El Nino vs Psikologi Pasar: Bos Bulog Peringatkan Bahaya 'Ketakutan Berlebih' yang Bisa Guncang Stok Pangan
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

JAKARTA — Di tengah gelombang kekhawatiran global mengenai fenomena pemanasan suhu muka laut atau El Nino, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, justru melontarkan peringatan tegas yang bernuansa psikologis. Bagi Rizal, narasi mengenai El Nino bukan sekadar data meteorologis, melainkan variabel makro yang bisa memicu gangguan serius pada rantai pasok pangan jika disampaikan secara prematur.
Dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bulog, Jakarta Selatan, Senin (13/7), Rizal menekankan bahwa informasi mengenai potensi El Nino haruslah disaring dengan ketat dan hanya boleh dilontarkan jika datanya sudah terverifikasi absolut. Ia mengkhawatirkan bahwa penyebaran informasi yang terlalu dini tanpa dasar fakta lapangan yang kuat justru akan memicu efek self-fulfilling prophecy di sektor pertanian.
"Statement El Nino itu harus betul-betul dipastikan. Karena berpengaruh kepada para petani yang tadinya mau bercocok tanam jadi takut-takut bercocok tanam gara-gara ada statement El Nino ini," tegas Rizal.
Posisi Bulog ini menarik karena bertolak belakang dengan narasi yang sedang dibangun oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sementara BMKG telah mengumumkan El Nino memasuki kategori kuat dengan peluang 98 persen, Rizal mengaku masih melihat anomali di lapangan. Berdasarkan observasi langsungnya selama kunjungan kerja berbagai daerah, curah hujan masih terjadi di berbagai titik vital seperti Jakarta, Papua, Kalimantan, hingga Sumatra.
"Kalau dibilang El Nino, masih ada hujan sekarang. Saya masih merasakan hujan... Jadi saya juga mempertanyakan El Nino ini benar atau tidak," ujarnya, menekankan bahwa persepsi ancaman kekeringan tidak boleh lebih dahulu tiba daripada kondisi kekeringan itu sendiri.
Sikap kehati-hatian ini mendapat dukungan dari pelaku industri. Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi Seluruh Indonesia (Perpadi), Sutarto Alimoeso, menilai bahwa dampak El Nino terhadap produksi beras saat ini masih belum bisa disimpulkan secara pasti. Pasalnya, sebagian besar sentra produksi baru saja memasuki musim panen kedua.
Menurut Sutarto, penurunan produksi yang terjadi sebelumnya lebih disebabkan oleh siklus musiman biasa, bukan dampak El Nino. Dengan masuknya bulan Juli dan dimulainya panen raya di sejumlah daerah, pasar masih dipenuhi pasokan gabah dan beras. "Belum terlihat, karena sekarang ini baru mulai panen kedua. Nanti kita lihat sekitar bulan Agustus apakah produksinya turun atau tidak," jelasnya.
Meski demikian, peringatan BMKG tidak bisa dianggap enteng. Lembaga tersebut memproyeksikan fenomena ini akan berlangsung hingga 9-12 bulan ke depan, dengan potensi penurunan curah hujan signifikan di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sumatra dan Kalimantan selatan. Risiko gagal panen akibat ketersediaan air yang menipis tetap menjadi ancaman nyata yang membutuhkan langkah antisipasi teknis seperti penyesuaian pola tanam.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat pernyataan Bos Bulog ini bukan sekadar bentuk skeptisisme terhadap sains iklim, melainkan sebuah strategi manajemen risiko yang sangat cerdas dan realistis. Di sini kita berbicara tentang asymmetry of information atau asimetri informasi yang krusial antara pemangku kebijakan, pelaku usaha, dan petani skala kecil.
Pertama, kita harus memahami bahwa ekonomi pertanian sangat rentan terhadap expectation shocks atau kejutan ekspektasi. Ketika seorang petani mendengar peringatan bencana yang bersifat makro dan probabilistik seperti El Nino, tanpa disertai panduan teknis yang spesifik atau jaminan asuransi, respon rasional mereka adalah menahan diri (risk aversion). Mereka mungkin menunda tanam, mengurangi penggunaan pupuk mahal, atau beralih ke tanaman yang lebih tahan kering namun bernilai ekonomi lebih rendah. Jika ini dilakukan secara massal, kita tidak perlu menunggu kekeringan datang; kelangkaan pasokan akan terjadi lebih cepat karena keputusan produksi yang dibekukan oleh rasa takut. Inilah yang dimaksud dengan self-fulfilling prophecy dalam ekonomi.
Kedua, terdapat ketegangan yang valid antara meteorological data (data BMKG) dan ground reality (realitas lapangan Bulog/Perpadi). BMKG bekerja berdasarkan model statistik dan pengamatan suhu muka laut di Pasifik yang indikatifnya bisa muncul bulan-bulan sebelum dampaknya terasa di darat. Sementara itu, Bulog dan Perpadi berhadapan langsung dengan cash flow dan volume fisik gabah yang masuk ke gudang hari ini. Jika kita terlalu agresif menyalakan alarm bahaya berdasarkan proyeksi jangka panjang tanpa mempertimbangkan buffer stok yang ada saat ini, kita berisiko menciptakan volatilitas harga yang tidak perlu. Spekulasi pasar akan langsung merespons isu El Nino ini, dan yang menjadi korban pertama adalah konsumen dengan daya beli lemah akibat lonjakan harga beras yang disebabkan oleh psikologi pasar, bukan defisit fisik.
Namun, kritik saya terhadap pendekatan ini adalah jangan sampai kehati-hatian berubah menjadi kelambanan. El Nino adalah ancaman struktural, bukan sementara. Sementara Bulog meminta data yang 'pasti', dalam ilmu ekonomi dan iklim, ketidakpastian adalah satu-satunya hal yang pasti. Pemerintah tidak boleh hanya diam menunggu hujan benar-benar berhenti. Strategi komunikasinya harus berubah dari sekadar 'peringatan bahaya' menjadi 'jaminan keamanan'. Petani tidak boleh hanya diberi tahu bahwa kemarau akan datang, tetapi harus diyakinkan bahwa jika mereka menanam, pemerintah memiliki cadangan air, pompa air, dan asuransi panen yang siap menalulangi kerugian.
Jadi, inti permasalahannya bukan pada apakah El Nino itu nyata atau tidak, karena sains sudah membuktikannya. Masalahnya adalah pada timing dan framing komunikasi publik. Kita sedang berjalan di atas garis tipis antara kesiapan (preparedness) dan panik (panic). Jika pemerintah mampu memisahkan kedua hal tersebut—memberi data teknis yang akurat kepada petani untuk penyesuaian pola tanam, sambil menenangkan pasar konsumen dengan transparansi stok Bulog—maka kita bisa keluar dari fenomena El Nino tanpa harus mengalami krisis pangan yang ditakuti. Ekonomi Indonesia yang sedang berupaya mempertahankan pertumbuhan tidak boleh terjungkal karena faktor cuaca yang dikelola dengan komunikasi yang emosional dan tidak presisi.
BERITA TERKAIT

Andoni Iraola: Dari Bournemouth ke Liverpool, Menaklukkan Kota dengan Gaya Baru?

Iran Luncurkan Serangan Rudal ke Basis AS di Teluk: Apa Dampaknya bagi Stabilitas Timur Tengah?
