Sugiono Tekankan Peran Strategis Kemitraan ASEAN-China untuk Stabilitas dan Kesejahteraan Regional
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Minister Sugiono menegaskan pentingnya kemitraan ekonomi ASEAN‑China dalam memperkuat ketahanan kawasan.
- Ia menyerukan implementasi lebih lanjut RCEP dan ACFTA serta penyelesaian Code of Conduct di Laut Tiongkok Selatan.
- Pertemuan di Manila menandai 35 tahun hubungan kemitraan wicara ASEAN‑China dengan perdagangan mencapai US$772,4 miliar pada 2024.
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menegaskan bahwa kemitraan ekonomi yang kuat antara negara‑negara ASEAN dan China harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat luas, meningkatkan ketangguhan rantai pasok, serta memperkuat kemampuan kawasan menghadapi guncangan eksternal.
Dalam pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN dan China yang berlangsung di Manila pada Rabu (22/7), Sugiono menekankan bahwa skala hubungan kedua pihak harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang menyejahterakan warga, bukan sekadar angka perdagangan. Ia menambahkan bahwa kekuatan ekonomi kawasan tidak hanya diukur dari nilai total perdagangan, melainkan dari sejauh mana manfaat tersebut meresap ke pelaku usaha di luar pusat‑pusat pertumbuhan.
Indonesia juga mendorong agar Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan ASEAN‑China Free Trade Area (ACFTA) semakin memperkuat integrasi ekonomi yang praktis, siap menghadapi tantangan masa depan, termasuk volatilitas pasar global dan tekanan geopolitik. Dalam konteks ini, kerja sama maritim menjadi prioritas, mengingat perairan kawasan merupakan jalur utama perdagangan, konektivitas masyarakat, serta sumber ketahanan energi dan pangan.
Sugiono menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya penyelesaian Code of Conduct (CoC) di Laut Tiongkok Selatan secara efektif dan substantif pada tahun ini, berlandaskan pada hukum internasional, khususnya United Nations Convention on the Law the Sea (UNCLOS) 1982. Ia menegaskan bahwa sentralitas ASEAN harus menjadi landasan stabilitas kawasan di tengah meningkatnya rivalitas global.
Analisis Pakar
Secara strategis, pernyataan Sugiono mencerminkan upaya Indonesia untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan keamanan maritim dalam kerangka geopolitik yang semakin kompleks. Penguatan RCEP dan ACFTA tidak hanya memperluas akses pasar, tetapi juga menambah lapisan ketahanan ekonomi melalui diversifikasi rantai pasok yang selama ini sangat bergantung pada China. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengurangi risiko gangguan pasokan yang diakibatkan oleh konflik atau kebijakan proteksionis.
Namun, tantangan utama terletak pada implementasi Code of Conduct di Laut Tiongkok Selatan. Meskipun UNCLOS memberikan kerangka hukum yang jelas, kepentingan nasional masing‑masing negara anggota ASEAN sering kali bersifat kontradiktif, terutama ketika ada tekanan dari Beijing. Keberhasilan CoC akan sangat bergantung pada kemampuan ASEAN untuk menyatukan suara, mengatasi perbedaan internal, dan menegakkan aturan secara konsisten.
Di sisi lain, penekanan pada manfaat bagi masyarakat luas menandakan pergeseran narasi dari sekadar pertumbuhan angka ke inklusivitas. Ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang menuntut bahwa perdagangan bebas harus diiringi dengan peningkatan kesejahteraan sosial, perlindungan lingkungan, dan penciptaan lapangan kerja. Jika kebijakan ekonomi dapat diintegrasikan dengan kebijakan sosial, ASEAN‑China dapat menjadi model kemitraan regional yang resilient.
Terakhir, peringatan tentang rivalitas global menegaskan pentingnya ASEAN sebagai “central pillar” stabilitas kawasan. Dalam konteks persaingan antara Amerika Serikat dan China, ASEAN memiliki ruang manuver untuk memainkan peran mediasi, asalkan tetap menjaga independensi kebijakan luar negeri dan mengedepankan prinsip‑prinsip hukum internasional. Keberhasilan strategi ini akan menjadi indikator utama apakah kemitraan ASEAN‑China dapat bertahan dan berkembang di era multipolaritas.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa saja manfaat konkret yang diharapkan dari kemitraan ASEAN‑China bagi masyarakat?
- A: Manfaatnya meliputi peningkatan lapangan kerja, harga barang yang lebih stabil, penguatan rantai pasok, serta akses yang lebih luas ke teknologi dan investasi.
- Q: Bagaimana progres penyelesaian Code of Conduct (CoC) di Laut Tiongkok Selatan?
- A: Negosiasi masih berlangsung; ASEAN menargetkan penyelesaian substantif pada akhir tahun ini, dengan fokus pada mekanisme penegakan yang berbasis UNCLOS.
- Q: Apa peran RCEP dalam memperkuat ketahanan ekonomi kawasan?
- A: RCEP menyediakan kerangka perdagangan yang lebih terintegrasi, mengurangi tarif, dan memfasilitasi standar regulasi yang memudahkan pergerakan barang, jasa, dan investasi antarnegara anggota.


