Prestasi Menembak TNI AD di Australia: Kebanggaan atau Alat Propaganda Politik?

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Prestasi Menembak TNI AD di Australia: Kebanggaan atau Alat Propaganda Politik?
BAGIKAN:

Jakarta, 10 Juli 2026 – Pada upacara peluncuran lima bendungan baru di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Presiden Prabowo Subianto memuji kontingen TNI Angkatan Darat yang berhasil menjadi juara umum Australian Army Skills at Arms Meeting (AASAM) selama 13 kali berturut‑turut. Keberhasilan ini memang patut diapresiasi, namun di balik sorotan kebanggaan militer terdapat pertanyaan-pertanyaan krusial tentang kebijakan pertahanan, transparansi anggaran, dan penggunaan prestasi militer sebagai alat politik.

Kompetisi menembak AASAM, yang diselenggarakan setiap dua tahun di Puckapunyal Military Range, Victoria, Australia, melibatkan pasukan dari Australia, Amerika Serikat, Jepang, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan negara‑negara lain di kawasan Asia‑Pasifik. Sejak 2008, kontingen Indonesia konsisten meraih gelar juara umum, menandakan dominasi TNI AD selama lebih dari dua dekade.

Presiden Prabowo menekankan bahwa kemenangan tersebut “buah kerja keras, perlengkapan terbaik, dan asupan bergizi yang tidak dikorupsi oleh komandan”. Ia menyoroti bahwa prajurit Indonesia berasal dari kalangan petani, bukan anak orang kaya, sehingga pencapaian ini dianggap bukti bahwa kebijakan pembiayaan pertahanan yang “bersih” telah menghasilkan hasil yang memuaskan.

Namun, fakta bahwa senjata yang dipakai dalam kompetisi merupakan produk dalam negeri buatan PT Pindad menimbulkan pertanyaan tentang potensi konflik kepentingan. PT Pindad, sebagai perusahaan milik negara, menerima hadiah sebesar Rp1,2 miliar dari AASAM pada tahun 2018, sekaligus menonjolkan produk SS2 V2 Heavy Barrel dan SS2 V4 Heavy Barrel sebagai senjata utama. Apakah penghargaan tersebut merupakan insentif yang wajar atau upaya pemasaran yang mengaburkan batas antara prestasi militer dan promosi industri pertahanan?

Selain itu, penggunaan prestasi militer dalam pidato politik menimbulkan kekhawatiran akan instrumentalitas militer dalam kampanye pemilu. Mengaitkan keberhasilan TNI AD dengan kebijakan pemerintah dapat menimbulkan citra militer sebagai “pahlawan nasional” yang melayani agenda politik, mengaburkan prinsip sipil‑militer yang seharusnya terjaga.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat tiga dimensi utama yang perlu digali lebih dalam. Pertama, transparansi anggaran pertahanan. Klaim Prabowo bahwa anggaran tidak dikorupsi harus dibuktikan dengan data real‑time tentang alokasi dana untuk peralatan, logistik, dan gizi prajurit. Tanpa audit independen, pernyataan tersebut tetap retoris.

Kedua, hubungan antara PT Pindad dan lembaga pertahanan. Hadiah Rp1,2 miliar yang diberikan oleh AASAM kepada pemenang menimbulkan potensi konflik kepentingan, terutama bila perusahaan milik negara sekaligus pemasok utama senjata. Apakah ada mekanisme pengawasan yang memastikan bahwa hadiah tersebut tidak memengaruhi keputusan pembelian atau penilaian kompetisi?

Ketiga, politisasi prestasi militer. Menggunakan keberhasilan di arena internasional sebagai bahan kampanye politik dapat menurunkan netralitas institusi militer. Jika publik terus melihat TNI AD sebagai “alat kemenangan politik”, kepercayaan sipil terhadap militer dapat tergerus, terutama di masa pemilihan umum yang akan datang.

Ke depan, saya menilai bahwa pemerintah harus membuka akses publik ke laporan keuangan pertahanan, memperkuat mekanisme audit independen, dan memisahkan secara tegas antara pencapaian militer dengan agenda politik. Hanya dengan langkah-langkah tersebut, kebanggaan atas prestasi menembak TNI AD dapat dipertahankan tanpa mengorbankan integritas institusi dan kepercayaan publik.