Batu Akik Bacan Turun 90%: Dampak Besar bagi Investor dan Pasar Permata Indonesia

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Batu Akik Bacan Turun 90%: Dampak Besar bagi Investor dan Pasar Permata Indonesia
BAGIKAN:

Pasar batu akik di Rawa Bening (Jakarta Gems Center), Jatinegara, yang pernah menjadi pusat perdagangan mewah pada era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, kini menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Meskipun tren global masih mengangkat batu safir biru Sri Lanka sebagai primadona, batu Bacan asal Maluku Utara—yang sempat menembus harga Rp250 juta per karat—sudah mengalami penurunan nilai drastis.

Penurunan harga yang mengkhawatirkan: Menurut pedagang senior Sandi Shadewo, harga batu Bacan kini berfluktuasi antara Rp500 ribu hingga Rp50 juta, tergantung kualitas. "Jika dulu dibanderol Rp250 juta, kini hampir 10 kali lipat lebih murah," ujarnya kepada CNBC Indonesia pada 12 Juli 2026.

Sandi menilai bahwa batu safir biru Sri Lanka tetap menjadi yang paling mahal, dengan harga rata-rata sekitar Rp3 juta per karat. "Blue Safir dari Sri Lanka itu yang paling mahal. Pokoknya dari Sri Lanka itu top, nomor satu," tegasnya.

Pedagang lain, Jeje, menambahkan bahwa tidak ada satu jenis batu yang secara eksklusif mendominasi permintaan saat ini, namun batu Bacan tetap menjadi topik pembicaraan. "Harga batu bacan juga bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta. Saat masa keemasannya, harga batu tersebut bisa menyentuh angka ratusan juta hingga miliaran rupiah," katanya.

Selain dinamika harga batu, Jeje mengamati kenaikan harga perak—bahan utama untuk cincin—yang memaksa penjual menyesuaikan harga perhiasan berbasis perak.

Analisis Pakar

Penurunan tajam harga batu Bacan mencerminkan dua fenomena makroekonomi penting: pertama, pergeseran selera konsumen global menuju permata yang memiliki standar kualitas dan sertifikasi internasional, seperti safir biru Sri Lanka. Kedua, volatilitas nilai tukar dan kenaikan biaya produksi logam (perak) yang menambah beban biaya bagi produsen perhiasan lokal. Bagi investor, ini berarti risiko tinggi pada aset permata yang tidak memiliki dukungan lembaga sertifikasi yang kuat.

Dari perspektif pasar modal, penurunan nilai Bacan dapat memicu penjualan kembali (sell‑off) oleh pemilik yang menganggapnya sebagai aset spekulatif. Hal ini berpotensi menurunkan likuiditas di bursa komoditas permata Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi pemain baru yang menguasai rantai pasokan dan memiliki akses ke batu berkualitas tinggi dengan harga kompetitif.

Strategi yang dapat dipertimbangkan oleh pelaku bisnis adalah diversifikasi portofolio ke permata yang memiliki permintaan stabil, seperti safir, ruby, atau bahkan batu semi‑mulia yang diproses menjadi produk bernilai tambah (misalnya perhiasan desain eksklusif). Selain itu, memperkuat transparansi melalui sertifikasi gemological independen dapat meningkatkan kepercayaan pembeli dan menstabilkan harga.

Ke depan, jika pemerintah dan asosiasi industri perhiasan dapat mengembangkan standar kualitas nasional serta memfasilitasi akses pasar internasional, batu Bacan berpotensi kembali naik nilai. Namun, tanpa intervensi kebijakan yang tepat, tren penurunan harga ini kemungkinan akan berlanjut, menjadikan Bacan lebih sebagai barang koleksi niche daripada instrumen investasi utama.