Potensi Penurunan Harga Pertamax Bulan Depan: Apa Kata Kementerian ESDM?
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Direktur Jenderal Laode Sulaeman menegaskan belum ada pembahasan penurunan harga BBM nonāsubsidi, termasuk Pertamax.
- Menteri Bahlil Lahadalia sedang menyusun formulasi baru untuk menstabilkan harga BBM nonāsubsidi tanpa membebani konsumen maupun pelaku usaha.
- Harga minyak dunia (Brent) kini berada di kisaran US$68ā70 per barel, menurunkan tekanan pada harga BBM domestik, namun penyesuaian belum diputuskan.
Jakarta, CNBC Indonesia ā Kementerian ESDM membuka suara terkait spekulasi penurunan harga Pertamax bulan depan. Hingga kini, tidak ada agenda resmi untuk menurunkan tarif BBM nonāsubsidi.
Direktur Jenderal Laode Sulaeman meluruskan bahwa pembahasan yang disampaikan Menteri Bahlil Lahadalia sebelumnya bukan tentang penurunan harga umum, melainkan kebijakan khusus BBM untuk nelayan. "Masalah itu sudah diumumkan oleh Menko," ujarnya di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Ketika ditanya soal kemungkinan penurunan harga Pertamax, Laode menegaskan belum ada diskusi internal. Ia menambahkan, produk seperti Turbo, Dex dan Dexlite akan mengikuti pola harga yang berlaku, yang dipengaruhi oleh pergerakan harga crude oil. "Jika crude naik, mereka naik; jika turun, mereka turun," jelasnya.
Sementara itu, Menteri Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah tengah merumuskan kebijakan baru untuk menyesuaikan harga BBM nonāsubsidi secara adil. Ia menekankan bahwa harga BBM nonāsubsidi seharusnya mencerminkan fluktuasi harga minyak dunia, namun tidak boleh berubah terlalu sering sehingga merugikan konsumen maupun Pertamina dan pelaku industri lainnya.
Bahlil menambahkan, rapat koordinasi dengan Pertamina dan perusahaan swasta akan diadakan sebelum ada keputusan final. Ia menegaskan tidak ada rencana kenaikan harga BBM subsidi, dan bila harga dunia turun, pemerintah akan mendorong penyesuaian harga secara cepat.
Sejak 10 Juni 2026, harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter ā kenaikan pertama sejak lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik pada Februari 2026. Harga Brent sempat mencapai US$118 per barel pada Maret 2026, namun sejak Juni 2026 menurun ke level US$70ā68 per barel. Penentuan harga BBM untuk Agustus 2026 akan mengacu pada rataārata tiga faktor: harga minyak dunia, Mean of Platts Singapore (MOPS), dan kurs selama dua bulan sebelumnya.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat makroekonomi, saya menilai bahwa dinamika harga BBM nonāsubsidi kini berada di persimpangan antara tekanan eksternal (harga minyak dunia) dan kebijakan domestik (stabilitas inflasi serta kepentingan industri). Penurunan tajam Brent ke kisaran US$68ā70 per barel seharusnya memberi ruang bagi pemerintah untuk menurunkan tarif BBM, namun ada dua faktor yang memperlambat proses tersebut.
Pertama, struktur tarif BBM di Indonesia masih dipengaruhi oleh subsidi silang dan mekanisme penyesuaian bulanan yang bersifat administratif. Mengubah tarif secara cepat dapat menimbulkan volatilitas pada margin distributor dan mengganggu rantai pasokan, terutama bagi sektor transportasi yang sensitif terhadap harga bahan bakar.
Kedua, pemerintah berupaya menghindari āprice shockā yang dapat memicu inflasi konsumsi. Meskipun BBM nonāsubsidi hanya menyumbang sekitar 20% dari total konsumsi, fluktuasi harga dapat menular ke sektor lain, seperti logistik, manufaktur, dan bahkan harga pangan. Oleh karena itu, formulasi baru yang dibicarakan Bahlil kemungkinan akan mengadopsi model āprice bandā atau penyesuaian bertahap, mirip dengan kebijakan yang diterapkan di beberapa negara ASEAN.
Secara strategis, penurunan harga Pertamax bila terjadi akan meningkatkan daya beli konsumen dan menurunkan biaya operasional perusahaan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas nasional. Namun, manfaat tersebut harus diimbangi dengan kebijakan fiskal yang memastikan pendapatan negara tidak tergerus, misalnya melalui peningkatan efisiensi pajak pada sektor energi atau diversifikasi sumber energi terbarukan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah pemerintah akan menurunkan harga Pertamax bulan depan?
A: Hingga kini belum ada keputusan resmi; penurunan harga masih dalam tahap pembahasan. - Q: Apa faktor utama yang memengaruhi harga BBM nonāsubsidi di Indonesia?
A: Harga BBM dipengaruhi oleh harga minyak dunia (Brent), Mean of Platts Singapore (MOPS), dan kurs rupiah selama dua bulan sebelumnya. - Q: Bagaimana kebijakan baru yang direncanakan Bahlil Lahadalia akan memengaruhi konsumen?
A: Kebijakan tersebut bertujuan menstabilkan harga agar tidak terlalu fluktuatif, sehingga konsumen tidak terbebani oleh perubahan harga yang sering.
BERITA TERKAIT

Ancaman Kebakaran Gambut Meroket: KLH Perketat Pengawasan, Bisnis Harus Siap Hadapi Risiko

Purbaya Tegaskan: PHK Tak Menandakan Krisis, Ekonomi 5% Justru Membuka Peluang Kerja Baru
