Andy Burnham: Dari Kegagalan di Manchester ke Janji Nasional Mengakhiri Tunawisma

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Andy Burnham: Dari Kegagalan di Manchester ke Janji Nasional Mengakhiri Tunawisma
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Andy Burnham resmi menjadi Perdana Menteri Inggris, langsung mengusung kebijakan mengakhiri tunawisma jalanan.
  • Keberhasilannya di Greater Manchester gagal karena kurangnya dukungan daerah lain, sekarang ia bertekad memperlakukan isu ini secara nasional.
  • Pidato pembukaan yang rendah hati dan fokus pada kolaborasi menjadi sorotan, menimbulkan harapan di kalangan progresif.

Jakarta, CNBC Indonesia - Andy Burnham, mantan Wali Kota Greater Manchester, resmi menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Inggris pada Senin (20/7/2026). Langsung setelah pelantikan, ia mengumumkan agenda kebijakan pertamanya: mengakhiri praktik tunawisma jalanan di seluruh negeri. Janji ini menjadi sorotan karena sebelumnya ia gagal mencapai target serupa di Manchester, malah justru melihat peningkatan jumlah tunawisma dalam empat tahun terakhir.

Dalam pidato singkat yang disampaikan usai pelantikan, Burnham menjelaskan bahwa kegagalan program A Bed Every Night di Manchester terjadi karena hanya daerah tersebut yang menjalankan inisiatif serupa. Ia menyebutkan, "Kami menjadi satu-satunya tempat yang melakukannya. Anda tidak akan bisa menurunkan jumlahnya jika hanya satu tempat yang bergerak sementara orang-orang dari kota lain datang ke Manchester." Pengalaman ini, menurutnya, menjadi pelajaran bahwa tunawisma hanya dapat diatasi bila seluruh wilayah bergerak bersama, seperti saat pandemi ketika kolaborasi lintas daerah berhasil mengurangi angka tunawisma secara signifikan.

Keberanian Burnham kembali mengusung target yang sama di tingkat nasional justru dinilai sebagai langkah berani. Ia menolak pola biasa politisi yang meninggalkan kebijakan gagal, melainkan memperkuat tekad dengan pendekatan inklusif. Pendekatan ini mengingatkan pada mantan pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn, yang pernah menyatakan niat serupa jika memenangkan pemilu 2017. Analis mengperkirakan kebijakan ini akan mendapat dukungan dari kalangan progresif dan sayap kiri, terutama jika Shabana Mahmood benar-benar ditunjuk sebagai Menteri Keuangan.

Sikap rendah hati Burnham dalam membuka masa jabatannya juga menjadi perhatian. Alih-alih merayakan kemenangan politik, ia membuka dengan pengakuan akan kegagalan generasi politisi, termasuk dirinya. Nada pidato yang realistis dan kolaboratif dinilai sangat relevan dengan suasana yang diinginkan masyarakat Inggris saat ini.

Analisis Pakar

Keberanian Strategis atau Risiko Politik?
Dari perspektif ekonomi makro, kebijakan Burnham mengandung risiko tinggi. Mengakhiri tunawisma bukan hanya soal alokasi dana, tetapi juga menghubungkan berbagai sektor seperti perumahan, kesejahteraan sosial, dan ketenagakerjaan. Jika ia berhasil, dampaknya bisa sangat positif bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang melalui penurunan beban biaya publik dan peningkatan produktivitas. Namun, jika gagal, ia bisa menjadi beban politik yang memperparah ketidakpercayaan publik terhadap Partai Buruh.

Pelajaran dari Manchester: Mengapa Skala Nasional Penting?
Burnham menyadari bahwa masalah sosial seperti tunawisma membutuhkan solusi holistik. Di Manchester, ia menemukan bahwa program lokal tidak cukup bila tidak diikuti wilayah sekitar. Ini mengindikasikan bahwa kebijakan nasional harus disertai mekanisme distribusi sumber daya dan koordinasi lintas daerah. Tanpa itu, ia berpotensi mengulangi pola 'magnet' di mana tunawisma hanya beralih lokasi tanpa penyelesaian substantif.

Dampak Politik dan Ekonomi Global
Keberhasilan kebijakan ini bisa menjadi model bagi negara-negara dengan isu serupa, seperti Amerika Serikat atau negara Eropa lain. Namun, ia juga akan menjadi ujian kredibilitas bagi Partai Buruh dalam menjaga impian progresif tanpa mengorbankan realitas anggaran. Jika ia terlalu ambisius, bisa memicu krisis keuangan; jika terlalu konservatif, ia akan kehilangan basis politik yang menunggu perubahan radikal.

Harapan Publik vs. Realita Implementasi
Burnham memulai dengan pesan optimis, tetapi ia harus menghadapi tantangan struktural seperti keterbatasan anggaran, regulasi perumahan yang kompleks, dan stigma sosial terhadap tunawisma. Kunci keberhasilannya bukan hanya pada keberanian janji, tetapi pada kemampuan membangun konsensus politik dan menggalang kemitraan dengan sektor swasta. Tanpa dukungan infrastruktur yang kuat, janji 'tidak ada yang tidur di jalanan' bisa jadi sekadar retorika.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa kebijakan Andy Burnham di Manchester gagal?
    A: Karena hanya Manchester yang menjalankan program, sementara tunawisma dari kota lain beralih ke sana, sehingga angka tidak berkurang.
  • Q: Apa yang berbeda dari kebijakan tunawisma di tingkat nasional?
    A: Kebijakan nasional akan melibatkan seluruh daerah, memastikan tidak ada 'magnet' tunawisma dan alokasi sumber daya yang merata.
  • Q: Bagaimana respons publik terhadap pidato Burnham?
    A: Respons positif dari kalangan progresif dan idealis, tetapi skeptisisme tetap muncul mengenai kelayakan implementasi.