FIFA Siap Bongkar Tradisi: 64 Tim di Piala Dunia 2030? Strategi Politik atau Hanya Mainan Prestasi?
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Presiden FIFA Gianni Infantino kembali memunculkan kontroversi dengan mengusulkan penambahan peserta Piala Dunia ke 64 tim pada edisi 2030, mengajak dunia sepak bola menatap strategi ini sebagai āpembentukan politik baru di sisi sederhanaā. Di tengah pernyataannya yang terasa lebih seperti promosi marketing daripada analisis teknis, tidak ada wawasan mendalam tentang dampak ekonomi, kompetisi, dan identitas budaya yang akan diubah.
Infantino menolak menjawab pertanyaan kritis: āMengapa 64? Mengapa tepat pada 2030? Siapa yang menguntungkan?ā Balasan yang diberikan hanya berupa retorika yang menggarisbawahi bahwa keputusan ini didorong oleh kepentingan komersial dan keinginan mengontrol narasi global sepak bola, bukan oleh kebutuhan pembangunan kompetisi yang sehat.
Sebagai jurnalis yang mengintai, kita harus mempertanyakan apakah penambahan peserta benar-benar meningkatkan āpersaingan merataā atau justru mengabdikasi kompetisi tradisional dengan menempatkan timātim yang belum siap secara infrastruktur, ekonomi, atau tata kelola. Data sejarah menunjukkan bahwa peningkatan jumlah peserta pada 2026 justru menimbulkan gap yang lebih lebar antara negaraānegara elite dan yang lain, bukan mengurangkannya.
Jika FIFA benarābenar ingin memperluas ruang bagi negaraānegara di luar kekuatan tradisional, langkah yang lebih bijak adalah investasi pada infrastruktur, pelatihan, dan pengadministrasi yang berkelanjutan, bukan sekadar menambah slot pada kompetisi. Menggunakan āmimpiā sebagai alat persuasif adalah taktik yang sederhana, namun berpotensi menimbulkan pemborosan sumber daya dan penurunan kualitas kompetisi secara keseluruhan.
Analisis Pakar
Dalam menilai strategi Infantino, kita harus melihat di balik kertas: apakah ini upaya rebranding FIFA untuk menghindari krisis legitimasi setelah skandal etika? Atau justru langkah preāemptive untuk mengunci masa depan penyelenggaraan kompetisi yang lebih demokratis? Saya menilai ini sebagai āpembentukan oligarki baruā yang menguasai agenda turnamen global, dengan mengancam tradisi liga nasional dan mengorbankan integritas kompetisi demi profit eksklusif.
Prediksi saya: Jika FIFA melanjutkan ekspansi ke 64 tim tanpa fondasi struktural yang kuat, kita akan menyaksikan penurunan standar pertandingan, peningkatan matchāfixing, dan overācommercialization yang menghilangkan jiwa sepak bola. Saya menyarankan agar media, penonton, dan pemangku kepentingan menuntut transparansi penuh tentang basis data, analisis biayaāmanfaat, dan mekanisme pengawasan yang independen sebelum mengakui keputusan ini sebagai āpencapaianā.
Akhirnya, sebagai penonton setia, kebenaran yang harus kami pertahankan adalah bahwa kecerdasan sepak bola tidak diukur oleh jumlah tim, melainkan oleh kualitas kompetisi, integritas, dan rasa kebebasan yang dipertahankan. Jika FIFA ingin benarābenar memperluas ruang bagi negaraānegara baru, mereka harus membangun jalan, bukan hanya menambah kursi.
BERITA TERKAIT

UU P2SK Direvisi: Pemerintah Resmi Bentuk Satgas Anti Judi dan Pinjaman Online ā Apa Dampaknya bagi Keuangan Nasional?

Kebijakan Asrama Sekolah Rakyat Kaltim: Solusi Disiplin atau Eksperimen Sosial yang Berisiko?
