Bivol Menolak Trilogi Beterbiev: Alasan di Balik Penolakan yang Menggiurkan Rp100 Miliar?

Olahraga
Maya SariMaya Sari
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Bivol Menolak Trilogi Beterbiev: Alasan di Balik Penolakan yang Menggiurkan Rp100 Miliar?
BAGIKAN:

Jakarta, ANTARA - Dmitri Bivol, juara dunia kelas berat ringan (79,3kg) dari WBA, WBO, dan IBF, menolak pertarungan ketiga (trilogi) melawan Artur Beterbiev meskipun International Boxing Association (IBA) menawarkan kompensasi yang diperkirakan mencapai Rp100 miliar. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang prioritas bisnis, strategi karier, dan dinamika kekuasaan di dunia tinju internasional.

Presiden IBA, Umar Kremlev, mengungkapkan bahwa tawaran untuk trilogi jauh lebih menggiurkan dibandingkan dua pertarungan sebelumnya. Ia menegaskan, "Secara spesifik, Bivol diberi tawaran dua kali lebih besar daripada di pertarungan sebelumnya." Namun, Bivol dan timnya tetap menolak, memicu kekecewaan Kremlev yang menyatakan, "Saya sangat kecewa. Semua orang menunggu pertarungan ini."

Dua pertarungan sebelumnya antara Bivol dan Beterbiev memang sangat sengit. Beterbiev memenangkan pertarungan pertama pada Oktober 2024 untuk merebut gelar juara sejati, tetapi Bivol membalas dengan kemenangan mutlak pada Februari 2025. Namun, dalam 17 bulan terakhir, Bivol sempat melepaskan gelar WBC pada April 2025 serta menjalani operasi punggung pada Agustus 2025, yang kemudian membuat kariernya terhambat. Ia baru kembali pada Mei 2026 untuk menghadapi Michael Eifert, yang justru dianggap sebagai laga pemanasan.

WBO kini memperintahkan Bivol untuk menghadapi Callum Smith, juara interim, dengan batas waktu hingga 26 Juli 2026. Kremlev optimis bahwa Bivol akan melanjutkan kariernya melawan Smith, sementara Beterbiev akan menunggu kesempatan lain. Namun, ia menegaskan, "Kami telah memberikan penawaran tertulis yang sangat bagus. Namun sayangnya, tim Bivol masih menunggu sesuatu."

Analisis Mendalam: Bisnis Tinju di Balik Kekuasaan dan Konflik Kepentingan

Keputusan Bivol menolak trilogi melawan Beterbiev bukan sekadar soal uang. Di balik tawaran yang menggiurkan, terdapat dinamika politik dan bisnis yang kompleks. IBA, sebagai pengelola utama event ini, tentu saja ingin memastikan trilogi terjadi demi menarik minat penonton global. Namun, tim Bivol mungkin lebih memprioritaskan strategi karier jangka panjang, seperti mengamankan gelar WBO dan WBA sebelum melangkah ke tantangan baru. Ini adalah langkah yang logis, mengingat Beterbiev sendiri bukanlah lawan yang mudah, dan risiko cedera atau kekalahan bisa merusak citra Bivol sebagai salah satu petinju paling dominan di kelasnya.

Dari sisi bisnis, tinju adalah olahraga yang sangat bergantung pada narasi dan drama. Trilogi Bivol vs Beterbiev memang menjanjikan penghasilan besar, tetapi jika satu pihak merasa tidak sepadan dengan risikonya, maka penolakan menjadi alami. Kremlev menyadari ini, sehingga ia menyebutkan, "Bivol tampaknya siap bertarung, tetapi timnya masih mempertimbangkan." Ini mengisyaratkan bahwa persoalan bukan di pihak Bivol sendiri, melainkan di manajemen atau promotor yang mengatur karier sang petinju.

Dari perspektif olahraga, keputusan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang integritas kompetisi. Jika trilogi tidak terjadi, maka gelar juara sejati di kelas berat ringan tetap menjadi properti yang tidak jelas. Beterbiev yang kini dianggap sebagai salah satu petinju paling berbahaya di kelasnya, tentu saja ingin memperkuat statusnya. Namun, Bivol yang baru saja pulih dari operasi punggung mungkin ingin memastikan kondisinya optimal sebelum menghadapi tantangan sebesar itu.

Dari sudut pandang say sebagai jurnalis investigasi, keputusan ini mencerminkan realitas kapitalisme di dunia olahraga. Uang bukanlah satu-satunya faktor; kepentingan promotor, sponsor, dan bahkan kebijakan organisasi kompetisi juga memainkan peran. Jika IBA benar-benar serius, maka ia harus bersedia mengorenggak struktur tawaran atau memberikan jaminan tambahan. Namun, jika Bivol dan timnya memilih jalur konservatif, maka trilogi mungkin akan menjadi mimpi yang tak terwujud. Yang pasti, keputusan ini akan menjadi sorotan besar di kalangan penggemar tinju dunia, terutama di era di mana konten viral dan narasi kontraversial menjadi kunci keberhasilan event olahraga.