Meninggalnya Rachmat Gobel: Refleksi Kematian Sang “JK” di Balik Upacara Militer

Berita Nasional
Rina WijayaRina Wijaya
Rina Wijaya
Rina Wijaya
Jurnalis Investigasi

Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

Meninggalnya Rachmat Gobel: Refleksi Kematian Sang “JK” di Balik Upacara Militer
BAGIKAN:

Jakarta, 10 Juli 2026 – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) hadir di pemakaman Rachmat Gobel, yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada sore hari Jumat. Kalla, yang dikenal akrab dengan Gobel, melontarkan pernyataan yang menimbulkan pertanyaan tentang kedekatan elit politik‑ekonomi di Indonesia.

"Pak Rachmat adalah sosok yang sangat baik, ramah, dan memiliki latar belakang sebagai pengusaha sekaligus politisi – hampir sama dengan saya," ujar JK di tengah upacara yang diiringi oleh prajurit Komando Garnisun Tetap 1/Jakarta. Pernyataan tersebut, meski tampak bersahabat, menyiratkan sebuah pola yang sudah lama mengakar: persilangan antara dunia bisnis dan politik yang kerap menimbulkan konflik kepentingan.

Menurut JK, Gobel dikenal sebagai pribadi yang "rajin dan tepat waktu" serta "berteman dengan semua orang". Ia menambahkan, "Dia memahami masalah dan sangat ramah, itu ciri beliau." Namun, di balik pujian tersebut, tidak dapat diabaikan fakta bahwa Gobel pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR (2019‑2024) dan Menteri Perdagangan (2014‑2015), serta menerima Bintang Mahaputera Adipradana. Kedudukan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana jaringan bisnisnya memengaruhi kebijakan publik selama masa jabatannya.

Upacara pemakaman digelar secara militer, dengan Wakil Ketua DPRD Jakarta, Mustopa, sebagai inspektur upacara. Penyelenggaraan upacara militer untuk seorang mantan menteri dan pengusaha menegaskan status istimewa yang diberikan kepada elit politik‑ekonomi, sekaligus menyoroti ketimpangan dalam penghormatan publik antara pejabat tinggi dan warga biasa.

Rachmat Gobel, lahir 3 September 1962, anak Thayeb Mohammad Gobel dan Annie Noto Gobel, menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 03.20 WIB di Rumah Sakit Brawijaya Tebet karena komplikasi kesehatan. Meskipun ia meninggalkan warisan penghargaan negara, warisan tersebut juga mengundang kritik tentang bagaimana kekuasaan dan kekayaan dapat saling memperkuat dalam sistem politik Indonesia.

Analisis Pakar

Sebagai seorang jurnalis investigasi, saya melihat kematian Gobel bukan sekadar kehilangan pribadi, melainkan sebuah momen untuk menilai kembali dinamika kekuasaan di Indonesia. Kedekatan antara JK dan Gobel menegaskan bahwa jaringan elit politik‑ekonomi masih sangat terjalin, memunculkan risiko kolusi yang sulit diungkap secara transparan. Kebijakan yang diambil selama masa jabatan Gobel, terutama di sektor perdagangan, perlu ditelusuri lebih dalam untuk mengidentifikasi potensi konflik kepentingan yang mungkin menguntungkan kelompok bisnis tertentu.

Upacara militer yang diberikan kepada Gobel menimbulkan pertanyaan tentang standar penghormatan yang berbeda bagi pejabat tinggi dibandingkan dengan warga biasa. Praktik ini memperkuat persepsi publik bahwa elit politik menikmati privilese khusus, yang pada gilirannya dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Ke depan, penting bagi lembaga pengawas dan media untuk menuntut transparansi yang lebih besar terkait hubungan antara pejabat publik dan dunia bisnis. Tanpa akuntabilitas yang kuat, pola "saling menguntungkan" antara politikus dan pengusaha akan terus menggerogoti integritas demokrasi Indonesia.