China dan AS Dapat Pengecualian DHE SDA: Dampak Besar pada Nilai Tukar dan Investasi Indonesia
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- China dan Amerika Serikat masuk dalam daftar negara yang mendapat pengecualian kebijakan penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA).
- Pengumuman resmi akan dilengkapi oleh Airlangga Hartarto selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
- Pengecualian ini dapat memengaruhi aliran devisa, nilai tukar rupiah, serta strategi investasi asing di Indonesia.
Jakarta, CNBC Indonesia â Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, mengonfirmasi bahwa China akan menjadi salah satu negara yang memperoleh pengecualian dalam kebijakan penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA). Kebijakan ini sebelumnya hanya berlaku untuk penempatan devisa di dalam negeri, namun kini ada celah khusus bagi dua ekonomi terbesar dunia.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, daftar lengkap negara pengecualian akan diumumkan dalam waktu dekat. Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan arus devisa, mengurangi tekanan pada pasar valuta asing, serta meningkatkan kepercayaan investor asing yang menilai kebijakan moneter Indonesia semakin fleksibel.
Pengumuman ini disampaikan dalam program Power Lunch CNBC Indonesia pada Jumat, 24 Juli 2026. Pemerintah menegaskan bahwa pengecualian tidak mengubah prinsip dasar DHE SDA, melainkan menyesuaikan dengan realitas perdagangan global dan kebutuhan likuiditas negara.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat tiga implikasi utama dari keputusan ini. Pertama, pengecualian bagi China dan AS dapat mempercepat repatriasi devisa dari sektor pertambangan dan energi, yang selama ini terikat pada aturan penempatan dalam negeri. Hal ini memberi ruang bagi perusahaan multinasional untuk mengoptimalkan struktur modal mereka, sekaligus mengurangi beban administrasi.
Kedua, aliran devisa yang lebih bebas ke luar negeri berpotensi menurunkan tekanan apresiasi rupiah. Dengan lebih banyak dolar atau yuan masuk ke pasar spot, Bank Indonesia dapat menyesuaikan intervensi secara lebih selektif, menjaga stabilitas nilai tukar dalam menghadapi volatilitas pasar global.
Ketiga, kebijakan ini dapat menjadi sinyal positif bagi investor institusional. Pengecualian menunjukkan bahwa pemerintah siap bernegosiasi dengan mitra dagang utama, membuka peluang bagi perjanjian swap mata uang atau fasilitas likuiditas lintasâbatas yang dapat menurunkan biaya pembiayaan bagi proyek infrastruktur dan energi.
Namun, ada risiko yang tak boleh diabaikan. Jika pengecualian tidak diimbangi dengan pengawasan yang ketat, ada potensi arus keluar devisa yang tidak produktif, terutama bila perusahaan menggunakan celah ini untuk arbitrase spekulatif. Oleh karena itu, transparansi dalam pelaporan dan mekanisme audit menjadi kunci untuk memastikan bahwa manfaat kebijakan ini benarâbenar dirasakan oleh perekonomian nasional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu DHE SDA?
A: DHE SDA adalah kebijakan penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam yang mengharuskan perusahaan menempatkan sebagian atau seluruh devisa di dalam negeri. - Q: Mengapa China dan AS mendapat pengecualian?
A: Kedua negara merupakan mitra dagang terbesar Indonesia dalam sektor sumber daya alam, sehingga pengecualian dimaksudkan untuk mempermudah aliran devisa dan meningkatkan likuiditas pasar. - Q: Bagaimana pengecualian ini memengaruhi nilai tukar rupiah?
A: Dengan lebih banyak devisa yang dapat dipindahkan ke luar negeri, tekanan apresiasi rupiah berkurang, memberi ruang bagi Bank Indonesia mengelola nilai tukar secara lebih fleksibel.


