Kembali ke Kursi Kepala: Slaven Bilić Dipilih Lagi Pelatih Timnas Kroasia Usai Keluarnya Zlatko Dalić
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

Federasi Sepak Bola Kroasia (HNS) mengumumkan secara resmi penunjukan Slaven Bilić sebagai pelatih kepala tim nasional senior, menggantikan Zlatko Dalić yang mengundurkan diri setelah tim tereliminasi di babak 32 besar Piala Dunia 2026 (semifinal Piala Dunia 2026) oleh Portugal. Keputusan ini diambil berdasarkan usulan Presiden HNS, Marijan Kustic, dan mendapat persetujuan penuh dari dewan eksekutif federasi.
Bilić bukanlah nama baru bagi pendukung tim bersayap damai. Ia sebelumnya memimpin Kroasia antara 2006 dan 2012, mencatatkan 42 kemenangan, 15 imbang, dan delapan kekalahan dari total 65 pertandingan yang dipimpin. Sebelum kembali ke tanah air, pelatih berkebangsaan Kroasia ini telah menggeluti berbagai liga Eropa, termasukWest Ham United, West Bromwich Albion, dan Watford, sebelum menempati posisi pelatih Al‑Fateh di Liga Saudi Arabia musim 2023/24.
Dalam pernyataan pertamanya setelah pengumuman, Bilić menegaskan kepercayaannya pada potensi pemain nasional dan janji untuk memasukkan energi, ambisi, serta tekad yang diperlukan agar Kroasia tetap berada di antara elite sepak bola dunia. Ia juga menyoroti bahwa pengalaman yang telah ia kumpuli sejak masa pertama menjabat membuatnya lebih matang, namun motivasi dan keinginan untuk melihat timnya kuat, berani, dan sukses tetap sama seperti dulu.
Catatan kariernya sebagai pemain juga menambah nilai historis: Bilić merupakan bagian dari skuad yang mencapai semifinal Piala Dunia 1998 sebelum kalah dari Prancis, juara turnamen tersebut, dengan total 44 cap untuk tim nasional.
Analisis Pakar
Penunjukan kembali Slaven Bilić merupakan langkah yang menarik dari sudut pandang strategis dan simbolis. Dari sisi simbolis, HNS menunjukkan keinginan untuk kembali ke "akar" yang曾经 membawa timnas Kroasia ke puncak prestasi—yaitu era 2006‑2012 ketika tim tersebut konsisten berada di 10 besar ranking FIFA dan berhasil lolos ke besar turnamen besar seperti EKU 2008 dan Piala Dunia 2010. Memilih pelatih yang sudah pernah berhasil membangun dasar taktik dan mentalitas tim tersebut dapat dianggap sebagai upaya memulihkan kepercayaan publik yang mulai goyah setelah kegagalan di Piala Dunia 2026.
Namun, dari perspektif kritis, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab. Pertama, apakah Bilić masih memiliki kemampuan adaptasi terhadap perkembangan taktik modern yang sangat bergantung pada pressing tinggi, rotasi posisi yang fleksibel, dan analisis data yang mendalam? Selama masa menjabatnya di Liga Inggris dan Saudi Arabia, rekam jejaknya menunjukkan hasil yang bervariasi: ia berhasil membawa West Ham ke posisi menengah‑atas klasemen, namun juga mengalami pemutusan kontrak dengan West Bromwich Albion dan Watford karena kurangnya konsistensi hasil. Kedua, dunia sepak bola kini lebih mengandalkan staf teknis yang multidisplin—ahli fisiologi, analisis video, dan psikologi olahraga—apakah struktur staf yang diwarisi Bilić dari masa pertamanya masih cukup kompetitif atau perlu dilakukan pembaruan signifikan?
Ketiga, ada risiko politik internal. Pengembalian seorang pelatih yang pernah menjabat sebelumnya bisa ditafsirkan sebagai langkah konservatif yang menolak inovasi. Jika HNS hanya mengandalkan nama dan reputasi tanpa melakukan evaluasi mendalam terhadap visi sistem permainan yang diinginkan untuk siklus kompetisi berikutnya (misalnya EKU 2028 dan Piala Dunia 2030), maka tim nasib tim nasional mungkin terjatuh ke dalam siklus "nama besar, hasil stagnan". Untuk menghindari ini, federasi sebaiknya menyusun kontrak yang mencantumkan KPI jelas—misalnya pencapaian fase minimum tertentu dalam turnamen besar, peningkatan peringkat FIFA, dan integrasi pemain muda dari akademi nasional—sehingga keputusan tidak hanya berdasarkan sentimentalitas tetapi juga akuntabilitas berbasis prestasi.
Secara keseluruhan, keputusan mengembalikan Bilić bisa menjadi keputusan yang tepat jika disokong oleh reformasi staf teknis, pendekatan berbasis data, dan komitmen untuk membangun generasi penerus yang mampu menjaga filosofi permainan yang dinamis. Jika tidak, kita mungkin hanya melihat ulangan masa lalu dengan hasil yang sama: tim yang hormat, namun tidak lagi mampu menantang kekuasaan sepak bola dunia pada tahap eliminasi akhir.
BERITA TERKAIT

Gaza's Unlikely Football Allegiance: Why Spain Became a Symbol of Solidarity in 2026 World Cup

Kebencian yang Merusak: Suami di Semarang Pukul Selingkuhan Istri hingga Buta Permanen
