Misi 'Ayam Kinantan' di Piala Presiden 2026: Antara Euforia Uji Coba dan Realita Grup Neraka

Olahraga
Eka SaputraEka Saputra
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Misi 'Ayam Kinantan' di Piala Presiden 2026: Antara Euforia Uji Coba dan Realita Grup Neraka
BAGIKAN:

MEDAN — PSMS Medan kini tengah memacu mesin persiapan mereka menjelang turnamen pramusim bergengsi, Piala Presiden 2026. Di bawah komando pelatih Eko Purdjianto, skuad berjuluk Ayam Kinantan ini memilih jalur pragmatis dengan memperbanyak laga uji coba melawan tim lokal guna mengasah kohesi antar pemain.

Langkah awal dimulai dengan laga pemanasan melawan Binjai City di Stadion Mini Pancing, Selasa sore. PSMS tampil dominan dan mengamankan kemenangan telak 3-0. Namun, bagi Eko Purdjianto, skor mencolok tersebut hanyalah angka di atas kertas. Fokus utamanya adalah membedah efektivitas taktik dan ketahanan fisik para pemainnya.

Dalam laga tersebut, Eko menerapkan strategi rotasi total dengan membagi skuad menjadi dua komposisi berbeda antara babak pertama dan kedua. Langkah ini diambil untuk memetakan kedalaman skuad serta mengevaluasi sejauh mana pemain mampu mengimplementasikan game model yang tengah dibangun.

"Kami tidak melihat hasil akhirnya. Yang kami cari adalah kondisi pemain, perkembangan fisik, dan pemantapan taktikal di lapangan," tegas Eko Purdjianto. Ia memberikan apresiasi khusus bagi performa tim di babak kedua yang dinilainya lebih impresif dan mulai mendekati standar permainan yang diinginkan.

Kemenangan atas Binjai City diharapkan menjadi suntikan kepercayaan diri sebelum PSMS terjun ke medan perang yang sesungguhnya pada 25 Juli hingga 6 Agustus 2026. PSMS Medan tergabung dalam Grup B yang akan berlaga di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Tantangan berat sudah menanti; mereka harus berhadapan dengan raksasa domestik Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta, serta juara bertahan Port FC asal Thailand.

Sementara itu, Grup A akan dipusatkan di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, yang dihuni oleh Persib Bandung, Arema FC, DPMM FC (Brunei Darussalam), dan Tampines Rovers (Singapura).

Analisis Redaksi: Budi Santoso

Mari kita bicara jujur. Menang 3-0 atas tim lokal seperti Binjai City dalam laga uji coba adalah hal yang lumrah, bahkan bisa dikatakan 'biasa' bagi tim sekaliber PSMS. Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati dinamika sepak bola kita, saya melihat ada risiko jebakan euforia di sini. Kemenangan telak dalam laga tertutup seringkali memberikan rasa aman palsu bagi tim pelatih dan pemain. Masalahnya, lawan yang akan dihadapi di Surabaya nanti bukan Binjai City, melainkan Port FC yang memiliki disiplin taktik level Asia, serta Persija dan Persebaya yang memiliki intensitas permainan jauh di atas rata-rata tim lokal.

Eko Purdjianto memang mencoba bermain aman dengan menekankan bahwa 'hasil bukan fokus utama'. Namun, secara psikologis, tekanan bagi PSMS akan sangat besar. Berada di Grup B yang dijuluki 'Grup Neraka' menuntut PSMS tidak hanya sekadar 'padu', tetapi harus memiliki mentalitas baja. Jika hanya mengandalkan uji coba melawan tim lokal, saya khawatir ada gap kualitas yang terlalu lebar saat mereka berhadapan dengan kecepatan transisi Port FC atau agresivitas lini tengah Persebaya. PSMS butuh lawan uji coba yang setidaknya memiliki level kompetitif yang mendekati lawan grup mereka agar tidak terjadi culture shock taktis saat turnamen dimulai.

Selain itu, catatan mengenai sanksi yang sempat diterima PSMS pada putaran pertama Liga Championship seharusnya menjadi alarm keras. Masalah disiplin pemain adalah penyakit kronis yang bisa menghancurkan strategi sehebat apa pun. Jika Eko tidak mampu membenahi aspek mentalitas dan disiplin di lapangan, maka kemenangan 3-0 di Pancing hanya akan menjadi kenangan manis yang singkat sebelum mereka tergilas oleh efisiensi tim-tim besar di Surabaya.

Prediksi saya, PSMS akan kesulitan jika tetap menggunakan pola permainan yang terlalu terbuka. Mereka harus mampu bermain pragmatis dan efektif. Jika mereka hanya mengandalkan dominasi penguasaan bola tanpa penyelesaian akhir yang klinis, mereka hanya akan menjadi 'pelengkap' di Grup B. Kunci keberhasilan PSMS di Piala Presiden 2026 bukan terletak pada berapa banyak gol yang mereka cetak di laga uji coba, melainkan seberapa mampu mereka meredam agresivitas lawan dan memanfaatkan momentum serangan balik yang mematikan.