Iran's Strategic Gambit: Threatening to Choke Global Trade by Closing Key Strait

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Iran's Strategic Gambit: Threatening to Choke Global Trade by Closing Key Strait
BAGIKAN:

Teheran mengancam akan menutup Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur perdagangan paling krusial di dunia, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Amerika Serikat. Langkah provokatif ini diumbar oleh Korps Garda Republik Iran (IRGC) dalam sebuah pernyataan yang menyatakan, jika AS terus menyokong serangan ke Iran, Teheran akan menutup 'semua jalur ekspor' yang digunakan oleh sekutu Amerika. Ancaman ini bukan hanya tentang strategi militer, tetapi juga tantangan terhadap stabilitas ekonomi global yang sudah rentan.

Selat Bab al-Mandab, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, merupakan gerbang vital bagi perdagangan antara Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Lebih dari 20% volume perdagangan maritim dunia melintasi wilayah ini, termasuk ekspor minyak kelapa sawit dan energi dari negara-negara Timur Tengah. Menurut data Middle East Monitor, jalur ini bahkan lebih strategis daripada Selat Hormuz, yang selama ini menjadi sorotan konflik antara Iran dan AS. Penutupan Bab al-Mandab berpotensi memutus aliran energi ke pasar global, memicu kelangkaan, dan menyalakan krisis harga komoditas.

IRGC menegaskan dalam pernyataannya bahwa ekspor energi Iran akan 'diakses untuk semua pihak atau tidak sama sekali', menandakan sikap keras yang bertujuan memperkuat posisi diplomatik Teheran. Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman, yang dianggap sebagai sekutu Iran, mengancam akan melancarkan serangan rudal ke wilayah Arab Saudi jika Riyadh melanjutkan operasi militer di Yaman. Pejabat Houthi menyatakan, langkah ini bisa mendorong harga minyak dunia mencapai US$200 per barel, sebuah angka yang mengkhawatirkan pasar global yang masih pulih dari gejolak energi akibat konflik di Ukraina.

Konflik di Laut Merah dan Teluk Aden bukanlah hal baru. Sejak 2015, Houthi telah mengklaim kendali atas pusat kota Sanaa dan menuduh Saudi menggunakan gencatan senjata sebagai senjata politik. Namun, ancaman Iran kali ini memiliki dimensi yang lebih luas, menggabungkan strategi militer, ekonomi, dan diplomasi untuk menekan AS dan sekutu. Jika Bab al-Mandab tertutup, dunia mungkin akan dihadapkan pada dual crisis: kelangkaan energi dan ketegangan geopolitik yang memperparah ketidakpastian pasar.

Analisis Pakar

Langkah Iran mencerminkan strategi 'perang ekonomi' yang semakin sering digunakan oleh negara-negara dalam konflik. Dengan mengancam jalur perdagangan krusial, Teheran ingin memperlihatkan bahwa AS tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan militer semata untuk mengekang kebijakan Iran. Ini adalah bentuk 'perang jaringan' (network warfare) yang menargetkan titik-titik strategis global, bukan sekadar pertahanan permukaan. Sejarah mencatat bahwa ancaman serupa di Selat Hormuz belum pernah benar-benar terwujud, tetapi ancaman Bab al-Mandab kali ini berbeda karena melibatkan aktor non-negara (Houthi) yang memiliki kemampuan teknis untuk melaksanakan serangan.

Dari perspektif ekonomi, penutupan Bab al-Mandab akan memiliki dampak domino. Pasar minyak global sudah rentan akibat keterbatasan pasokan dari Rusia dan OPEC+. Jika Iran dan Houthi benar-benar mengancam jalur ini, negara-negara pengimpor seperti China, India, dan negara-negara Eropa mungkin akan mencari alternatif rute, seperti melalui Laut China Selatan atau Terusan Malaka. Namun, alternatif ini jauh lebih mahal dan memakan waktu, yang berpotensi menyulut inflasi global dan memperparah ketimpangan ekonomi antara negara-negara maju dan berkembang.

Di balik ancaman ini, ada dinamika internal Iran yang perlu diperhatikan. Pemerintahan Teheran sedang dihadapkan pada tekanan ekonomi akibat sanksi AS dan sekutu, serta ketidakpuasan rakyat akan kenaikan harga energi dan deflasi. Dengan mengancam jalur perdagangan, Iran mungkin ingin memindahkan sorotan ke luar negeri, mengalihkan perhatian dari masalah domestik. Namun, langkah ini berisiko besar, karena AS dan sekutu tidak akan hanya diam menyaksikan ancaman yang mengancam stabilitas global.

Secara diplomatik, ancaman Iran bisa mempercepat koalisi baru di kawasan. AS mungkin akan memperkuat dukungan untuk Saudi dan sekutu di Yaman, sementara negara-negara non-blok seperti Turki atau Mesir bisa memainkan peran sebagai mediator. Namun, jika konflik memburuk, dunia mungkin akan dihadapkan pada fragmentasi jaringan perdagangan global, di mana negara-negara mulai membangun jaringan logistik sendiri-sendiri, mengurangi efisiensi dan menambah biaya. Ini adalah skenario yang paling ditakuti oleh komunitas internasional, terutama di tengah upaya pemulihan pasca-pandemi dan konflik Ukraina.