Panas Bumi Siap Gantikan PLTU: PGE Target 3 GW untuk Kemandirian Energi Indonesia
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Pertamina Geothermal Energy (PGE) menargetkan kapasitas terpasang 3 GW dari 727 MW saat ini.
- Panas bumi dijanjikan sebagai sumber baseload yang stabil, tidak tergantung cuaca, dan sepenuhnya indigenous.
- Proyek utama meliputi PLTP Lumut Balai Unit 3, eksplorasi di Gunung 3 Lampung, dan persiapan pengeboran di Kotamobagu.
Jakarta – Pertamina Geothermal Energy (PGE) memperkuat argumen bahwa panas bumi dapat menjadi tulang punggung PLTU berbasis batu bara dalam rangka transisi energi bersih Indonesia. Direktur Eksplorasi dan Pengembangan, Edwil Suzandi, menegaskan bahwa stabilitas pasokan panas bumi hampir setara dengan energi fosil karena tidak terpengaruh oleh faktor cuaca atau waktu.
"Panas bumi berperilaku seperti energi fosil – ia dapat menjadi support bagi baseload, menghasilkan listrik secara konsisten siang‑malam tanpa gangguan cuaca," ujarnya dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, Jumat (24/7/2026). Karakteristik ini menjadikannya lebih unggul dibandingkan energi terbarukan intermiten seperti surya atau angin.
Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar ke‑empat di dunia, namun baru 11‑12 % dari total potensi yang telah terpakai. PGE bertekad meningkatkan kapasitas terpasang dari 727 MW kini menjadi 3 GW, sebuah ambisi yang sekaligus menargetkan posisi nomor satu dunia dalam kapasitas panas bumi.
Untuk mencapainya, perusahaan mempercepat proyek Lumut Balai Unit 3 di Muara Enim, Sumatra Selatan, serta melakukan eksplorasi di Gunung 3 Lampung dan persiapan pengeboran di Kotamobagu, Sulawesi Utara. "Beberapa proyek sedang dibahas dengan PLN; dalam beberapa hari ke depan kami berharap dapat menandatangani perjanjian yang menambah kapasitas sekitar 45 MW," tambah Suzandi.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat dua implikasi utama dari strategi PGE. Pertama, diversifikasi sumber energi berbasis indigenous resource mengurangi ketergantungan pada impor batu bara dan gas, yang pada gilirannya menurunkan defisit perdagangan energi. Kedua, kapasitas baseload yang stabil dari panas bumi dapat menurunkan biaya marginal listrik (LMP) di pasar spot, memberikan sinyal positif bagi investor swasta yang selama ini ragu karena volatilitas harga energi terbarukan.
Namun, realisasi target 3 GW tidak otomatis. Tantangan regulasi, terutama perizinan lahan dan hak atas sumber daya, masih menjadi bottleneck. Pemerintah perlu menyederhanakan proses EIA dan memberikan insentif fiskal yang kompetitif, misalnya tax holiday atau feed‑in tariff khusus untuk proyek panas bumi skala besar.
Selanjutnya, integrasi panas bumi ke dalam sistem kelistrikan nasional harus diiringi dengan upgrade jaringan transmisi. Tanpa jaringan yang memadai, tambahan kapasitas di Sumatra Selatan atau Sulawesi Utara tidak akan dapat dimanfaatkan secara optimal di Jawa‑Bali, pusat beban listrik terbesar. Kolaborasi antara PGE, PLN, dan Kementerian Energi menjadi kunci.
Terakhir, dari perspektif pasar modal, komitmen ambisius PGE dapat meningkatkan valuasi sahamnya, terutama bila perusahaan berhasil mengamankan kontrak jangka panjang (PPA) dengan harga yang mengunci margin keuntungan. Investor institusional yang mengutamakan ESG akan melihat proyek panas bumi sebagai aset “green” yang memenuhi kriteria keberlanjutan tanpa risiko intermitensi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa potensi panas bumi Indonesia secara keseluruhan?
A: Sekitar 28 GW, namun baru sekitar 3 GW yang sudah terpasang. - Q: Mengapa panas bumi dianggap lebih stabil dibandingkan energi surya atau angin?
A: Karena panas bumi menghasilkan listrik secara konstan 24 jam sehari, tidak dipengaruhi oleh cuaca atau waktu. - Q: Apa saja hambatan utama dalam pengembangan panas bumi di Indonesia?
A: Proses perizinan yang panjang, kebutuhan investasi infrastruktur transmisi, dan kurangnya insentif fiskal yang kompetitif.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Catat 23 UKM Siap IPO di 2027 Setelah Ikuti Program Pendampingan

Rapat Koordinasi Kemenko Perekonomian Bahas Percepatan Implementasi Kredit Perempuan Prasejahtera dan Penurunan Bunga Pinjaman

BEI Resmi Keluarkan Saham HSC dari IHSG, Pasar Diprediksi Stabil Tanpa Gejolak
