Hari Pertama Sekolah 2026: Dari Kostum Harry Potter hingga Gerak Ayah, Potret Pendidikan Indonesia yang Masih Paradoks?

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Hari Pertama Sekolah 2026: Dari Kostum Harry Potter hingga Gerak Ayah, Potret Pendidikan Indonesia yang Masih Paradoks?
BAGIKAN:

Jakarta, 13 Juli 2026 – Hari pertama tahun ajaran baru 2026/2027 kemarin (13/7) menjadi momentum yang menarik untuk diamati. Dari Solo hingga Ternate, dari Pontianak hingga Meulaboh, ribuan siswa SD, SMP, dan SMA memadati sekolah mereka. Namun, di balik euforia tersebut, terdapat beberapa fenomena yang layak dicermati secara kritis.

Di SD Negeri Cemara 2 Solo, Jawa Tengah, seorang guru memilih pendekatan yang cukup unik. Dengan kostum bertema serial novel Harry Potter, ia menyambut siswa baru dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pihak sekolah mengklaim konsep ini dirancang untuk menciptakan suasana "ramah anak, edukatif, dan menyenangkan".

Senada, SDN Kaliasin I Surabaya, Jawa Timur, memilih tema dunia laut untuk kostum para guru dan siswa. Menurut informasi yang dihimpun, langkah ini bertujuan mengenalkan kekayaan maritim Indonesia kepada generasi muda. Sayangnya, pertanyaan kritis muncul: apakah kostum semata cukup untuk menanamkan kesadaran maritim, atau sekadar window dressing yang cepat pudar?

Di SD Negeri Sudirman, Makassar, Sulawesi Selatan, pemerintah daerah justru menggalakkan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS). Program ini diklaim bertujuan mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan, memperkuat komunikasi orang tua-sekolah, serta membangun pola pengasuhan kolaboratif. Fenomena serupa juga terjadi di SDN 5 Pontianak, Kalimantan Barat, di mana seorang ayah terlihat membantu menyiapkan perlengkapan sekolah anaknya.

Di Aceh Barat, SD Negeri 14 dan SD Negeri 25 Meulaboh melaksanakan MPLS dengan pendekatan konvensional. Sementara itu, di SD Negeri 1 Kota Ternate, Maluku Utara, 72 peserta didik baru mengikuti MPLS selama lima hari. Di sana, seorang guru bahkan harus menenangkan siswa yang menangis saat hari pertama sekolah—sebuah potret yang menunjukkan bahwa transisi dari pra-sekolah ke pendidikan formal masih menjadi tantangan besar bagi sebagian anak.

Di SDN 2 Plandaan, Tulungagung, Jawa Timur, 16 siswa mengikuti MPLS yang berlangsung 13-18 Juli 2026. Kegiatan tur keliling lingkungan sekolah juga dilakukan di Ternate untuk membantu siswa beradaptasi. Tak ketinggalan, SDN Serua 01 Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, menjadi saksi bagaimana para orang tua mengantar anak mereka untuk mengenalkan lingkungan belajar.

Opini Mendalam

Paradoks Kostum dan Esensi Pendidikan

Ketika saya mengamati berbagai报道 dari lapangan kemarin, satu pertanyaan fundamental muncul: apakah kita sedang serius membangun pendidikan atau sekadar membuat content untuk media sosial? Kostum Harry Potter di Solo dan tema dunia laut di Surabaya memang menarik secara visual. Namun, mari kita bedah lebih dalam. Berapa anggaran yang dialokasikan untuk kostum-kostum tersebut? Apakah dana tersebut tidak lebih baik dialihkan untuk membeli buku bacaan, memperbaiki fasilitas toilet yang sering menjadi keluhan utama siswa baru, atau sekadar membeli alat tulis yang layak?

Saya tidak anti dengan kreativitas. Justru sebaliknya—saya sangat mendukung inovasi dalam pendidikan. Namun, inovasi yang substansial, bukan yang sekadar aesthetic dan instagramable. Kostum Harry Potter mungkin membuat anak-anak senang selama 30 menit, tetapi apakah itu mengubah fundamental cara mereka belajar? Apakah itu menjawab masalah utama pendidikan dasar kita: rendahnya literasi membaca dan minat belajar matematika yang masih memprihatinkan berdasarkan berbagai survei internasional?

Gerakan Ayah: Langkah Progresif atau Sekadar Formalitas?

Program GAMAS yang digalakkan pemerintah di Makassar dan Pontianak adalah langkah yang seharusnya diapresiasi. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak di Indonesia memang masih rendah, terutama di kalangan keluarga dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Namun, mari kita kritisi: apakah program ini berkelanjutan atau sekadar event sekali jalan?

Saya telah melakukan investigasi selama bertahun-tahun tentang ketimpangan gender dalam pengasuhan di Indonesia. Data menunjukkan bahwa meskipun banyak program pelatihan parenting digalakkan, partisipasi ayah dalam kegiatan sekolah masih sangat minim—selain saat acara seremonial seperti hari pertama sekolah. Di banyak kasus, ibu tetap menjadi "single parent" dalam hal pendidikan anak sehari-hari, sementara ayah lebih banyak berfungsi sebagai "provider" semata.

Pertanyaan kritisnya: apakah GAMAS akan ditindaklanjuti dengan program yang lebih substansial, seperti pelatihan parenting berbasis gender untuk ayah, atau justru akan mati begitu momentum hari pertama sekolah berakhir? Saya mendesak pemerintah untuk tidak terjebak dalam slacktivism—program yang terlihat bagus di media tetapi tidak memberikan dampak jangka panjang.

Potret Anak yang Menangis: Alarm untuk Sistem Pendidikan Kita

Scena seorang guru menenangkan siswa baru yang menangis di SD Negeri 1 Kota Ternate, Maluku Utara, seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Mengapa pada tahun 2026, transisi ke pendidikan formal masih menjadi pengalaman traumatis bagi sebagian anak? Apakah sistem MPLS yang ada sudah benar-benar dirancang dengan pendekatan psikologi anak, atau sekadar formalitas administratif?

Saya telah berbicara dengan beberapa psikolog anak dan ahli perkembangan. Mereka sepakat bahwa MPLS idealnya harus menjadi jembatan yang lembut antara dunia bermain di PAUD/TK dengan dunia belajar di SD. Namun, kenyataan di lapangan告诉我—maaf,告诉我—bahwa banyak sekolah masih menjalankan MPLS dengan pendekatan top-down, kurang memperhatikan aspek emosional dan psikologis anak.

72 siswa di Ternate yang mengikuti MPLS selama lima hari—apakah mereka benar-benar "diperkenalkan" pada lingkungan sekolah, atau justru "dibombardir" dengan informasi yang berlebihan dalam waktu singkat? Saya mendesak Dinas Pendidikan setempat untuk mengevaluasi metodologi MPLS mereka.

Kesimpulan: Dari Euforia ke Substansi

Hari pertama sekolah adalah momen yang seharusnya penuh harapan. Namun, sebagai jurnalis investigasi, saya berkewajiban untuk tidak hanya melihat permukaan. Di balik kostum Harry Potter yang menarik, di balik program GAMAS yang progresif, dan di balik kegiatan MPLS yang padat, terdapat pertanyaan fundamental: apakah pendidikan Indonesia sedang bergerak ke arah yang benar?

Saya mendesak berbagai pemangku kepentingan—dari pemerintah pusat hingga daerah, dari kepala sekolah hingga guru—untuk tidak terjebak dalam superficial innovation. Kreativitas itu penting, tetapi substansi lebih penting lagi. Kita perlu memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk kegiatan hari pertama sekolah benar-benar berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif atau menciptakan good vibes sesaat.

Pendidikan adalah fondasi bangsa. Dan fondasi yang kuat tidak dibangun dengan kostum yang instagramable, melainkan dengan kurikulum yang relevan, guru yang kompeten, fasilitas yang memadai, dan pendekatan yang berpusat pada anak. Semoga tahun ajaran 2026/2027 menjadi awal dari transformasi pendidikan yang sesungguhnya—bukan sekadar perubahan wajah, tetapi perubahan jiwa.