Piala Dunia 2026: Belgium dan Maroko Tumbang, Spanyol dan Prancis Menguasai Jalur ke Semifinal!
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Stadion Los Angeles menyaksikan drama elak-elak pada dini hari tadi (11/7) WIB! Dalam pertandingan kedua perempat final Piala Dunia 2026, Belgia gagal menaklukkan Spanyol dan harus pulang dengan kepala terguling. Skor 1-2 untuk kemenangan Spanyol menjadi bukti bahwa kembaran āRed Devilsā tak bisa mengulangi keberuntungan masa lalu. Sementara itu, keesokan harinya (10/7), Maroko juga tak salah seperti tampil lemah 0-2 dihadapi Prancis. Dua tim yang pernah menyalip nafas dunia ini kini takut untuk melangkah lebih jauh.
Spanyol menunjukkan kelasnya sejak awal! Pada menit 30, Fabian Ruiz mendapatkan rebound dari tendangan keras Pau Cubarsi untuk membuka gelas. Meski Belgia berhasil menyamakan 1-1 lewat sundulan Charles De Ketelaere di menit 41, Mikel Merino kembali menjadi pahlawan dengan gol kemenangan di menit 88. Kiper Belgia, Thibaut Courtois, sempat menjadi penyelamat dengan beberapa penyelamatan memukau, tetapi cedera pada menit 71 memaksa pelatih Belgium menggantinya dengan Senne Lammens. Kesalahan Lammens dalam menghadapi tembakan Cubarsi menjadi katalis utama kemenangan Spanyol.
Maroko, yang sempat menjadi kejutan di Piala Dunia 2022, kini tak bisa menambah cerita baru. Dibekuk 0-2 oleh Prancis, āAtlas Lionsā kehilangan kendali di tengah hujan emosi dari suporter. Prancis, dengan performa konsisten, membuktikan diri sebagai salah satu favorit untuk meraih gelar juara. Kini, Spanyol dan Prancis akan bertemu di semifinal, menjanjikan duel taktikal yang mematikan.
Analisis Pakar: Keterbatasan Taktik Belgia vs Dominasi Spanyol
Belgium kini menyaksikan masa keemasan mereka runtuh perlahan. Sejak meraih peringkat ketiga di Piala Dunia 2018, āRed Devilsā tak pernah seperti dulu. Kekalahan ini bukan hanya soal keberuntungan buruk, tetapi juga keterbatasan taktik. Roberto Martinez terlalu bergantung pada pemain-pemain tua seperti Kevin De Bruyne dan Eden Hazard, sementara generasi muda seperti De Ketelaere belum cukup siap untuk menggantikan peran mereka. Kehilangan Courtois di menit krusial juga menjadi poin tak mengembalikanāCourtois bukan sekadar kiper, ia adalah simbol ketenangan Belgia. Tanpa dirinya, gawang mereka terlalu rentan.
Spanyol justru membuktikan eksistensi mereka sebagai tim yang tak bisa dipandang ringan. Dengan dominasi penguasaan bola hingga 65 persen, La Furia Roja menunjukkan identitas khas mereka: kombinasi antara kecepatan pemula muda seperti Gavi dan pengalaman pemain senior seperti Sergio Busquets. Mikel Merino, yang sering dianggap sebagai āpemain cadanganā, justru menjadi pahlawan dengan mentalitas menyerang yang tinggi. Taktik Luis de la Fuente yang fleksibelāberganti dari 4-3-3 menjadi 4-2-3-1 saat lawan Belgiaāterbukti efektif. Ini adalah Spanyol yang kembali menaklukkan hati para penggemar sepak bola klasik.
Maroko, di sisi lain, terlalu sering mengandalkan keberuntungan. Di Piala Dunia 2022, mereka lolos dari fase grup berkat hasil yang menguntungkan. Namun, di 2026, kurangnya kedalaman skuad dan ketergantungan pada Achraf Hakimi membuat mereka mudah dihancurkan. Prancis, dengan kanvas yang luas dan pemain seperti Kylian Mbappe yang tak pernah gagal memenuhi ekspektasi, kini berada di jalur yang sangat terbuka untuk meraih gelar juara. Belgia dan Maroko kini harus kembali ke meja perencanaan, sementara Spanyol dan Prancis akan terus menjadi sorotan dunia.
BERITA TERKAIT

Misteri Pengunduran Diri Febrie Adriansyah: Komitmen Hukum atau Tekanan Politik?
Tragedi Kebakaran Hutan di AlmerĆa: 11 Tewas, 19 Hilang, Mayoritas Korban Turis Asing
