Ginger Waste Could Power the Future: BRIN's Breakthrough in Biobriquette Tech!
Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

JAKARTA, 10 Juli 2026 – Limbah rimpang jahe, yang selama ini dianggap sebagai sampah industri, kini bertransformasi menjadi energi alternatif ramah lingkungan berupa biobriket. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan teknologi konversi biomassa rimpang jahe menjadi bahan bakar padat melalui proses karbonisasi dan pencetakan, sebagai langkah strategis mendukung transisi energi dan ekonomi sirkular.
Menurut Anny Sulaswatty, peneliti di Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, peningkatan produksi minyak atsiri dari jahe, serai, kayu manis, dan kayu-kayu premium (seperti cendana dan gaharu) menghasilkan limbah padat yang belum dimanfaatkan secara optimal. Namun, limbah rimpang jahe justru menawarkan potensi tinggi karena mengandung lignoselulosa dengan kandungan karbon mencapai 45,98%, melalui proses pirolisis dapat diubah menjadi biochar berkualitas tinggi.
Proses pembuatan biobriket melibatkan pengeringan, karbonisasi, pencampuran dengan perekat, dan pencetakan. Penelitian ini menguji berbagai jenis perekat untuk mencapai karakteristik optimal, termasuk kadar air, abu, zat terbang, densitas, serta nilai kalor. Hasilnya, biochar dari limbah jahe menunjukkan struktur lebih berpori dan kandungan karbon yang lebih tinggi setelah karbonisasi, sementara pemilihan perekat yang tepat meningkatkan kekuatan mekanik dan stabilitas pembakaran.
Teknologi ini tidak hanya menambah nilai ekonomi limbah agroindustri, tetapi juga memberikan solusi untuk mengurangi dampak lingkungan dari akumulasi limbah penyulingan. Dengan potensi aplikasi di industri minyak atsiri, herbal, hingga UMKM, biobriket jahe bisa menjadi andalan energi terbarukan di masa depan.
Analisis Pakar: Dari Limbah ke Energi, Apakah Ini Solusi Nyata?
Seperti kita ketahui, transisi energi global kini menjadi faktor krusial dalam perdebatan iklim dan keberlanjutan. Penelitian BRIN tentang biobriket dari limbah rimpang jahe menarik perhatian karena menggabungkan dua isu besar: pengelolaan limbah biomassa dan pengembangan energi terbarukan. Namun, pertanyaannya adalah: apakah teknologi ini dapat bersaing dengan solusi energi biomassa yang sudah mapan, seperti bahan bakar biodiesel atau bioetanol?
Dari perspektif teknis, proses karbonisasi dan pirolisis memang efektif meningkatkan kandungan karbon dan mengurangi kadar air serta zat terbang. Namun, skalabilitasnya perlu dipertanyakan. Proses pengeringan dan karbonisasi memerlukan energi tinggi, yang bisa menjadi beban biaya produksi. Selain itu, ketersediaan limbah rimpang jahe secara konsisten harus dijamin agar tidak mengganggu rantai pasok bahan baku. Tanpa regulasi yang ketat, risiko over-harvesting jahe bisa terjadi demi memenuhi permintaan energi.
Dari sisi ekonomi, potensi nilai tambah dari limbah agroindustri ini sangat besar, terutama bagi UMKM di Indonesia yang menghasilkan limbah jahe secara massal. Jika dikembangkan dengan model kolaboratif antara peneliti, industri, dan pemerintah, biobriket ini bisa menjadi peluang ekonomi sirkular yang inklusif. Namun, tantangan lain adalah standar kualitas. Untuk bersaing di pasar global, biobriket harus memenuhi standar internasional seperti ISO atau standar energi negara maju. Ini memerlukan investasi pada infrastruktur pengujian dan sertifikasi yang belum tentu tersedia di seluruh Indonesia.
Dari sudut pandang teknologi, inovasi ini bisa menjadi fondasi bagi pengembangan energi biomassa terintegrasi. Misalnya, dengan menggabungkan teknologi IoT untuk memantau kualitas biochar atau menggunakan mesin pencetakan otomatis untuk efisiensi produksi. Namun, saya khawatir jika penelitian ini hanya berhenti pada laboratorium tanpa ada roadmap komersialisasi yang jelas. Tanpa mitra industri atau dukungan kebijakan, teknologi ini berisiko menjadi 'jurnal yang mengumpetkan'.
Akhir kata, biobriket jahe adalah langkah maju yang perlu didukung, tetapi tantangan implementasinya tidak bisa diabaikan. Kuncinya ada di kolaborasi lintas sektor, regulasi yang mendukung, dan adaptasi teknologi yang berkelanjutan. Jika berhasil, Indonesia bisa menjadi pionir energi biomassa di Asia Tenggara. Tapi jika tidak, ini hanya akan menjadi cerita menarik di forum konferensi.
BERITA TERKAIT

Menag Nasaruddin Umar: Jangan Biarkan Masjid Hanya Jadi 'Monumen' Megah Tanpa Jiwa

Ali Sadikin: Maecenas Kontroversial atau Penjaga Seni Jakarta yang Terlupakan?
