AS Perketat Tekanan Finansial pada Elite Iran: Sanksi Baru Menjerat Donatur Mojtaba Khamenei

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

AS Perketat Tekanan Finansial pada Elite Iran: Sanksi Baru Menjerat Donatur Mojtaba Khamenei
BAGIKAN:

Washington mengumumkan paket sanksi baru yang menargetkan figur-figur kunci dalam jaringan keuangan Iran, termasuk Ali Ansari—seorang bankir dan pengusaha Iran yang berbasis di Dubai—serta 13 individu dan entitas lain yang diduga berhubungan dengan Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran. Sanksi ini diluncurkan pada hari yang relatif tenang setelah serangkaian konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran pada pekan sebelumnya, di mana Tehran menabrak tiga kapal tanker komersial milik Qatar dan Saudi, memicu balasan udara AS, dan kemudian menyerang pangkalan militer AS di Teluk.

Menurut laporan Reuters, Ali Ansari sebelumnya telah masuk dalam daftar sanksi Inggris karena perannya dalam mendanai Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Departemen Keuangan AS menambahkan bahwa Ansari mengalihkan kekayaan publik ke portofolio properti dan perusahaan komersial di luar negeri, yang menurut otoritas tersebut dimanfaatkan untuk memperkaya dirinya, elite pemerintah, dan IRGC. Sebelumnya, Ansari adalah pemilik dan direktur Bank Ayandeh, yang telah dikenai sanksi AS dan akhirnya dibubarkan atas perintah pemerintah Iran pada Oktober 2025.

Investigasi OFAC (Office of Foreign Assets Control) mengungkapkan bahwa Ansari menggunakan jaringan perusahaan cangkang dan rekening bank di berbagai yurisdiksi, termasuk Smart Global Limited yang berbasis di Saint Kitts dan Nevis, untuk mengumpulkan aset bernilai jutaan dolar. Pemerintah AS menilai bahwa sebagian besar aset tersebut pada akhirnya mengalir ke keuntungan finansial Mojtaba Khamenei, keluarganya, serta elite rezim Iran, sementara IRGC melindungi Ansari dari konsekuensi hukum meski ia diduga melakukan korupsi yang merusak ekonomi Iran.

Selain menargetkan Ansari, OFAC juga menyasar tiga perusahaan pertukaran mata uang yang beroperasi di Iran serta sejumlah entitas asing yang dianggap memfasilitasi transfer miliaran dolar AS setiap tahun atas nama bank-bank Iran yang dikenai sanksi. Di antara target tambahan terdapat CDM Trading Limited (Hong Kong) dan Naba Alzaki Raw Materials Trading LLC (Uni Emirat Arab), serta warga negara Iran yang terlibat dalam operasi pertukaran tersebut.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menegaskan bahwa langkah ini merupakan upaya “tegas untuk memutus jalur keuangan yang menopang elit penguasa Iran.” Dengan menekan akses Iran ke mata uang asing dan sistem keuangan internasional, Washington berharap dapat menurunkan kemampuan rezim Tehran dalam mendanai operasi militer dan menekan kebijakan luar negeri yang dianggap mengancam stabilitas regional.

Analisis Pakar

Penetapan sanksi ini menandai eskalasi strategi ekonomi Amerika yang beralih dari pendekatan militer konvensional ke senjata keuangan yang lebih halus namun berdampak luas. Dengan menargetkan individu seperti Ali Ansari, yang beroperasi di luar negeri dan memanfaatkan struktur perusahaan cangkang, AS berupaya menutup celah yang selama ini memungkinkan Iran mengakses dana luar negeri meski berada di bawah tekanan sanksi. Langkah ini juga mengirim sinyal kuat kepada jaringan keuangan internasional bahwa kolaborasi dengan entitas Iran akan berisiko tinggi, sehingga dapat mengurangi kemudahan transfer dana lintas batas.

Namun, efektivitas sanksi semacam ini sering dipertanyakan. Iran telah mengembangkan mekanisme alternatif, termasuk penggunaan mata uang kripto, barter komoditas, dan jaringan informal yang beroperasi di negara-negara yang kurang ketat dalam penegakan sanksi. Selain itu, tekanan ekonomi yang semakin berat dapat memperkuat narasi anti‑Barat di dalam negeri, memperkuat posisi rezim yang mengklaim bahwa sanksi merupakan bentuk agresi luar negeri. Oleh karena itu, kebijakan sanksi harus diiringi dengan diplomasi yang terkoordinasi, termasuk upaya melibatkan sekutu regional untuk menutup celah keuangan yang masih terbuka.

Dari perspektif geopolitik, sanksi ini juga berpotensi memperburuk ketegangan di kawasan Teluk. Iran, yang baru saja melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS, dapat memanfaatkan sentimen anti‑AS untuk memperkuat aliansi dengan Rusia, China, atau negara-negara lain yang bersedia menyediakan jalur keuangan alternatif. Sementara itu, sekutu tradisional Washington di kawasan, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, harus menyeimbangkan antara kepentingan keamanan bersama dengan kebutuhan untuk menjaga hubungan ekonomi dengan Iran yang tetap penting bagi stabilitas pasar energi.

Ke depan, keberhasilan sanksi ini akan sangat bergantung pada kemampuan Amerika Serikat untuk menegakkan kepatuhan internasional, mengawasi transaksi lintas‑batas, dan menutup celah hukum yang dimanfaatkan oleh jaringan keuangan Iran. Jika berhasil, sanksi dapat menjadi alat tekanan yang signifikan, memaksa Tehran untuk kembali ke meja perundingan. Jika tidak, mereka mungkin hanya akan menambah beban pada rakyat Iran tanpa mengubah kebijakan strategis rezim, sekaligus memperdalam keretakan antara Barat dan Timur Tengah.