Kim Jae-joong Kembali ke Layar Lebar: Jadi Dukun Misterius di Film Horor ‘The Shrine’ yang Bikin Merinding!
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

The Shrine hadir sebagai kolaborasi menegangkan antara Korea Selatan dan Jepang, mengusung legenda kamikakushi—kisah orang yang tiba‑tiba hilang karena diculik dewa atau roh jahat. Film horor misteri ini bakal menguji nyali penonton dengan atmosfer desa terpencil di Kobe yang dipenuhi rahasia kelam.
Setelah 14 tahun menghilang dari layar lebar, Kim Jae-joong kembali dengan peran yang tak terduga: seorang dukun muda berkemampuan spiritual. Ia berperan sebagai Myung‑jin, mantan senior universitas yang dipanggil kembali oleh manajer desa, Yu‑mi (diperankan oleh Kong Seong‑ha), untuk mengungkap hilangnya mahasiswa secara misterius.
Kisah dimulai ketika sekelompok mahasiswa pertukaran budaya tiba di sebuah desa kecil untuk menyiapkan pameran. Salah satu dari mereka menghilang secara tiba‑tiba saat menyusuri kuil tua terbengkalai. Dari situ, rangkaian kejadian aneh—suara bisikan, bayangan mengintai, hingga kematian menakutkan—mulai menghantui mereka satu per satu.
Hubungan retak antara Yu‑mi dan Myung‑jin menambah bumbu drama. Yu‑mi dulu memutuskan menjauh karena masa lalu yang kelam, namun kini hanya Myung‑jin yang memiliki kemampuan untuk mendengar suara‑suara gaib dan berhadapan langsung dengan entitas jahat yang menguasai kuil.
Dengan arahan sutradara Jepang Kazuyoshi Kumakiri dan naskah karya Choi Deuk‑ryoung serta Namiko So**, film ini memadukan shamanisme Korea dengan mitos urban Jepang, menciptakan atmosfer yang sekaligus menakutkan dan memikat. Pemeran pendukung seperti Ko Hoon‑jeong, Han Kino, Lah Hyun‑jin, dan Song Woo‑ju menambah kedalaman cerita.
Film ini dibintangi label R13, cocok untuk penonton berusia 13 tahun ke atas, dan akan tayang di bioskop Indonesia mulai 10 Juli 2026. Siapkan popcorn, karena The Shrine bukan sekadar horor biasa—ini adalah perjalanan menembus batas antara dunia nyata dan dunia roh.
Analisis Pakar
Secara konseptual, The Shrine menandai langkah berani dalam sinema Asia dengan menggabungkan dua tradisi mistik yang selama ini terpisah: shamanisme Korea dan kamikakushi Jepang. Kombinasi ini bukan sekadar gimmick visual, melainkan upaya mendalam untuk mengeksplorasi bagaimana budaya memaknai “hilangnya” seseorang—baik secara fisik maupun spiritual. Dalam konteks budaya pop, film ini dapat menjadi jembatan yang memperkenalkan penonton Indonesia pada mitologi yang selama ini kurang terekspos.
Kim Jae‑joong kembali ke layar lebar setelah lebih dari satu dekade, dan pilihannya untuk memerankan dukun muda bukan kebetulan. Karakternya menuntut kemampuan akting yang menggabungkan ketenangan spiritual dengan intensitas emosional, sesuatu yang jarang terlihat dalam peran-peran idol K‑pop sebelumnya. Jika penampilannya berhasil, ini bisa membuka peluang bagi lebih banyak bintang K‑pop untuk menembus genre horor, memperkaya diversitas peran mereka.
Namun, tantangan terbesar film ini terletak pada eksekusi atmosfernya. Menggabungkan elemen horor tradisional Jepang—seperti kuil terbengkalai dan roh‑roh yang tak terlihat—dengan estetika visual Korea yang cenderung lebih modern memerlukan keseimbangan yang halus. Jika sutradara Kumakiri berhasil menyeimbangkan kedua gaya ini, The Shrine dapat menjadi contoh baru bagi kolaborasi lintas negara dalam genre horor, menandai era baru sinema Asia yang lebih terintegrasi.
Prediksi saya, film ini akan menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta horor dan budaya pop, terutama karena kehadiran Kim Jae‑joong yang sudah memiliki basis penggemar luas. Jika dipasarkan dengan tepat—menonjolkan misteri kamikakushi dan kemampuan spiritual sang dukun—film ini berpotensi menjadi hit box office sekaligus membuka pintu bagi lebih banyak produksi serupa yang menggabungkan mitos Asia Timur. Jadi, jangan sampai ketinggalan, karena The Shrine bukan sekadar film horor, melainkan sebuah eksperimen budaya yang menantang batas imajinasi kita.
BERITA TERKAIT

Bali Siapkan Bandara Letkol Wisnu sebagai Penyelamat Udara: Ambisi Gubernur atau Proyek Tanpa Dasar?

Ambisi Kursi Legislatif: Strategi 'Bahlil Effect' dalam Konsolidasi Golkar Aceh
