Jude Bellingham Buktikan Tekad Inggris: Dari Ketinggalan ke Kemenangan Dramatis 2-1 atas Norwegia
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 yang berlangsung pada Minggu (WIB), Inggris berhasil membalikkan keadaan dan menumbangkan Norwegia dengan skor menang 2-1. Kemenangan tersebut tidak lepas dari peran gemilang gelandang muda Real Madrid, Bellingham, yang mencetak dua gol krusial, termasuk gol penentu di menit ke-93 babak perpanjangan waktu.
Norwegia sempat unggul lebih dulu berkat gol Andreas Schjelderup pada menit ke-36. Namun, tekad tim Inggris yang dipimpin oleh Thomas Tuchel tidak goyah. Bellingham menyamakan kedudukan pada tambahan waktu babak pertama, lalu menambah satu gol lagi di menit akhir pertandingan, memastikan Three Lions melaju ke semifinal.
Setelah pertandingan, Bellingham menegaskan bahwa karakter dan kegigihan menjadi kunci utama. "Kami tidak pernah menyerah meski situasi tidak menguntungkan. Semua pemain memberikan yang terbaik, dan dukungan seluruh bangsa Indonesia sangat berarti," ungkapnya dalam pernyataan resmi yang dirilis FIFA.
Pria berusia 23 tahun itu juga memuji rekan-rekannya, menambahkan, "Saya sangat bangga dengan tim ini. Kemenangan ini milik semua orang yang berada di belakang kami, termasuk staf dan para pendukung yang selalu memberi semangat."
Dengan hasil ini, Inggris kini akan bertemu pemenang perempat final lainnya, yakni konfrontasi antara Argentina dan Swiss, dalam laga semifinal yang dijadwalkan beberapa hari mendatang.
Analisis Pakar
Keberhasilan Inggris mengatasi Norwegia bukan sekadar kebetulan; ia mencerminkan evolusi taktik Thomas Tuchel yang menekankan fleksibilitas dan mentalitas "never give up". Bellingham, yang kini menjadi ujung tombak serangan, menunjukkan kedewasaan luar biasa dalam mengendalikan tempo pertandingan dan mengeksekusi peluang di momen krusial. Kemampuannya mencetak gol di menit-menit akhir menandakan tidak hanya kualitas teknis, tetapi juga ketahanan mental yang jarang ditemui pada pemain seusianya.
Dari sudut pandang taktik, Inggris berhasil memanfaatkan ruang di sayap kanan, memaksa pertahanan Norwegia terbuka, dan kemudian menyalurkan bola ke Bellingham yang berada di zona berbahaya. Pergeseran formasi menjadi 4-3-3 dengan penekanan pada pressing tinggi memungkinkan Inggris merebut bola kembali lebih cepat, menciptakan transisi menyerang yang mematikan. Ini menunjukkan bahwa Tuchel tidak sekadar mengandalkan talenta individu, melainkan mengintegrasikan seluruh unit dalam skema kolektif yang terstruktur.
Namun, tantangan berikutnya tidak akan semudah melawan Norwegia. Jika Inggris melaju ke final, mereka akan berhadapan dengan tim-tim yang memiliki kedalaman skuad dan pengalaman internasional yang lebih luas, seperti Argentina atau Swiss. Kunci keberhasilan selanjutnya terletak pada konsistensi defensif, kemampuan mengontrol tempo, serta mengelola tekanan psikologis yang semakin intens.
Secara keseluruhan, kemenangan ini menegaskan bahwa Inggris kembali berada di jalur yang tepat untuk bersaing memperebutkan trofi Piala Dunia. Jika mereka dapat mempertahankan mentalitas pantang menyerah dan mengoptimalkan taktik yang ada, peluang mereka untuk menjuarai turnamen ini semakin realistis. Namun, segala sesuatunya masih terbuka; satu kesalahan kecil saja dapat mengubah nasib mereka di babak selanjutnya.
BERITA TERKAIT
Rahmi Hatta Ungkap Rahasia di Balik Kebaya Bernama: Koleksi Ikonik yang Masih Memukau
Gempa Venezuela Merenggut 4.333 Nyawa: Pemerintah Tanggapi dengan Bantuan Terbatas dan Krisis Perumahan Menggantung
