Rupiah Tertekan: Antisipasi Inflasi AS dan Minyak Naik Picik Pasar

Ekonomi
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Rupiah Tertekan: Antisipasi Inflasi AS dan Minyak Naik Picik Pasar
BAGIKAN:

Jakarta, ANTARA - Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi melemah tipis sebesar 6 poin atau 0,03 persen, duduk di level Rp18.115 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.109. Kehadiran tekanan eksternal yang terus-menerus mengancam stabilitas mata uang nasional ini menjadi sorotan analis ekonomi.

Menurut Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, melemahnya rupiah bukanlah hasil dari dinamika domestik yang mengguncang, melainkan akibat ketergantungan pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (14 Juli). Ia memperkirakan rupiah akan bergerak terbatas dalam kisaran Rp18.060–Rp18.170 per dolar AS, dengan rentang tengah sekitar Rp18.100–Rp18.120.

Josua menjelaskan, jika inflasi AS Juni melampaui ekspektasi atau nada ketat dari Federal Reserve (Fed) terdengar, rupiah berisiko menguji level Rp18.180–Rp18.220 per dolar AS. Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah dan sikap Fed cenderung lunak, mata uang ini berpotensi kembali menguat ke level Rp18.030–Rp18.080.

Data yang dinanti pasar menunjukkan proyeksi inflasi AS Juni sebesar 3,9 persen secara tahunan, dengan inflasi inti di angka 2,9 persen. Tekanan lain datang dari lonjaknya harga minyak dunia, di mana harga Brent naik 3,43 persen menjadi US$78,6 per barel, mengakibatkan tekanan tambahan pada impor energi dan subsidi pemerintah.

Meski S&P Global Ratings mempertahankan peringkat Indonesia di BBB dengan prospek stabil, lembaga ini menyatakan bahwa melemahnya rupiah sebesar 7 persen pada semester pertama 2024 mencerminkan tekanan fiskal-eksternal yang masih perlu diwaspadai. Sentimen positif dari penilaian S&P belum mampu menjadi pendorong utama bagi penguatan rupiah secara signifikan.

Analisis Pakar: Rupiah di Tengah Badai Global

Dalam konteks dinamika global yang semakin kompleks, melemahnya rupiah bukan sekadar tantangan teknis keuangan, melainkan cerminan ketidakberpihakanan negara pengembang terhadap goncangan ekonomi dunia. Faktor utama yang menjadi pemicu—seperti inflasi AS dan kebijakan moneter Fed—memperlihatkan betapa Indonesia masih sangat bergantung pada keputusan asing untuk menentukan arah mata uangnya. Hal ini mengangkat pertanyaan: seberapa jauh langkah independensi kebijakan moneter BI untuk melindungi rupiah dari volatilitas eksternal?

Tekanan dari harga minyak internasional juga menjadi bukti nyata bahwa Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak bersih, tetap rentan terhadap gejolak komoditas. Kenaikan harga minyak sebesar 29,2 persen sejak awal tahun bukan hanya mengganggu neraca transaksi berjalan, tetapi juga menambah beban subsidi energi yang sudah menjadi sorotan fiskal. Apakah pemerintah sudah memiliki strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan ini, atau masih terjebak dalam pola reaktif?

Sementara S&P Global Ratings memberikan penilaian stabil, realita di lapangan justru menunjukkan bahwa tekanan eksternal belum sepenuhnya hilang. Defisit fiskal yang dipertahankan di bawah 3 persen PDB, meski terdengar positif, justru menjadi bukti bahwa ruang kebijakan fiskal sangat terbatas. Bagaimana jika situasi global semakin memanas? Apakah Indonesia siap menghadapi tekanan neraca yang lebih besar tanpa mengorbankan pertumbuhan domestik?

Dari sisi struktural, rupiah yang melemah 7 persen di semester pertama mengindikasikan bahwa pasar sudah mulai menilai kemampuan ekonomi domestik untuk menyerap goncangan. Ini adalah tanda peringatan bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk tidak hanya fokus pada tindakan jangka pendek, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi melalui reformasi struktural, diversifikasi energi, dan peningkatan daya saing ekspor. Tanpa langkah konseptual, rupiah akan terus berada di jalur yang tidak stabil di tengah badai global.