Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Krisis Air Bersih di Tangerang: 200 Keluarga Terpaksa Beli Air Selama Dua Bulan

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Krisis Air Bersih di Tangerang: 200 Keluarga Terpaksa Beli Air Selama Dua Bulan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Lebih dari 200 keluarga di Desa Kosambi Dalam, Tangerang, mengalami kekurangan air bersih selama dua bulan.
  • Keran rumah mengering, sumur tak lagi mengalir, dan warga terpaksa membeli air seharga Rp25.000 per gerobak setiap hari.
  • Palang Merah Indonesia Kabupaten Tangerang mengirimkan bantuan air melalui mobil tangki, namun bantuan belum bersifat rutin.

Musim kemarau ekstrem yang melanda Banten sejak akhir April 2024 telah menimbulkan kekeringan parah di Desa Kosambi Dalam, Kecamatan Mekarbaru, Kabupaten Tangerang. Selama dua bulan terakhir, lebih dari 200 rumah tangga tidak dapat mengakses air bersih dari sumur atau jaringan pipa. Beberapa keran bahkan tidak lagi mengeluarkan setetes air, memaksa warga mengandalkan pembelian air dalam jumlah besar.

"Dari beberapa minggu kemarin, sumur di rumah sudah sama sekali tidak mengeluarkan air," keluh Suratni, salah satu warga yang terdampak. Kebutuhan rata‑rata sebuah keluarga diperkirakan mencapai 200 liter per hari untuk minum, memasak, dan mencuci. Tanpa pasokan air, warga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp25.000 per gerobak—setara dengan kebutuhan harian satu keluarga.

Menanggapi situasi darurat, Palang Merah Indonesia Kabupaten Tangerang mengirimkan mobil tangki berisi air bersih. Kedatangan bantuan disambut oleh puluhan warga yang membawa galon, ember, dan drum untuk menampung air. "Harapannya suplai bantuan air bersih ini dikirim setiap hari, biar warga gak kekurangan," harap Suhernah, seorang ibu rumah tangga yang selama ini harus membeli air setiap hari.

Ketua RT 02 RW 02, Kustara, menegaskan bahwa krisis ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan kegagalan kebijakan daerah dalam mengantisipasi bencana iklim. "Selama dua bulan terakhir, warga mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan dasar," ujarnya. Ia menambahkan bahwa tidak ada alternatif sumber air bersih yang dapat diakses dengan mudah, sehingga warga terpaksa menanggung beban biaya yang semakin membebani ekonomi rumah tangga.

Analisis Pakar

Situasi yang terjadi di Kosambi Dalam menyoroti kelemahan struktural dalam manajemen sumber daya air di tingkat daerah. Pemerintah Kabupaten Tangerang belum mengembangkan jaringan distribusi air yang tahan terhadap fluktuasi curah hujan, sementara kebijakan mitigasi perubahan iklim masih bersifat reaktif. Padahal, data BMKG menunjukkan bahwa intensitas musim kemarau di wilayah Jawa Barat‑Banten meningkat 15% dalam dekade terakhir, menuntut penyesuaian kebijakan yang lebih proaktif.

Ketergantungan pada sumur pribadi tanpa sistem cadangan yang memadai memperparah risiko kekeringan. Pemerintah harus segera melakukan audit terhadap kualitas dan kuantitas sumur di wilayah rawan, serta menginvestasikan infrastruktur penyimpanan air seperti waduk mikro atau sistem penampungan hujan. Tanpa langkah-langkah tersebut, bantuan darurat seperti yang diberikan oleh PMI hanya akan menjadi solusi sementara yang tidak menyelesaikan akar permasalahan.

Selain itu, harga air bersih yang dibeli warga (Rp25.000 per gerobak) jauh di atas standar tarif air bersih yang seharusnya terjangkau. Hal ini menimbulkan beban ekonomi yang tidak proporsional, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah. Pemerintah daerah perlu menegakkan regulasi harga air dan memastikan distribusi bantuan bersifat adil serta berkelanjutan selama periode kemarau panjang.

Terakhir, koordinasi antar‑instansi—dari Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Lingkungan Hidup, hingga lembaga kemanusiaan—harus ditingkatkan. Pendekatan terpadu yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program air bersih akan meningkatkan ketahanan komunitas terhadap guncangan iklim di masa depan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa sumur di Desa Kosambi Dalam tidak mengeluarkan air?
  • A: Karena curah hujan yang sangat rendah selama dua bulan terakhir, mengakibatkan penurunan muka air tanah di wilayah tersebut.
  • Q: Berapa biaya yang harus dikeluarkan warga untuk membeli air bersih?
  • A: Sekitar Rp25.000 per gerobak (sekitar 20‑25 liter) setiap hari, tergantung pada kebutuhan keluarga.
  • Q: Apa langkah jangka panjang yang dapat diambil pemerintah untuk mengatasi krisis air ini?
  • A: Pemerintah perlu membangun infrastruktur penyimpanan air, memperluas jaringan pipa, mengatur harga air, dan mengimplementasikan kebijakan mitigasi perubahan iklim yang terintegrasi.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸