Pratikno Kenang Rachmat Gobel: Kepsekritarian yang Membawa Warisan Politik dan Perdagangan
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

JAKARTA, 16 Juli 2023 — Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno menggelar peringatan tujuh hari wafatnya mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel di kediaman mendiang di Jalan Prof. Dr. Soepomo, Jakarta Selatan, Kamis (16/7). Dalam sambutannya, Pratikno mengungkapkan hubungan eratnya dengan Gobel, tidak hanya sebagai rekan kerja, tetapi juga melibatkan hubungan keluarga yang bersahabat.
"Kami bertemu dengan almarhum pada 20 Mei lalu di Gedung DPR. Kami foto bersama, bercerita tentang cucu kami yang bersahabat," ujar Pratikno. Ia menambahkan bahwa hubungan mereka terjalin sejak masa kabinet pertama Presiden Joko Widodo, ketika Gobel menjabat sebagai Menteri Perdagangan (2014-2015).
Pratikno menegaskan bahwa tugas Gobel sebagai Mendag saat itu tidak mudah. Ia menyebutkan tantangan seperti kenaikan harga minyak, beras, dan cabai, serta penurunan ekspor sebagai beban utama yang dihadapi. "Sangat tidak mudah menjadi Menteri Perdagangan. Harga minyak naik, harga beras naik, harga cabai naik menjadi masalah Menteri Perdagangan. Ekspor turun menjadi masalah Menteri Perdagangan," katanya.
Gobel, yang meninggal dunia pada Jumat (10/7) di usia 63 tahun, dikenal sebagai politikus NasDem yang juga pengusaha sukses. Ia pernah menjadi Komisaris Utama di PT Panasonic dan aktif di parlemen sebelum menjabat sebagai Menteri Perdagangan. Pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, dilaksanakan secara militer sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari negara.
Upacara pemakaman dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa, dihadiri oleh keluarga, kerabat, serta tokoh nasional. Kehadiran Pratikno sendiri menjadi sorotan, mengingat ia bukan hanya sekadar kenalan politik, tetapi juga sahabat dekat yang pernah berbagi kisah pribadi dengan Gobel.
Analisis Mendalam: Warisan Rachmat Gobel dan Implikasi Politik di Era Jokowi
Rachmat Gobel bukan sekadar figur politik yang dikenal publik. Ia adalah simbol dualitas antara dunia usaha dan politik yang khas dalam dinasti Jokowi. Sebagai pengusaha yang sukses di bidang elektronik melalui PT Panasonic, Gobel membawa perspektif bisnis ke kabinet, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Namun, kebijakan-kebijakannya, seperti upaya mengendalikan inflasi harga beras dan cabai, seringkali dikritik karena dianggap kurang efektif. Kekhawatiran publik terhadap ketimpangan ekonomi semakin memperdalam debat tentang peran negara dalam mengatur pasar.
Kepergian Gobel juga meninggalkan pertanyaan tentang kontinuitas kebijakan perdagangan di Indonesia. Selama masa kepemimpinannya, ia berupaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional melalui kebijakan impor dan ekspor yang selektif. Namun, di era digital dan globalisasi yang semakin kompleks, strategi tersebut kini dipertanyakan kembali. Apakah Jokowi akan menggantinya dengan tokoh yang memiliki visi serupa, atau justru menggeser kebijakan ke arah liberalisasi lebih terbuka? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah ekonomi Indonesia di masa depan, terutama dalam konteks investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi politik, Gobel juga dikenal sebagai penggerak di Partai NasDem, yang kini menjadi kunci dalam konsolidasi kabinet Jokowi. Kematiannya bisa menjadi momentum bagi partai untuk merebut kembali posisi strategis, terutama jika ia digantikan oleh figur yang lebih dinamis. Namun, keabsahan politik Gobel sendiri tidak pernah luput dari tuduhan konflik kepentingan antara bisnis pribadinya dan kebijakan publik. Hal ini menjadi catatan kritis dalam evaluasi warisannya sebagai pejabat negara.
Dari sudut pandang sosial, Gobel diingat sebagai sosok yang menekankan nilai agama dan integritas. Pratikno menyebutnya sebagai orang yang "sangat memegang teguh etika integritas". Namun, di era politik yang semakin dinamis, apakah nilai-nilai tersebut cukup untuk menjadi landasan kebijakan? Pertanyaan ini menjadi penting mengingat dinamika politik Indonesia yang kini semakin terfragmentasi. Gobel mungkin bukan tokoh yang paling mencolok, tetapi warisannya akan terus dikaji sebagai bagian dari sejarah politik dan ekonomi Indonesia, termasuk dalam proyek strategis seperti proyek LNG Abadi Masela yang menjadi sorotan dalam pembangunan ekonomi nasional.
BERITA TERKAIT

RTS Link 2027: Gelombang Belanja S$810 Juta dari Singapura ke Johor Bahru, Bagaimana Strategi Bisnis di Singapura Menghadapi 'Serangan Harga'?

Arab Saudi Genggam Senjata Rp 35,5 Triliun: Dampak Besar bagi Industri Pertahanan & Pasar Energi
