El Nino ‘Godzilla’ Mengancam Pangan Global: Harga Bisa Melonjak 50% hingga 2028
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Jakarta, CNBC Indonesia – Dunia kini dihadapkan pada dua guncangan sekaligus: konflik geopolitik yang mengganggu pasokan energi dan pupuk, serta fenomena iklim ekstrem yang diprediksi menjadi El Nino terkuat dalam satu abad. Kombinasi ini dapat memicu lonjakan harga pangan global hingga 15‑50% dan menurunkan produksi pertanian dunia hingga 14,3%, setara US$342 miliar, dengan dampak penuh baru terasa pada paruh kedua 2028.
Menurut The Guardian (13 Juli 2026), siklus El Nino 2026‑2027 dipicu oleh perubahan pola angin yang memungkinkan air laut hangat menyebar ke wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik ekuator. Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memperkirakan peluang 63 % suhu permukaan laut akan naik lebih dari 2 °C di atas normal pada akhir tahun ini – sebuah level yang belum pernah tercapai dalam catatan modern.
El Nino ekstrem ini diprediksi akan menimbulkan gelombang panas, banjir, dan badai yang lebih intens di seluruh dunia. Dampaknya akan terasa paling keras pada sektor pangan, mengingat banyak negara masih bergulat dengan inflasi tinggi akibat perang Iran yang telah mendorong harga pangan ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Proyeksi Harga dan Produksi
- Goldman Sachs memperkirakan kenaikan harga komoditas pangan global hingga 15,8%.
- Di zona euro, inflasi pangan dapat naik sekitar 1,3%.
- UniCredit menilai skenario El Nino ekstrem dapat memangkas produksi pertanian dunia hingga 14,3% (US$342 miliar), dengan lonjakan harga komoditas utama antara 10‑50% dan bahan pangan kritis seperti beras, minyak sawit, gula, serta kopi dapat melambung 50‑100% atau lebih.
Sejarah menunjukkan El Nino kuat pernah melanda pada 1981‑82, 1996‑97, 2015‑16, dan 2023‑24, masing‑masing menimbulkan kekeringan atau banjir yang mengganggu hasil panen. Namun, NOAA menilai siklus 2026‑27 berpotensi lebih parah, meningkatkan risiko gagal panen, gangguan logistik (penurunan level air sungai dan kanal), serta penyebaran penyakit tanaman.
Dampak Regional
- India: Musim monsun diprediksi hanya 25‑50% curah hujan normal, mengancam pasokan gandum, beras, dan tebu.
- Asia Tenggara: Potensi penurunan produksi minyak sawit, kopi, dan kakao.
- Amerika Utara: Dampak paling terasa pada musim dingin, memicu fluktuasi harga komoditas pertanian.
- Eropa: Kenaikan harga pangan global diperkirakan menjadi faktor inflasi utama, bukan perubahan cuaca langsung.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat tiga implikasi strategis yang harus segera dipertimbangkan oleh pelaku bisnis dan pembuat kebijakan. Pertama, risiko “climate‑inflation” akan memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, menambah beban biaya pinjaman bagi sektor agribisnis dan manufaktur makanan. Kedua, ketergantungan pada rantai pasok yang terpusat – terutama pada bahan baku seperti minyak sawit dan kedelai – menuntut diversifikasi sumber dan investasi dalam teknologi pertanian tahan iklim (misalnya, varietas tahan kekeringan dan sistem irigasi pintar). Ketiga, volatilitas harga pangan akan mempercepat pergeseran pola konsumsi ke produk substitusi yang lebih murah, membuka peluang bagi produsen alternatif (seperti protein nabati) namun sekaligus menekan margin produsen tradisional.
Dalam jangka menengah (2026‑2028), perusahaan multinasional harus menyiapkan strategi hedging komoditas yang lebih agresif, termasuk kontrak forward dan opsi pada komoditas kritis. Pemerintah, di sisi lain, perlu memperkuat cadangan strategis pangan serta mempercepat reformasi subsidi pupuk untuk mengurangi ketergantungan pada impor yang rentan terhadap gangguan geopolitik. Tanpa langkah-langkah ini, risiko kegagalan pasokan dapat berujung pada krisis sosial‑ekonomi yang melampaui sekadar kenaikan harga.
Terakhir, El Nino ‘Godzilla’ bukan sekadar fenomena cuaca; ia adalah katalis yang menguji ketahanan sistem ekonomi global. Bagi investor, sinyal ini berarti penilaian ulang eksposur pada sektor agrikultur, logistik, dan energi – serta pencarian peluang di perusahaan yang sudah mengintegrasikan mitigasi iklim dalam model bisnis mereka. Kesiapan sekarang akan menentukan siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan terpuruk ketika gelombang panas ini mencapai puncaknya.
BERITA TERKAIT

Prabowo Tuduh “Pemimpin Pengkhianat” Usai Kerusuhan: Janji Hukum Karma dan Panggilan Persatuan Nasional

Stephen Chow Kembali Menggebrak Summer: Kung Fu Soccer Pecah Rekor 1,2 Triliun Rupiah dalam 48 Jam!
