Pertamina Patra Niaga Gencarkan Biogasoline, Langkah Strategis Kurangi Impor Bensin

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Pertamina Patra Niaga Gencarkan Biogasoline, Langkah Strategis Kurangi Impor Bensin
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • PT Pertamina Patra Niaga targetkan penurunan impor bensin lewat pengembangan biogasoline di kilang Cilacap dan Balongan.
  • Perusahaan juga berinvestasi pada greenrefinery untuk memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
  • Kementerian ESDM bersiap kenalkan bensin beretanol E10, lalu E20, sambil membangun industri bioetanol domestik berbasis singkong, tebu, dan jagung.

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan strategi ambisius untuk mengurangi ketergantungan impor bensin dengan memanfaatkan teknologi biogasoline di kilang dalam negeri. Wakil Direktur Utama, Taufik Aditiyawarman, menegaskan bahwa mayoritas BBM impor saat ini adalah bensin, sehingga perusahaan tengah menguji proses co‑processing biogasoline di kilang Cilacap dan Balongan.

ā€œUntuk menutup kesenjangan kebutuhan gasoline, kami sedang eksplorasi co‑processing biogasoline di refinery yang ada,ā€ ujar Taufik dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia, Sabtu (25/7/2026). Langkah ini sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus memaksimalkan kapasitas kilang yang sudah mencapai 1,2 juta barel per hari.

Selain biogasoline, Pertamina Patra Niaga juga menambah investasi pada green refinery. Fokus utama berada di kilang Cilacap untuk memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan Sustainable Aviation Fuel (SAF), dua produk yang menandai transisi energi bersih di sektor transportasi udara.

Di sisi regulasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan kebijakan bensin beretanol E10, dengan target bertahap menuju E20. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa bioetanol akan diproduksi secara domestik, memanfaatkan bahan baku seperti singkong, tebu, dan jagung, guna menghindari impor.

ā€œSetelah etanol mandatory, kita dapat menghemat impor BBM, khususnya bensin,ā€ kata Bahlil di Istana Negara, Selasa (21/7/2026). Pemerintah menargetkan pembangunan industri bioetanol dalam satu hingga dua tahun ke depan sebelum meluncurkan E20 secara wajib.

Analisis Pakar

Strategi Pertamina Patra Niaga ini bukan sekadar respons teknis, melainkan langkah bisnis yang mengantisipasi volatilitas pasar global. Dengan mengalihkan sebagian produksi bensin ke biogasoline, perusahaan tidak hanya mengurangi beban impor, tetapi juga menyiapkan portofolio produk yang lebih ramah lingkungan—sesuai dengan tren ESG (Environmental, Social, Governance) yang kini menjadi penilaian utama investor institusional.

Investasi pada HVO dan SAF di kilang Cilacap menandakan diversifikasi ke segmen premium yang masih relatif niche di Indonesia, namun memiliki margin keuntungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan bensin konvensional. Hal ini dapat meningkatkan profitabilitas sekaligus memperkuat posisi Pertamina sebagai pemain utama dalam transisi energi hijau.

Namun, tantangan utama terletak pada skala produksi dan ketersediaan bahan baku. Bioetanol berbasis singkong, tebu, atau jagung memerlukan rantai pasokan yang terintegrasi dengan sektor pertanian. Pemerintah harus memastikan kebijakan subsidi atau insentif yang memadai agar petani tidak terdorong ke pasar internasional yang lebih menguntungkan, yang pada akhirnya dapat menimbulkan defisit pasokan domestik.

Jika kebijakan E10 dan E20 dapat diimplementasikan secara konsisten, serta dukungan infrastruktur distribusi di daerah 3T (terpencil, terluar, tertinggal) terjamin, maka efek pengurangan impor bensin akan terasa dalam jangka menengah. Kombinasi kebijakan fiskal, dukungan riset‑pengembangan, dan kolaborasi lintas sektor akan menjadi kunci keberhasilan strategi ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu biogasoline dan bagaimana prosesnya di kilang?
    A: Biogasoline adalah bahan bakar bensin yang diproduksi dengan mencampurkan biofuel (seperti bioetanol) ke dalam proses refining. Co‑processing di kilang memungkinkan pencampuran ini tanpa mengubah infrastruktur utama.
  • Q: Kapan E10 dan E20 akan mulai diberlakukan di Indonesia?
    A: Pemerintah menargetkan peluncuran bertahap E10 dalam beberapa bulan ke depan, diikuti oleh E20 setelah industri bioetanol domestik terbentuk (diperkirakan 1‑2 tahun lagi).
  • Q: Apa manfaat HVO dan SAF bagi industri energi Indonesia?
    A: HVO dan SAF merupakan bahan bakar nabati yang memiliki emisi COā‚‚ lebih rendah dibandingkan diesel atau avtur konvensional, membuka peluang pasar premium dan meningkatkan nilai tambah ekspor energi bersih.
Meow! Tanya Nesi!
😸