Rachmat Gobel Ditatah Duka, Tokoh Politik dan Militer Berkumpul dalam Ribuan Umat

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Rachmat Gobel Ditatah Duka, Tokoh Politik dan Militer Berkumpul dalam Ribuan Umat
BAGIKAN:

Sejumlah tokoh nasional dan publik mengalami suasana haru saat mengikuti pengajian tahlil ke-7 untuk mengenang jasa almarhum Rachmat Gobel. Acara yang digelar di kediaman mendiang di Jalan Prof Dr Soepomo, Jakarta Selatan, pada Kamis (16/7), menjadi momen refleksi bagi para undangan untuk memperingati kematian politisi NasDem tersebut yang meninggal pada Jumat (10/7) dini hari.

Para jemaah tahlil mengenakan baju bernuansa putih, sementara sebagian menggunakan songkok hitam sebagai penghormatan. Di antara yang hadir adalah Menko PMK Pratikno, Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, selebritas Irfan Hakim, hingga pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut mencerminkan jaringan jaringan kekuasaan dan koneksi politik yang kuat di sekitar Gobel.

Gobel dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Utama Kalibata pada Jumat (10/7) dengan upacara militer yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa. Prosesi pemakaman khidmat itu menjadi bukti penghormatan negara atas jasa-jasa almarhum selama menjabat sebagai Menteri Perdagangan (2014–2015) dan peran aktifnya di parlemen. Ia meninggal dunia di usia 63 tahun setelah pernah memimpin PT Panasonic sebagai Komisaris Utama.

Analisis Mendalam: Warisan Politik Gobel dan Dinamika Kekuasaan di Indonesia

Kematian Rachmat Gobel bukan sekadar duka keluarga, melainkan momentum untuk merefleksikan posisi politik Indonesia yang semakin terfragmentasi. Sebagai tokoh NasDem yang pernah menjabat Menteri Perdagangan, Gobel mewakili kelas politik yang menggabungkan kapitalisme bisnis dengan kekuasaan. Peranannya di era Jokowi (2014–2015) menjadi titik balik bagi banyak kebijakan perdagangan, namun kritik terhadap keterbukaan proyek strategis seperti IKN pun sempat menggugat kredibilitasnya. Kini, dengan kehadiran tokoh seperti Pratikno dan Basuki Hadimuljono di tahlil, tampaknya ada upaya untuk meregam kembali citra politikus yang sering dikritik sebagai elit yang terputus dari realitas rakyat.

Upacara militer di pemakaman Gobel juga tak luput dari sorotan. Meski ia bukan aktivis militer, penggunaan simbolik militer seperti hal itu mengisyaratkan legitimasi negara atas jasa-jasa almarhum. Ini bisa jadi strategi untuk memperkuat narasi bahwa tokoh politik seperti Gobel memang berkontribusi besar bagi kedaulatan bangsa, terutama dalam menatap tantangan ekonomi global. Namun, di balik itu, ada pertanyaan: apakah jasa-jasa ini benar-benar dirasakan oleh rakyat kecil, atau hanya sebatas simbolisme bagi kelas menengah atas?

Keberlanjutan warisan Gobel di NasDem juga perlu diwaspadai. Partai yang dikasihi oleh Suryadharma Ali ini kini berada di persimpangan jalan antara konsolidasi internal dan tekanan eksternal. Dengan kematian salah satu tokoh kunci, NasDem mungkin akan semakin tergantung pada strategi Koalisi Indonesia Kerja (KIK) untuk bertahan di arena politik. Apalagi, Gobel dikenal sebagai penyeimbang dalam dinamika internal partai yang kadang terpecah belah antara pendukung Jokowi dan oposisi.

Dari sisi ekonomi, Gobel sebagai pengusaha besar meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan. Perannya di PT Panasonic menjadi bukti bahwa kelas politik di Indonesia sering kali bersanding dengan kapitalisme global. Namun, kritik terhadap praktik monopoli dan ketergantungan pada korporasi asing tetap menjadi beban. Kematiannya bisa jadi momentum untuk menggali kembali pertanyaan: apakah demokrasi di Indonesia benar-benar berpihak pada rakyat, atau hanya menjadi alat legitimasi bagi elit yang menguasai ekonomi?