Taipan Indonesia Luncurkan Tawaran $5 Miliar untuk Kuasai Raksasa Panas Bumi Filipina

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Taipan Indonesia Luncurkan Tawaran $5 Miliar untuk Kuasai Raksasa Panas Bumi Filipina
BAGIKAN:

Barito Renewables Energy, anak perusahaan energi terbarukan milik taipan Indonesia Prajogo Pangestu, mengajukan penawaran indikatif sebesar US$5 miliar (sekitar Rp89,9 triliun) untuk mengakuisisi Energy Development Corp (EDC), pemain utama panas bumi di Filipina.

Penawaran ini bersifat unsolicited, tidak mengikat, dan masih bergantung pada proses uji tuntas serta persetujuan regulator. Hingga kini, First Gen Corp., pemegang saham utama EDC, menegaskan belum ada diskusi resmi atau perjanjian yang ditandatangani, serta belum menunjuk penasihat keuangan untuk menilai potensi transaksi.

EDC, yang awalnya milik negara Filipina dan diakuisisi oleh Grup Lopez pada 2007, mengoperasikan 16 pembangkit panas bumi dengan total kapasitas terpasang 1.302,78 MW. Selain itu, perusahaan tersebut juga mengelola pembangkit listrik tenaga air, surya, dan angin dengan kapasitas hampir 300 MW.

Jika akuisisi berhasil, aset ini akan melengkapi portofolio panas bumi Prajogo yang kini mencakup Star Energy Geothermal Group – produsen panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas sekitar 886 MW – serta memperkuat jejaknya di pasar regional. Pada 2023, Barito Renewables terdaftar di BEI, dan setahun kemudian Prajogo berkolaborasi dengan ACEN (Ayala) untuk proyek pembangkit angin di Indonesia, menandakan strategi diversifikasi energi terbarukan yang agresif.

Ekspansi grup juga meluas ke Singapura, di mana patungan Chandra Asri Pacific dan Glencore mengakuisisi kilang minyak serta aset petrokimia Shell, dan kemudian mengendalikan jaringan stasiun pengisian bahan bakar Esso. Menurut Forbes, kekayaan Prajogo mencapai US$15,4 miliar, menjadikannya salah satu orang terkaya di Indonesia.

Sementara keluarga Lopez, pemilik EDC, memiliki kekayaan sekitar US$285 juta dan terlibat di sektor properti serta media (ABS‑CBN). Reaksi pasar langsung terlihat; saham First Gen melonjak 18,4 % di Bursa Manila, bahkan sempat menguat hingga 33,3 % pada perdagangan intraday.

Analisis Pakar

Penawaran US$5 miliar ini menandakan ambisi Prajogo untuk mengukir posisi dominan di kawasan Asia‑Pasifik pada sektor energi panas bumi. Dengan total kapasitas terpasang EDC lebih dari 1,3 GW, akuisisi ini akan menggandakan kapasitas panas bumi grup Indonesia, sekaligus menambah diversifikasi ke energi hidro, surya, dan angin. Dari perspektif valuasi, harga penawaran setara dengan sekitar US$68 juta per megawatt terpasang – angka yang masih kompetitif mengingat tren penurunan biaya teknologi geothermal dan potensi pendapatan stabil dari kontrak PPA (Power Purchase Agreement) pemerintah Filipina.

Namun, proses due diligence tidak akan mudah. Risiko regulasi, terutama terkait kepemilikan asing di sektor energi strategis Filipina, serta kebutuhan persetujuan dari otoritas antitrust, dapat memperpanjang timeline transaksi. Selain itu, integrasi operasional antara dua entitas dengan budaya korporasi yang berbeda – Barito Renewables yang berorientasi pada efisiensi biaya, dan EDC yang berakar kuat pada kebijakan publik – memerlukan strategi manajemen perubahan yang matang.

Dampak pasar juga patut dicermati. Lonjakan saham First Gen menunjukkan ekspektasi investor terhadap premium akuisisi yang potensial, sekaligus menandakan kepercayaan pada kemampuan Prajogo mengamankan pembiayaan dengan biaya modal yang rendah. Mengingat Prajogo memiliki akses ke jaringan keuangan internasional dan dukungan dari Glencore, struktur pembiayaan dapat melibatkan kombinasi ekuitas, obligasi hijau, dan pinjaman sindikasi, yang pada gilirannya dapat menurunkan beban hutang grup secara keseluruhan.

Ke depan, jika akuisisi terwujud, Prajogo tidak hanya memperluas basis asetnya, tetapi juga memperkuat posisi tawar dalam negosiasi tarif listrik regional, membuka peluang joint venture dengan pemain Asia lainnya, dan meningkatkan daya tarik bagi investor ESG (Environmental, Social, Governance). Namun, kegagalan transaksi atau penolakan regulator dapat menimbulkan penurunan nilai pasar dan menurunkan momentum ekspansi grup, sehingga penting bagi para pemangku kepentingan untuk memantau perkembangan negosiasi secara cermat.