Tragedi Kebakaran Restoran di Bangkok: Korban Luka Meningkat Jadi 72, 45 Masih Hilang – Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Tragedi Kebakaran Restoran di Bangkok: Korban Luka Meningkat Jadi 72, 45 Masih Hilang – Apa yang Sebenarnya Terjadi?
BAGIKAN:

Bangkok, 13 Juli 2026 – Jumlah korban luka akibat kebakaran yang melanda restoran bir Rong Beer Na Lat Phrao di distrik Chatuchak terus merangkak naik. Pusat Bantuan dan Koordinasi Administrasi Kota Bangkok mengonfirmasi pada Senin bahwa 72 orang kini tercatat terluka, dengan 25 di antaranya dalam kondisi serius. Sementara itu, 45 orang masih dinyatakan hilang dan belum dapat dipastikan nasibnya.

Awalnya, laporan media menyebutkan 63 korban luka, termasuk 22 yang berada dalam kondisi kritis. Angka tersebut kini berubah drastis, menandakan adanya dinamika penemuan korban yang masih berlangsung di lokasi kebakaran.

Restoran yang memiliki izin sebagai tempat hiburan musik live ini dilaporkan hanya memiliki dua pintu keluar darurat. Otoritas setempat tengah menyelidiki dugaan bahwa salah satu pintu tersebut mungkin terhalang pada saat api melanda, sehingga menghambat evakuasi cepat.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menuturkan bahwa mayoritas korban meninggal karena menghirup asap beracun yang berasal dari "pemutus sirkuit di dekat panggung, diikuti oleh pemadaman listrik dan ledakan". Ia menambahkan, "Sebagian besar korban berlari ke belakang, ke toilet tanpa jalan keluar, mungkin karena panik akibat api dan asap."

Menurut laporan Anadolu Agency, setidaknya 27 orang telah dinyatakan meninggal, sementara 63 orang terluka, termasuk 22 yang kritis. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan bahwa tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam tragedi ini.

Analisis Pakar

Kasus kebakaran ini mengungkap kegagalan mendasar dalam penegakan standar keselamatan pada tempat hiburan publik. Meskipun restoran tersebut memiliki izin resmi, keberadaan hanya dua pintu keluar darurat jelas tidak memadai untuk menampung kapasitas pengunjung pada malam hari, terutama ketika acara musik live menarik kerumunan besar. Penyelidikan harus menelusuri apakah prosedur inspeksi kebakaran dilakukan secara rutin atau sekadar formalitas administratif.

Selain itu, pernyataan Perdana Menteri tentang pemutus sirkuit yang memicu kebakaran menimbulkan pertanyaan serius mengenai kualitas instalasi listrik di venue-venue hiburan. Apakah ada inspeksi berkala terhadap sistem kelistrikan? Ataukah pemilik venue mengabaikan standar teknis demi mengurangi biaya? Jika kebocoran listrik memang menjadi pemicu, maka tanggung jawab hukum tidak hanya berada pada pemilik tempat, melainkan juga pada regulator yang mengawasi kepatuhan teknis.

Fenomena 45 orang yang masih hilang menandakan kurangnya prosedur pencatatan dan kontrol masuk‑keluar pengunjung. Tanpa sistem tiket terintegrasi atau daftar hadir yang akurat, otoritas kesulitan menentukan siapa yang berada di dalam gedung pada saat kejadian. Ini bukan sekadar masalah operasional, melainkan pelanggaran hak dasar warga untuk mendapatkan perlindungan dan kepastian dalam situasi darurat.

Ke depan, saya memperkirakan tekanan publik akan memaksa pemerintah Thailand untuk memperketat regulasi keselamatan pada tempat hiburan, termasuk penambahan pintu keluar, audit listrik independen, dan penerapan sistem manajemen evakuasi berbasis teknologi. Jika tidak, insiden serupa dapat terulang, menambah deretan tragedi yang menodai citra industri pariwisata Thailand yang selama ini mengandalkan reputasi aman dan ramah wisatawan.