Project Pop Buka Kunci Rahasia Kenangan Oon di Konser 30 Tahun: Bukan Hologram, Tapi Ini yang Bikin Penonton Menangis Sejak Barisan Pertama!

Selebriti
Ayu LestariAyu Lestari
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Project Pop Buka Kunci Rahasia Kenangan Oon di Konser 30 Tahun: Bukan Hologram, Tapi Ini yang Bikin Penonton Menangis Sejak Barisan Pertama!
BAGIKAN:

Waduh, jangan sampai ketinggalan! Project Pop bakal bikin chills di konser legendarisnya Forever Young Forever Fun di Tennis Indoor Senayan, 8 Agustus 2026—dan momen spesial untuk mendiang Oon justru nggak pakai teknologi canggih! Ya, bukan hologram, bukan AR, bukan deepfake—tapi sesuatu yang jauh lebih nyata, lebih berisi, dan lebih menyentuh hati para penggemar yang selama ini merindukan sosok Oon yang penuh tawa, kreativitas, dan kehangatan.

Dalam wawancara eksklusif di Senayan, Odie terbuka soal kepergian Oon pada 2017 yang sempat membuat Project Pop nyaris berhenti bernyanyi. "Tapi mungkin itu juga menjawab, kehilangan Oon adalah bagian tersulit juga dalam perjalanan 30 tahun kita,ā€ ujarnya dengan mata berkaca-kaca—dan langsung bikin netizen di Twitter ramai-ramai tag #OonTetapAda.

Sementara itu, Yosi Mokalu memastikan: no hologram, no shortcuts. ā€œKami mau penghormatan yang berakar, bukan sekadar efek visual,ā€ katanya sambil tersenyum. Bayangkan: di tengah konser yang penuh warna, musik retro, dan penampilan kolaborasi seru, ada satu momen diam—hening, penuh makna—di mana nama, suara, dan jiwa Oon akan hidup lewat sesuatu yang benar-benar manusiawi. Apakah itu? Stay tuned… tapi jangan lupa siapin tisu!

Opini Mendalam: Mengapa ā€˜Tanpa Hologram’ Justru Jadi Poin Terkuat dalam Kenangan Digital Zaman Now?

Sebagai pengamat budaya pop yang sudah melihat bagaimana industri hiburan—terutama di Asia—terjebak dalam nostalgia komodifikasi, keputusan Project Pop menolak hologram bukan sekadar pilihan estetika, tapi pernyataan filosofis yang berani. Di era di mana AI bisa meniru suara, wajah, bahkan gaya bicara mantan artis—termasuk yang sudah tiada—kenapa memilih untuk tidak memanfaatkannya? Jawabannya ada di dalam akar budaya kita: kenangan itu bukan data, tapi relasi.

Project Pop sedang mengajarkan sesuatu yang sangat jarang: membiarkan kehilangan tetap terasa. Dalam budaya pop modern, kematian seringkali di-sanitize—dihilangkan rasa sakitnya lewat teknologi yang membuat sang almarhum ā€˜tetap hadir’. Tapi di sini, Oon tidak dijadikan objek visual, tapi subjek cinta. Momen kenangan yang mereka siapkan—yang belum dibocorkan—kemungkinan besar melibatkan rekaman suara asli, surat, atau bahkan penampilan kolaboratif dengan artis muda yang pernah dibimbing Oon. Ini adalah bentuk ritual komunitas, bukan pertunjukan teknologi. Dan justru di situlah kekuatannya: ketika kita memilih untuk merindukan, bukan sekadar menonton.

Lebih jauh, ini adalah respons terhadap eksploitasi emosional yang marak di industri hiburan. Banyak konser kenangan—baik di Korea, Jepang, bahkan Indonesia—mengubah duka menjadi konten viral: hologram yang tersenyum, lagu yang diulang dengan efek 3D, bahkan AI yang menyanyikan lagu yang belum pernah dibuat. Tapi Project Pop menolak jadi bagian dari industri yang mengkomersialkan kesedihan. Mereka memilih jalan yang lebih sulit: menyimpan kehilangan sebagai ruang suci. Ini bukan hanya soal penghormatan, tapi juga etika kenangan—kapan kita boleh mengingat, kapan kita harus membiarkan yang lalu menjadi lalu, dan kapan kita harus menghidupkan kembali tanpa mengubahnya.

Untuk generasi muda yang tumbuh di tengah arus digital, Project Pop memberi pelajaran tak tertulis: kenangan yang paling otentik adalah yang tidak bisa di-stream-kan. Ia tidak ada di server, tapi di tawa bersama, di lagu yang dinyanyikan sambil menangis, di tangan yang saling menggenggam di tengah gelap. Dan mungkin—hanya mungkin—di satu momen di konser 30 tahun itu, saat lampu redup dan suara gitar intro ā€œAku Tahuā€ terdengar… kita semua akan merasakan sesuatu yang jauh lebih besar dari nostalgia: kebersamaan yang tak pernah benar-benar berakhir.