Nobar Piala Dunia 2026 di Ternate: Hiburan Rakyat atau Simbol Ketimpangan Infrastruktur?

Olahraga
Dimas PratamaDimas Pratama
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Nobar Piala Dunia 2026 di Ternate: Hiburan Rakyat atau Simbol Ketimpangan Infrastruktur?
BAGIKAN:

Di tengah euforia global menuju Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sebuah fenomen menarik muncul di pulau-pulau terpencil Maluku Utara. Di Ternate, ibu kota provinsi, warga setempat mengadakan acara nobar (nonton bareng) yang menarik ratusan orang, dari pelajar hingga pedagang pasar, untuk menyaksikan pertandingan besar lewat layar layar LED yang disewa khusus untuk acara tersebut.

Menurut sumber lokal, panitia nobar bekerja sama dengan beberapa warung kopi dan pengusaha kecil untuk menyediakan tempat duduk, makanan ringan, dan akses internet melalui layanan satelit yang masih terbatas. Meskipun suasana terasa meriah, di balik kegembiraan tersebut tersirat tantangan infrastruktur yang masih menjadi hambatan bagi wilayah timur Indonesia.

Ketidakstabilan listrik yang sering terjadi di Ternate memaksa panitia menggunakan generator diesel cadangan, menimbulkan keluhan mengenai polusi suara dan emisi karbon. Selain itu, biaya sewa layar dan generator yang relatif tinggi membuat beberapa peserta merasa terbebani, terutama ketika harga tiket masuk tetap gratis namun pengeluaran untuk transportasi dan konsumsi naik secara signifikan.

Selain aspek hiburan, acara nobar ini juga dianggap sebagai kesempatan bagi pemerintah daerah untuk mempromosikan pariwisata berbasis olahraga. Namun, tanpa perbaikan serius pada jaringan telekomunikasi dan listrik, potensi tersebut tetap terbatas dan berisiko hanya menjadi momen sekedar tanpa dampak ekonomi berkelanjutan.

Opini Mendalam

Sebagai jurnalis investigatif yang telah menelusuri berbagai isu pembangunan di wilayah timur Indonesia, saya melihat acara nobar Piala Dunia 2026 di Ternate bukan sekadar hiburan spontan, tetapi cermin dari ketimpangan pembangunan yang masih mencolok antara Jawa dan wilayah luar Jawa. Keberhasilan menarik ratusan warga untuk berkumpul di bawah satu layar menunjukkan bahwa minat terhadap olahraga internasional sangat tinggi, namun infrastruktur dasar yang mendukung partisipasi tersebut masih sangat lemah.

Pemerintah pusat sering kali mengacu pada angka pertumbuhan ekonomi nasional sebagai indikator kesuksesan pembangunan, namun data tersebut sering menyembunyikan kesenjangan yang dialami oleh provinsi seperti Maluku Utara. Akses listrik yang tidak stabil dan ketergantungan pada generator diesel bukan hanya masalah teknis, tetapi juga merupakan isu lingkungan dan kesehatan masyarakat. Emisi dari generator tersebut dapat menambah beban polusi udara di kota yang sudah menghadapi tantangan limbah dan pembuangan air limbah yang tidak terkelola.

Selain itu, biaya tinggi menyelenggarakan acara nobar menunjukkan bahwa tanpa subsidi atau dukungan dari sektor swasta serta pemerintah daerah, partisipasi masyarakat berisiko menjadi eksklusif bagi mereka yang mampu membayar biaya tambahan. Ini menimbulkan pertanyaan kritis tentang adil akses terhadap hiburan dan informasi global, terutama ketika acara seperti Piala Dunia dianggap sebagai hak budaya yang seharusnya dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.

Dari sudut pandang ekonomi, jika pemerintah daerah mampu memanfaatkan momentum ini dengan membangun fasilitas permanen seperti stadion mini atau pusat perbelanjaan yang terintegrasi dengan teknologi hijau, maka nobar bisa menjadi titik awal bagi pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan. Namun, hal ini memerlukan komitmen jangka panjang, investasi dalam infrastruktur listrik berbasis energi terbarukan, dan pelatihan sumber daya manusia lokal untuk mengelola acara-acara internasional skala menengah.

Akhirnya, saya menantang pemerintah pusat dan daerah untuk tidak hanya melihat acara nob sekadar sebagai momentary euphoria, tetapi sebagai titik awal untuk evaluasi kebijakan pembangunan timur Indonesia. Tanpa perbaikan serius pada sektor energi, telekomunikasi, dan pendidikan, keberhasilan hiburan seperti ini akan tetap terasa sebagai ilusi yang indah namun tidak berdaya mengubah realita struktural yang menghambat kemajuan wilayah tersebut.