Solusi Instan atau Penawar Sementara? Banjarnegara Guyur 250 Tablet ke Wilayah Blank Spot
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

BANJARNEGARA – Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mengambil langkah taktis dalam menghadapi ketimpangan digital di wilayah pelosok. Sebanyak 250 unit tablet pintar didistribusikan kepada para siswa yang berada di zona blank spot—wilayah yang hingga kini masih terisolasi dari jangkauan sinyal telekomunikasi maupun akses internet.
Langkah ini diklaim sebagai upaya pemerintah daerah untuk menjembatani jurang pendidikan berbasis teknologi. Perangkat tersebut tidak sekadar diberikan sebagai perangkat keras, namun telah diintegrasikan dengan berbagai materi pembelajaran dan program edukatif yang dirancang untuk memacu kemampuan kognitif serta memperluas wawasan siswa di daerah terpencil.
Distribusi ini menjadi angin segar bagi ribuan siswa yang selama ini terpinggirkan oleh keterbatasan infrastruktur digital. Dengan adanya konten pembelajaran yang sudah terpasang secara offline di dalam tablet, diharapkan proses belajar mengajar tidak lagi terhambat oleh ketiadaan sinyal.
Catatan Redaksi: Menyoal Efektivitas Digitalisasi di Atas Ketiadaan Infrastruktur
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat langkah Pemkab Banjarnegara ini sebagai sebuah paradoks yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Di satu sisi, pemberian tablet adalah langkah pragmatis yang cepat untuk memberikan akses pengetahuan. Namun, di sisi lain, kita harus bertanya: Apakah memberikan gawai di wilayah tanpa sinyal adalah solusi fundamental, atau sekadar 'kosmetik' kebijakan agar terlihat progresif dalam digitalisasi pendidikan?
Kita harus jujur bahwa tablet tanpa konektivitas internet hanyalah sebuah perpustakaan digital statis. Pendidikan modern saat ini bukan sekadar membaca materi, melainkan tentang interaksi, pembaruan data secara real-time, dan kemampuan riset mandiri melalui jaringan global. Jika pemerintah hanya memberikan perangkat tanpa ada roadmap yang jelas mengenai pembangunan menara BTS atau penguatan infrastruktur jaringan di wilayah blank spot tersebut, maka tablet-tablet ini berisiko menjadi barang rongsokan elektronik dalam beberapa tahun ke depan saat perangkat lunaknya usang dan tidak bisa diperbarui (update).
Lebih jauh lagi, saya mengkritisi aspek keberlanjutan (sustainability) dari program ini. Bagaimana dengan pengisian daya listrik di wilayah terpencil tersebut? Apakah ada pelatihan bagi tenaga pendidik di sana untuk mengoperasikan perangkat ini secara maksimal, atau justru tablet ini hanya akan menjadi pajangan di lemari sekolah? Seringkali, proyek pengadaan barang dalam skala besar di daerah terjebak pada formalitas serah terima fisik, namun gagal dalam implementasi pedagogis di lapangan. Hal ini mengingatkan kita pada tantangan serupa dalam fasilitas pendidikan di sekolah rakyat yang seringkali menjadi kendala utama.
Prediksi saya, jika langkah ini tidak dibarengi dengan percepatan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang agresif, maka ketimpangan digital (digital divide) antara siswa kota dan desa di Banjarnegara justru akan semakin terasa. Siswa kota akan terus berlari dengan kecepatan internet 5G, sementara siswa di wilayah blank spot hanya bisa mengandalkan konten statis yang mungkin sudah tidak relevan dalam satu semester. Pemerintah daerah tidak boleh terjebak dalam euforia "bagi-bagi gadget". Yang dibutuhkan siswa di wilayah terpencil bukan sekadar alat, melainkan ekosistem digital yang utuh dan terintegrasi.
BERITA TERKAIT

Pau Cubarsi Bantai Rasisme Rajoy: Semifinal Spanyol vs Prancis Jadi Ajang Persatuan & Taktik Hebat!

BRI Ciptakan Terang di Desa Bojong: Solusi Energi Terbarukan yang Mengubah Kehidupan
