Diplomasi Terancam Mati: IAEA Kehilangan Jejak Nuklir Iran, PBB Wanti-wanti AS & Israel Jangan Lagi 'Bunuh' Jalur Perundingan
Siti Rahmawati
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dewan Keamanan PBB, dalam sidang darurat di Washington DC, Jumat (16/6), menyampaikan kekhawatiran mendalam atas keruntuhan sistem verifikasi nuklir global yang kini berada di ambang kehancuranābukan karena kegagalan teknis, melainkan karena aksi militer sepihak yang menghancurkan jejak fisik dan data intelijen program nuklir Iran. Wakil Sekretaris Jenderal PBB Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian, Rosemary DiCarlo, secara terbuka mengungkapkan bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA) kini ākehilangan kesinambungan informasiā atas seluruh fasilitas nuklir Iran yang telah dideklarasikan, termasuk stok material terkaya, komponen sentrifugal, rotor, bellow, air berat, hingga konsentrat bijih uraniumāsemua informasi yang tidak bisa dikembalikan.
DiCarlo, yang menyampaikan pesan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres, menekankan bahwa diplomasi bukan lagi pilihan idealāmelainkan satu-satunya jalan yang tersisa untuk mencegah kehancuran total mekanisme non-proliferasi global. āSekretaris Jenderal menyerukan seluruh pihak untuk terlibat secara konstruktif dan dengan itikad baik guna mencapai penyelesaian damai, menyeluruh, dan berkelanjutan atas isu nuklir Iran,ā tegasnya, menegaskan bahwa Resolusi 2231āyang mengesahkan JCPOAāmasih menjadi fondasi hukum yang tak bisa diganggu gugat.
Ironisnya, upaya diplomatik terbaru seperti Nota Kesepahaman Islamabad (17 Juni) yang mencakup pengelolaan material terkaya dan pengawasan langsung IAEA di lokasiāmasih terancam menjadi sia-sia jika kebisingan geopolitik terus mengalahkan logika keamanan kolektif. AS dan Israel, yang dituduh melakukan serangan saboteur sejak 28 Februari lalu, kini berada di bawah sorotan tajam: bukan hanya karena merusak infrastruktur nuklir, tetapi karena secara sistematis menggerogoti dasar kepercayaan global terhadap sistem verifikasi nuklir yang selama 70 tahun menjadi penyangga utama perdamaian internasional.
Di tengah kebuntuan ini, PBB menegaskan kesiapan untuk memfasilitasi kembali jalur perundinganātapi dengan satu syarat krusial: penghentian total aksi unilatetal yang menghancurkan fondasi diplomasi. Tanpa itu, kata DiCarlo, ādiplomasi akan berubah menjadi sandiwara kosong, di mana setiap pihak hanya bermain peran tanpa niat menyelesaikan akar masalah.ā
Opini Mendalam: Ini Bukan Sekadar Isu NuklirāTapi Ujian Akhir bagi Tatanan Keamanan Global Pasca-Perang Dingin
Peristiwa yang sedang berlangsung di Timur Tengah bukanlah sekadar konflik bilateral antara AS, Israel, dan Iranāmelainkan perang sistemik terhadap arsitektur keamanan multilateral. Kita sedang menyaksikan bagaimana kekuatan besar, atas nama keamanan nasional, secara bertahap menggantikan hukum internasional dengan logika kekerasan tersembunyi: serangan siber, pembunuhan ilmuwan, sabotase fasilitas, dan penghancuran data verifikasi. Yang paling berbahaya bukanlah fakta bahwa Iran memperkaya uranium hingga 60%, melainkan bahwa IAEA kini kehilangan kemampuan untuk memverifikasi apakah Iran memang memperkaya uranium hingga 60%. Ini adalah titik di mana transparansi global matiādan dengan kematian itu, seluruh sistem non-proliferasi runtuh seperti kartu domino.
AS dan Israel berargumen bahwa tindakan mereka adalah āpreemptive strikeā terhadap program nuklir militer Iran. Namun, jika argumen itu benar, mengapa mereka tidak menyerahkan bukti tersebut ke IAEAābukan menghancurkan jejak yang bisa menjadi bukti di pengadilan global? Fakta bahwa mereka memilih jalan sabotase, bukan transparansi, mengungkapkan satu hal: mereka tidak ingin menang di meja perundingan, tapi di medan perang. Dan ini adalah bahaya besar: normalisasi kekerasan sebagai alat diplomasi. Jika Iran membalas dengan serangan balik, AS dan Israel akan memperoleh justifikasi tambahan untuk intervensi lebih besarādan siklus ini akan terus berputar hingga tidak ada lagi ruang bagi negosiasi. Resolusi 2231 bukan sekadar dokumen hukum; ia adalah warisan dari kegagalan global mengatasi ketidaksetaraan kekuasaan. JCPOA lahir dari kompromi antara kekuatan dan keadilanādan kini, kekuasaan sedang menggantikan kompromi itu dengan kekerasan.
Lebih jauh, kita harus berani mengatakan: IAEA bukan hanya lembaga teknisāia adalah parlemen moral dunia. Ketika IAEA kehilangan akses ke data, bukan hanya Iran yang dirugikan, tapi seluruh negara non-proliferasiātermasuk negara-negara Global Selatan yang selama ini mempercayai sistem ini sebagai jaminan kesetaraan. Jika negara-negara besar bisa menghancurkan verifikasi tanpa konsekuensi, maka apa yang tersisa dari NPT? Tidak ada. Nuklir akan kembali menjadi alat tekanan politik, bukan teknologi yang diawasi. Dan di sinilah PBB harus berani mengambil langkah radikal: meminta Dewan Keamanan mengadakan sidang darurat di bawah Chapter VII untuk mengidentifikasi pelaku sabotase dan menerapkan sanksi spesifikābukan sekadar pernyataan ākekhawatiranā. Tanpa ini, PBB bukan lagi penjaga perdamaian, tapi saksi bisu dari kehancuran tatanan global.
Prediksi saya: jika jalur diplomasi tidak segera dipulihkan dalam 6ā9 bulan ke depanādengan itikad baik yang nyata, bukan retorikaāmaka kita akan memasuki era ānuklir tersembunyiā, di mana setiap negara mengembangkan kapasitas nuklir tanpa verifikasi, dan kecurigaan menjadi satu-satunya bahasa resmi hubungan internasional. AS dan Israel mungkin merasa menang dalam jangka pendek dengan menghancurkan jejak nuklir Iran, tapi dalam jangka panjang, mereka telah menggali lubang bagi seluruh sistem keamanan globalādan pada akhirnya, mereka sendiri yang akan jatuh ke dalamnya.
BERITA TERKAIT

Pogacar Tetap Kuasai Jersi Kuning: Dominasi atau Kebetulan? Simak Analisis Lengkapnya!
Ahmad Hidayat
Dua Putri Indonesia Membakar Lintasan Chamonix: Desak Made & Kadek Adi Tembus 16 Besar, Rajiah Hanya 0,02 Detik dari Kejayaan
Maya SariHardiyanto Kenneth PDIP Apresiasi Pemprov DKI Jakarta Luncurkan Mobil Klinik Hewan Keliling
Siti Rahmawati