Senior Happy Run 5K: Pemerintah Pakai Lansia untuk Dorong Sport Tourism, Tapi Apa Dampaknya?
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Jakarta, 12 Juli 2026 – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menyambut baik pelaksanaan Senior Happy Run 5K 2026 yang digelar oleh Paguyuban Pensiunan Pariwisata (Parapenspar) bersama Beyond Run. Acara yang menampung sekitar 1.000 peserta berusia 50 tahun ke atas ini diposisikan sebagai upaya memperkuat sport tourism nasional, khususnya dalam rangka mempromosikan lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas.
Vinsensius Jemandu, Ahli Utama Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenpar, menegaskan bahwa senior yang berpartisipasi berperan sebagai "duta pariwisata". "Kami berharap setiap destinasi prioritas dapat menggelar acara serupa, sehingga sport tourism menjadi bagian integral dari strategi pariwisata Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers di kantor Kementerian Pariwisata.
Menurut Sapta Nirwandar, Dewan Pembina Parapenspar, inisiatif ini juga bertujuan memberi ruang gerak sosial bagi para pensiunan yang telah meniti karier panjang. "Angka 1.000 peserta, banyak di antaranya berusia 60‑70 tahun, melampaui ekspektasi kami. Ini bukti bahwa kebutuhan akan aktivitas fisik dan kebersamaan tetap kuat di kalangan senior," katanya.
Ketua Pelaksana, Oni Yulfian, menambahkan bahwa lomba ini dibagi menjadi dua kategori: kompetisi waktu tercepat dan kompetisi kreativitas. Peserta diminta menampilkan kostum adat yang mewakili lima destinasi prioritas – Toba, Borobudur, Mandalika, Likupang, dan Labuan Bajo – dengan masing‑masing BIB berwarna berbeda.
Namun, di balik sorotan positif, muncul pertanyaan kritis mengenai keberlanjutan dan dampak riil dari program ini. Apakah sekadar acara satu hari dapat menggerakkan industri pariwisata yang masih bergulat dengan penurunan kunjungan pasca‑pandemi? Ataukah ini hanya menjadi simbolik yang menutupi kurangnya kebijakan struktural?
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat Senior Happy Run 5K sebagai upaya pemerintah yang masih berada pada tahap pilot dalam mengintegrasikan sport tourism ke dalam agenda pariwisata. Menggunakan lansia sebagai duta memang memiliki nilai simbolik kuat – mereka mewakili generasi yang pernah menjadi tulang punggung industri pariwisata. Namun, tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, promosi melalui acara lari singkat tidak akan cukup untuk mengubah persepsi wisatawan internasional.
Lebih jauh, fokus pada lima destinasi super prioritas menimbulkan risiko konsentrasi sumber daya yang berlebihan. Destinasi lain yang memiliki potensi sport tourism, seperti kawasan pegunungan di Sumatra Utara atau pulau-pulau kecil di Maluku, terpinggirkan. Pemerintah perlu mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif, mengidentifikasi dan mengembangkan potensi sport tourism secara merata, bukan sekadar mengandalkan acara simbolik.
Selanjutnya, keterlibatan senior dalam acara semacam ini harus diiringi dengan kebijakan kesehatan yang berkelanjutan. Penyediaan layanan medis, program kebugaran rutin, dan akses ke fasilitas olahraga yang ramah usia akan memperkuat dampak jangka panjang. Tanpa itu, acara ini berpotensi menjadi "eventitis" – fenomena di mana acara besar muncul sesekali namun tidak meninggalkan warisan struktural.
Terakhir, transparansi penggunaan dana menjadi isu penting. Anggaran yang dialokasikan untuk Senior Happy Run harus dipertanggungjawabkan secara publik, termasuk rincian sponsor, biaya operasional, dan kontribusi terhadap pengembangan destinasi. Hanya dengan akuntabilitas yang jelas, inisiatif semacam ini dapat menghindari tuduhan politisasi atau pemborosan anggaran publik.
Kesimpulannya, Senior Happy Run 5K merupakan langkah awal yang patut diapresiasi, namun tidak boleh dijadikan akhir dari upaya sport tourism. Pemerintah harus memperkuat kebijakan, memperluas cakupan, dan memastikan bahwa setiap langkah memiliki dampak yang terukur dan berkelanjutan bagi industri pariwisata Indonesia.
BERITA TERKAIT
Rahmi Hatta Ungkap Rahasia di Balik Kebaya Bernama: Koleksi Ikonik yang Masih Memukau
Gempa Venezuela Merenggut 4.333 Nyawa: Pemerintah Tanggapi dengan Bantuan Terbatas dan Krisis Perumahan Menggantung
