Harga Ayam & Telur Pulih: Dampak MBG dan Akhir Bulan Suro Buka Peluang Peternak

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Harga Ayam & Telur Pulih: Dampak MBG dan Akhir Bulan Suro Buka Peluang Peternak
BAGIKAN:

Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan bahwa harga ayam dan telur di tingkat peternak kembali naik setelah berakhirnya Bulan Suro dan dimulainya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kedua faktor ini secara simultan menghidupkan kembali permintaan pasar yang sempat terpuruk selama libur panjang dan penurunan aktivitas pernikahan.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawamet, menjelaskan bahwa selama Bulan Suro, tradisi menunda hajatan pernikahan menurunkan konsumsi ayam dan telur secara signifikan. "Harga terdepresiasi karena permintaan menurun," ujarnya saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (14/7).

Namun, seiring berakhirnya Suro dan dimulainya kembali program MBG—yang sebelumnya terhenti karena libur sekolah—permintaan kembali menguat. "Setelah melewati bulan Suro dan dengan masuknya anak sekolah ke kelas, harga di tingkat peternak mulai merangkak naik," tambah Ketut.

Saat ini, harga telur di tingkat peternak berada pada kisaran Rp20.000‑Rp21.000 per kilogram, sementara harga ayam berada di Rp19.000‑Rp20.000 per kilogram. Kedua komoditas menunjukkan tren pemulihan yang hampir seimbang, menandakan stabilisasi pasar yang mulai menguntungkan para peternak, khususnya di Pulau Jawa.

Analisis Pakar

Secara makroekonomi, pemulihan harga ayam dan telur ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan sinyal bahwa kebijakan fiskal berbasis subsidi pangan (MBG) dapat berfungsi sebagai penstabil permintaan di sektor agrikultur. Program MBG, yang menyalurkan makanan bergizi ke sekolah, meningkatkan konsumsi protein secara tidak langsung karena rumah tangga menyesuaikan pola makan anak-anak mereka. Dampak ini memperkuat rantai nilai peternakan, terutama pada tingkat peternak yang biasanya paling rentan terhadap fluktuasi harga.

Namun, ketergantungan pada stimulus kebijakan menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan. Jika MBG dihentikan atau mengalami penurunan anggaran, permintaan dapat kembali menurun, mengembalikan tekanan pada harga. Oleh karena itu, peternak perlu diversifikasi pasar, misalnya dengan memperluas penjualan ke segmen industri pengolahan atau ekspor, serta meningkatkan efisiensi produksi melalui teknologi pakan yang lebih hemat.

Di sisi lain, berakhirnya Bulan Suro mengembalikan aktivitas sosial‑ekonomi tradisional yang selama ini menahan permintaan. Hal ini menegaskan pentingnya pemahaman siklus budaya dalam perencanaan kebijakan pangan. Pemerintah sebaiknya mengintegrasikan kalender tradisional ke dalam model prediksi permintaan, sehingga intervensi seperti MBG dapat dijadwalkan lebih tepat waktu, menghindari over‑supply atau kekurangan pasokan.

Ke depan, prospek harga ayam dan telur akan sangat dipengaruhi oleh tiga variabel utama: (1) kelanjutan program MBG dan alokasi anggarannya, (2) dinamika kalender budaya Jawa yang masih memegang peran kuat dalam konsumsi, dan (3) kondisi pasokan pakan ternak yang dipengaruhi oleh harga komoditas global seperti jagung dan kedelai. Investor dan pelaku usaha agribisnis harus memantau indikator-indikator ini secara real‑time untuk mengoptimalkan margin keuntungan dan mengurangi risiko volatilitas pasar.