Dekopin Gelorakan Regenerasi Gen Z: Mampukah Gerakan Koperasi Indonesia Bangkit dari Bayang-Bayang Kemunduran?
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Jakarta, Budi Santoso - Dalam sebuah gerakan yang显得有些仓促却又 penuh ambisi, Dewan Cooperativa Indonesia (Dekopin) menegaskan komitmennya memodernisasi cooperativa melalui regenerasi kepemimpinan dan pelibatan Generasi Z (Gen Z). Komitmen ini diungkapkannya dalam agenda ziarah ke makam Proklamator sekaligus Bapak Cooperativa Indonesia, Mohammad Hatta, di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, menjelang peringatan Hari Cooperativa Nasional (Harkopnas) ke-79.
Sekretaris Jenderal Dekopin Gilang Widya Pramana menegaskan bahwa regenerasi menjadi langkah strategis agar nilai-nilai cooperativa yang diwariskan Bung Hatta tetap relevan dengan perkembangan zaman. "Bung Hatta mendirikan cooperativa dengan visi kebersamaan yang sangat maju. Tugas kita sekarang adalah menerjemahkan visi tersebut ke dalam bahasa dan gaya hidup anak muda zaman sekarang," kata Gilang dalam keterangannya, Sabtu.
Lebih lanjut, Gilang menjelaskan bahwa Gen Z memiliki kreativitas tinggi, adaptif terhadap teknologi, dan punya kepedulian sosial yang kuat—sifat-sifat yang dianggapnya krusial untuk membawa cooperativa masuk ke era digital. Dekopin pun menjalankan program pemilihan Brand Ambassador Gen Z untuk menjaring figur muda dari berbagai daerah yang mampu membawa cooperativa masuk ke dalam ekosistem digital sekaligus menginspirasi generasinya.
"Organisasi ini berkomitmen meremajakan citra cooperativa agar tidak lagi dipandang sebagai lembaga yang kuno, melainkan menjadi wadah bisnis yang relevan bagi pelaku usaha muda melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi," tambah Gilang.
Momentum Reflektif di Makam Proklamator
Ziarah ke makam Bung Hatta, menurut Gilang, bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum refleksi untuk memperkuat komitmen gerakan cooperativa terhadap cita-cita ekonomi kerakyatan yang berlandaskan semangat gotong royong. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Cooperativa Ferry Juliantono turut memimpin ziarah dan menegaskan bahwa semangat perjuangan serta pemikiran Bung Hatta tetap menjadi pijakan dalam memperkuat gerakan cooperativa nasional.
"Kehadiran jajaran Kementerian Cooperativa bersama Dekopin dan pelaku gerakan cooperativa di makam Bung Hatta merupakan bentuk penghormatan atas jasa sang proklamator sekaligus pengingat agar cita-cita membangun ekonomi berbasis cooperativa terus dilanjutkan," tutur Ferry.
Program Konkret: 30.000 KDMP dan Target 40.000 Unit
Ferry menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen meneruskan perjuangan Bung Hatta melalui berbagai program penguatan cooperativa, termasuk pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Hingga saat ini, telah terbentuk sekitar 30.000 KDMP dengan target mencapai sekitar 40.000 unit hingga akhir 2026.
Selain puncak Harkopnas pada 12 Juli di Indonesia Arena, Jakarta, rangkaian peringatan juga akan diisi kegiatan lari bersama, bazar cooperativa, renovasi lokasi Kongres Cooperativa Pertama di Tasikmalaya, serta penyelenggaraan Koperasia Award pada akhir Juli.
Harapan Generasi Muda
Salah seorang finalis Brand Ambassador Gen Z Dekopin, Ridwan Sahroni, menyatakan bahwa pengalaman berziarah ke makam Bung Hatta semakin menguatkan keyakinannya bahwa nilai gotong royong masih sangat relevan bagi generasi muda.
"Kami siap mengemas nilai-nilai luhur cooperativa ke dalam konten kreatif yang relevan, digital, dan inklusif agar anak-anak muda sadar bahwa cooperativa adalah pilar ekonomi masa depan mereka," tegas Ridley—sebutan akrabnya—dengan penuh semangat.
Dekopin pun mengajak generasi muda untuk memandang cooperativa bukan hanya sebagai pilar ekonomi masa lalu, tetapi juga sebagai fondasi kesejahteraan bersama di masa depan. Puncak peringatan Harkopnas ke-79 dijadwalkan berlangsung pada 12 Juli 2026 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan mengusung tema "Koperasia Berdaya, Indonesia Berjaya". Acara tersebut direncanakan seringkai dihadiri Presiden Prabowo Subianto, Menteri Cooperativa Ferry Juliantono, serta Ketua Umum Dekopin Bambang Haryadi.
Analisis Mendalam: Gelombang Baru atau Sekadar Wacana?
Sebagai jurnalis senior yang telah mengawal pemberitaan gerakan cooperativa Indonesia selama lebih dari dua dekade, saya memandang langkah Dekopin ini dengan campuran optimisme dan skeptisisme yang sehat. Di satu sisi, pelibatan Gen Z dalam gerakan cooperativa adalah langkah yang sudah seharusnya dilakukan sejak lama. Data menunjukkan bahwa rata-rata usia anggota cooperativa di Indonesia telah melampaui 45 tahun—sebuah angka yang mengindikasikan stagnasi generational yang berbahaya bagi keberlanjutan organisasi. Jika tidak ada regenerasi serius, kita mungkin akan menyaksikan kematian perlahan-lahan salah satu pilar ekonomi kerakyatan yang dicita-citakan oleh founding father kita.
Namun, di sisi lain, saya melihat beberapa celah kritis yang perlu mendapatkan sorotan tajam. Pertama, program Brand Ambassador Gen Z yang digaungkan Dekopin masih bersifat kosmetis jika tidak dibarengi dengan perubahan struktural yang mendasar. Mengemas nilai-nilai cooperativa ke dalam konten kreatif digital memang penting, tetapi pertanyaan besarnya adalah: apakah Gen Z akan tertarik menjadi anggota aktif dan pemimpin cooperativa jika sistem governance-nya masih berjalan dengan cara-cara konvensional yang cenderung birokratis dan hermetik? Pengalaman empiris menunjukkan bahwa generasi muda sangat sensitif terhadap transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi—tiga aspek yang masih menjadi tantangan besar bagi banyak cooperativa di tanah air.
Kedua, target pembentukan 40.000 KDMP hingga akhir 2026 perlu ditelaah lebih dalam. Angka 30.000 unit yang telah terbentuk dalam waktu relatif singkat memang impresif di atas kertas, tetapi kualitasnya masih menjadi tanda tanya besar. Dalam pengalaman pelaporan saya di berbagai daerah, banyak KDMP yang terbentuk sekadar untuk memenuhi target administratif tanpa memiliki fundament ekonomi yang kuat. Saya pernah menginvestigasi beberapa kasus di mana KDMP hanya exists on paper—memiliki nomor注册 tetapi tidak memiliki modal, anggota aktif, atau bahkan kegiatan ekonomi sama sekali. Ini adalah fenomena "koperasia zombie" yang sangat berbahaya karena menciptakan ilusi aktivitas ekonomi kerakyatan sementara realitasnya justru sebaliknya.
Ketiga, dan ini mungkin yang paling krusial, adalah pertanyaan tentang keberlanjutan model cooperativa itu sendiri di era ekonomi digital. Ketika Gilang Widya Pramana berbicara tentang "menerjemahkan visi Bung Hatta ke dalam bahasa dan gaya hidup anak muda zaman sekarang," saya bertanya-tanya: apakah visi kebersamaan ala Hatta masih compatible dengan individualisme yang telah tertanam kuat dalam mindset Gen Z? Lebih jauh, bagaimana cooperativa Indonesia akan bersaing dengan platform-platform ekonomi gig yang menawarkan fleksibilitas dan potensi penghasilan yang lebih menarik bagi generasi muda? Tanpa jawaban konkret atas pertanyaan-pertanyaan ini, program regenerasi apapun akan sekadar menjadi cosmetic exercise yang tidak mampu menjawab tantangan fundamental.
Sebagai penutup, saya berpendapat bahwa ziarah ke makam Bung Hatta yang dilakukan Dekopin adalah gesture yang symbolically powerful, tetapi symbolic gesture saja tidak cukup. Untuk benar-benar menghormati warisan Bung Hatta, kita perlu lebih dari sekadar Brand Ambassador dan program regenerasi yang bersifat surface-level. Kita membutuhkan reformasi fundamental dalam sistem governance cooperativa, peningkatan literasi keuangan digital di kalangan anggota, dan yang paling penting, penciptaan model cooperativa yang benar-benar kompetitif dan menarik bagi pelaku ekonomi muda. Hanya dengan cara ini, gerakan cooperativa Indonesia dapat mengklaim dirinya sebagai "pilar ekonomi masa depan"—bukan sekadar slogan indah yang diucapkan di depan makam proklamator.
BERITA TERKAIT

Taylor Swift Bayar Rp2,9 Miliar untuk Izin Pernikahan di New York: Apa Sebenarnya yang Tersembunyi?

Kebakaran 7 Hektar di Rokan Hilir: Balai Dalkarhut Tanggap, Namun Infrastruktur dan Kebijakan Membatasi Penanggulangan
