XLSmart Kuasai 700 MHz, Telkomsel Dominasi 2.6 GHz: Apa Artinya untuk 5G Indonesia?
Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menyelesaikan seluruh tahapan seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz untuk jaringan seluler tahun 2026. Proses lelang harga dilaksanakan pada 7 Juli 2026, diikuti oleh pemilihan blok pita frekuensi pada 8‑10 Juli 2026.
Berikut rangkuman hasil alokasi:
- 700 MHz: PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart) menempati posisi pertama dengan blok 30 MHz (2×15 MHz) dan nilai penawaran Rp1,06 triliun.
- Posisi kedua dipegang oleh PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dengan blok 20 MHz (2×10 MHz) senilai Rp642,5 miliar.
- PT Indosat Tbk berada di peringkat ketiga, memperoleh blok 20 MHz (2×10 MHz) dengan nilai Rp507,48 miliar.
- 2,6 GHz: Telkomsel unggul dengan alokasi 80 MHz dan penawaran Rp545,84 miliar.
- Indosat menempati posisi kedua, mengamankan 60 MHz senilai Rp372 miliar.
- XLSmart berada di peringkat ketiga dengan 50 MHz dan nilai Rp231,6 miliar.
Komdigi membuka kesempatan bagi peserta untuk mengajukan sanggahan tertulis beserta bukti pendukung melalui sistem e‑Auction hingga 14 Juli 2026, pukul 15.00 WIB. Jika tidak ada sanggahan, hasil seleksi akan diajukan ke Menteri Komunikasi dan Digital untuk keputusan final.
Para pemenang tidak hanya diwajibkan membayar Biaya Hak Penggunaan Spektrum (BHP IPFR), tetapi juga harus mewujudkan “kedaulatan digital inklusif”. Ini berarti:
- Menyediakan layanan mobile broadband berbasis 4G di 538 desa/kelurahan yang telah ditetapkan.
- Menghadirkan jaringan 5G di kota/kabupaten terpilih dengan target cakupan minimal 51 % populasi nasional.
Komdigi menegaskan bahwa seleksi ini bukan sekadar memperluas jangkauan sinyal, melainkan upaya strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup seluruh rakyat Indonesia, dari Sumatera hingga Papua.
Analisis Pakar
Sebagai seorang tech‑reviewer yang selalu menelusuri dinamika spektrum radio, saya melihat dua hal krusial dari hasil lelang ini. Pertama, alokasi 700 MHz ke XLSmart menandakan pergeseran kekuatan ke pemain baru yang siap mengoptimalkan band rendah untuk penetrasi sinyal yang lebih baik di area rural. Band 700 MHz terkenal karena kemampuan menembus bangunan dan vegetasi, sehingga potensi peningkatan kualitas layanan di daerah terpencil sangat besar. XLSmart harus segera menggelar infrastruktur—baik tower maupun backhaul fiber—agar tidak hanya menjadi “pemenang lelang” di atas kertas, melainkan penyedia layanan yang benar‑benar dapat bersaing dengan Telkomsel dan Indosat.
Kedua, dominasi Telkomsel di spektrum 2,6 GHz memberi mereka keunggulan kompetitif dalam rollout 5G. Band ini ideal untuk kapasitas tinggi dan kecepatan ultra‑fast, namun dengan jangkauan yang lebih pendek dibandingkan 3,5 GHz. Dengan 80 MHz, Telkomsel dapat membangun jaringan 5G yang cukup lebar, terutama di kota‑kota besar. Tantangannya kini adalah mengintegrasikan spektrum ini dengan existing 3,5 GHz dan 3,8 GHz yang sudah dimiliki, serta memastikan bahwa ekosistem perangkat 5G (handset, IoT, edge computing) siap untuk mengonsumsi bandwidth tersebut.
Namun, ada risiko yang perlu diwaspadai: fragmentasi spektrum antar operator dapat menimbulkan inefisiensi dalam penggunaan frekuensi, terutama bila masing‑masing operator mengembangkan jaringan secara silo. Pemerintah harus mempertimbangkan mekanisme sharing spectrum atau neutral host infrastructure untuk mengoptimalkan penggunaan band 700 MHz dan 2,6 GHz, sehingga investasi infrastruktur tidak berulang‑ulang di wilayah yang sama.
Ke depan, saya memperkirakan bahwa dalam 2‑3 tahun ke depan, kita akan melihat peningkatan signifikan dalam layanan 4G di desa‑desa yang selama ini terpinggirkan, sekaligus percepatan adopsi 5G di kawasan urban. Jika XLSmart dapat memanfaatkan 700 MHz dengan cepat, mereka berpotensi menjadi pemain kunci dalam penyediaan broadband rural, membuka peluang kolaborasi dengan operator besar untuk backhaul dan layanan OTT. Sementara Telkomsel, dengan spektrum 2,6 GHz yang kuat, akan memperkuat posisinya sebagai pemimpin 5G di Indonesia, asalkan mereka dapat menyeimbangkan antara kecepatan, latensi, dan cakupan. Semua ini menandai era baru bagi ekosistem telekomunikasi Indonesia—lebih kompetitif, lebih terhubung, dan lebih inklusif.
BERITA TERKAIT

Drought Alert di Jawa Barat: Data BMKG, AI, dan Apa Artinya untuk Teknologi Pertanian

Panggung Impian Semifinal Piala Dunia 2026: Lionel Messi Siap Meledak dalam Duel Klasik Perdana Kontra Tiga Singa Inggris!
