Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Perairan Selatan Filipina, Getaran Terasa Hingga Wilayah Perbatasan Indonesia

Bencana
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Perairan Selatan Filipina, Getaran Terasa Hingga Wilayah Perbatasan Indonesia
BAGIKAN:

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi dengan magnitudo 4,9 pada Kamis, 24 Juli 2026, pukul 22.06.27 WIB. Episenter gempa terletak di koordinat 5,2° LU dan 125,4° BT, tepatnya 54 kilometer arah selatan dari Sarangani, Filipina, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Gempa ini termasuk kategori dangkal akibat aktivitas sesar aktif di zona kompleks pertemuan lempeng Laut Filipina dan Lempeng Sunda.

Getaran gempa dirasakan di beberapa wilayah di Indonesia bagian utara, terutama di Kepulauan Talaud dan sebagian Sulawesi Utara, dengan skala intensitas II hingga III MMI (Modified Mercalli Intensity). Meskipun magnitudo tergolong sedang, masyarakat di pesisir diminta tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa. BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami karena magnitudo di bawah 7,0 dan mekanisme sumbernya berupa sesar mendatar.

Analisis Pakar Geofisika

Gempa ini dipicu oleh aktivitas Sesar Filipina (Philippine Fault) segmen selatan yang memotong Laut Sulawesi. Sesar ini merupakan patahan strike-slip dekstral dengan laju geser sekitar 2–3 cm per tahun, hasil dari interaksi kompleks antara Lempeng Laut Filipina yang menunjam ke barat dan Lempeng Sunda yang relatif diam. Secara historis, wilayah ini mencatat gempa signifikan, seperti gempa M 7,2 pada tahun 1918 dan M 6,9 pada tahun 2002, yang juga berasal dari segmen sesar yang sama. Meskipun magnitudo 4,9 tidak cukup besar untuk membangkitkan tsunami, perlu dicatat bahwa zona subduksi ganda di sekitar Mindanao dan Sulawesi Utara menyimpan potensi gempa megathrust. Namun, gempa kali ini bersifat dangkal dan mekanisme geser, sehingga risiko tsunami sangat rendah. Potensi gempa susulan diperkirakan kecil, dengan magnitudo lebih rendah, dan masyarakat diimbau untuk tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab. Pemantauan terus dilakukan oleh BMKG dan PHIVOLCS untuk mengantisipasi aktivitas seismik lanjutan. Sebagai perbandingan, gempa M5,1 di Laut Filipina yang terjadi beberapa hari sebelumnya juga menunjukkan pola aktivitas seismik serupa di kawasan ini. Sementara itu, gempa M 4,9 di barat laut Sugal, Filipina juga tercatat tidak menimbulkan kerusakan signifikan, menegaskan karakteristik gempa dangkal berkekuatan sedang di wilayah Filipina dan sekitarnya.

Meow! Tanya Nesi!
😸