa.

Keistimewaan utama film ini? Nolan menjadi sutradara pertama yang merekam seluruh film menggunakan kamera IMAX 70mm beresolusi super tinggi. Kamera khusus yang dikembangkan bersama IMAX ini menjanjikan gambar yang lebih tajam, warna yang lebih hidup, dan pengalaman menonton yang hampir terasa tiga dimensi.

Sayangnya, keajaiban visual ini hanya dapat dinikmati di 41 bioskop dunia yang memang dilengkapi proyektor IMAX 70mm. Lebih dari separuhnya berada di Amerika Serikat, sementara negara‑negara seperti Indonesia dan India masih mengandalkan sistem proyeksi digital standar. Akibatnya, penonton di sana hanya melihat versi yang dipotong (cropped), kehilangan detail komposisi yang dirancang teliti oleh Nolan.

Keluhan pun mengalir deras di media sosial. Seorang pengguna X menulis, “Hanya segelintir orang yang benar‑benar bisa menikmati visi Nolan. Ini tidak adil!” Sementara kreator TikTok dan Instagram mengolok‑olok pengalaman menonton di layar kecil atau sambil multitasking, menambah bumbu satire pada perdebatan ini.

Nolan sendiri mengakui tantangan produksi yang luar biasa, namun menegaskan bahwa “Film ini memang sulit dibuat, dan itu memang harusnya begitu. Ini The Odyssey, jadi prosesnya memang penuh tantangan, dan itu tidak masalah.”

Analisis Pakar

Sebagai editor hiburan yang selalu mengamati dinamika industri film, saya melihat fenomena ini sebagai cerminan dua kutub yang saling bertolak belakang: inovasi teknologi tinggi vs. aksesibilitas massal. Di satu sisi, keberanian Nolan untuk mengusung format IMAX 70mm merupakan langkah artistik yang patut diacungi jempol. Ia menolak kompromi visual, menantang standar produksi yang sudah mapan, dan memberi penonton pengalaman sinematik yang hampir tidak pernah ada sebelumnya.

Namun, ketika inovasi tersebut menutup pintu bagi mayoritas penonton, pertanyaannya menjadi: Apakah seni harus selalu eksklusif? Kritik yang muncul dari jurnalis seperti Harsh Tiwari bukan sekadar seruan “lebih banyak bioskop”, melainkan panggilan untuk menyeimbangkan ambisi kreatif dengan tanggung jawab sosial. Film yang dirancang untuk 70mm akan kehilangan esensinya bila hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang yang berada di kota‑kota besar dengan infrastruktur khusus.

Di Indonesia, meski sudah ada jaringan IMAX digital, belum ada investasi untuk proyektor 70mm. Hal ini menandakan adanya kesenjangan teknologi yang belum teratasi, yang pada gilirannya memperparah persepsi elitisme. Pemerintah dan pemilik bioskop sebaiknya melihat peluang ini sebagai ajakan untuk memperluas kapasitas, bukan sekadar menutup celah pasar.

Terakhir, saya percaya bahwa era streaming dan platform digital tidak harus menjadi musuh bagi format sinematik premium. Justru, kolaborasi antara studio besar, produsen kamera, dan platform streaming dapat menciptakan versi “home‑theater” yang mendekati kualitas IMAX, sehingga visi Nolan tidak lagi terbatas pada ruang bioskop tertentu. Inovasi selanjutnya mungkin bukan hanya tentang ukuran layar, melainkan tentang cara kita membawa pengalaman sinema ke ruang tamu setiap orang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa perbedaan antara IMAX 70mm dan IMAX digital?
  • A: IMAX 70mm menggunakan film fisik berukuran 70mm yang menghasilkan gambar lebih tajam, kontras tinggi, dan detail yang tidak dapat dicapai oleh proyeksi digital standar.
  • Q: Mengapa The Odyssey tidak dapat ditayangkan di semua bioskop IMAX?
  • A: Karena hanya 41 bioskop di dunia yang dilengkapi proyektor khusus IMAX 70mm; sisanya hanya memiliki sistem digital yang tidak kompatibel dengan format asli film.
  • Q: Apakah ada rencana untuk membawa IMAX 70mm ke Indonesia?
  • A: Hingga kini belum ada pengumuman resmi, namun para pengamat industri berharap investasi ini akan muncul seiring meningkatnya permintaan penonton akan pengalaman sinema premium.
Meow! Tanya Nesi!
😸