Pemakaman Rachmat Gobel: Parade Politik di TMP Kalibata Mengundang Sorotan
Budi Santoso
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Jakarta, 10 Juli 2026 – Upacara pemakaman mantan Menteri Perdagangan sekaligus Wakil Ketua DPR RI periode 2019‑2024, Rachmat Gobel, berlangsung secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada Jumat sore. Acara yang dihadiri ribuan orang ini menjadi panggung pertemuan para tokoh politik senior, termasuk mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie.
Di antara deretan pejabat tinggi, hadir pula Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Lodewijk F. Paulus, serta sejumlah anggota DPR RI Fraksi NasDem. Wakil Ketua DPR, Saan Mustopa, menjabat sebagai inspektur upacara dan menegaskan, "Almarhum adalah anggota DPR yang berintegritas, menunaikan tugasnya dengan dedikasi tinggi dan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan."
Prosesi dimulai sekitar pukul 14.50 WIB dengan pembacaan sambutan resmi, dilanjutkan dengan pemakaman jenazah di Blok Z TMP Kalibata. Upacara ditutup dengan tembakan senapan tradisional yang menandai penghormatan militer. Tidak hanya kalangan politik, artis papan atas seperti Irfan Hakim dan Christine Hakim juga meliputi rumah duka, menambah nuansa lintas sektor dalam peristiwa tersebut.
Sebelum dipindahkan ke TMP, jenazah sempat berada di rumah duka di Tebet, Jakarta Selatan, di mana Presiden Joko Widodo, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, Kepala Badan Pengelola BUMN Dony Oskaria, serta Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade turut memberikan penghormatan terakhir.
Rachmat Gobel menghembuskan napas terakhir pada pukul 03.20 WIB dini hari Jumat, meninggalkan warisan kebijakan perdagangan yang kontroversial serta peran politik yang cukup menonjol di parlemen. Kepergiannya memicu perbincangan tentang dinamika kekuasaan di dalam partai-partai politik dan hubungan antara dunia usaha serta institusi negara.
Analisis Pakar
Keberadaan tokoh-tokoh senior seperti JK dan Jimly dalam prosesi pemakaman ini bukan sekadar bentuk rasa hormat pribadi, melainkan sinyal politik yang kuat. Kedua figur tersebut mewakili generasi lama yang masih memegang pengaruh signifikan dalam jaringan patronase politik. Kehadiran mereka di TMP Kalibata menegaskan bahwa aliansi lama masih beroperasi, meski lanskap politik Indonesia semakin terfragmentasi.
Selain itu, kehadiran artis ternama menambah dimensi publikasi massal yang tak terhindarkan. Dalam era media sosial, kehadiran selebriti dapat mengubah fokus publik dari substansi kebijakan Gobel menjadi sensasi visual, mengaburkan diskusi kritis tentang warisan kebijakan perdagangan yang ia jalankan. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah upacara pemakaman menjadi arena bagi elite politik untuk memperkuat citra, atau sekadar penghormatan tulus?
Secara struktural, pemakaman militer di TMP Kalibata menegaskan status kebangsaan yang diberikan kepada Gobel, meskipun kontribusinya dalam kebijakan ekonomi masih diperdebatkan. Penghormatan militer biasanya diberikan kepada pahlawan nasional atau tokoh militer, sehingga keputusan ini mencerminkan upaya partai-partai politik untuk menata narasi heroik di sekitar figur-figur yang memiliki jaringan luas di sektor bisnis dan pemerintahan.
Ke depan, dinamika ini dapat memengaruhi cara partai-partai mengelola citra publiknya, terutama menjelang pemilihan legislatif berikutnya. Jika elite politik terus memanfaatkan momen-momen simbolis seperti pemakaman untuk memperkuat jaringan patronase, maka transparansi dan akuntabilitas kebijakan publik akan semakin terpinggirkan. Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai penting bagi publik untuk menelusuri tidak hanya ritual penghormatan, tetapi juga implikasi politik yang tersembunyi di baliknya.
BERITA TERKAIT

Kolaborasi POJ‑TOP Rombak Pasar Sewa Mobil Ride‑Hailing: Janji Lapangan Kerja dan Lompatan EV di Jabodetabek
Siti Amalia
Ratusan Perusahaan di Pekanbaru Gagal Daftarkan Karyawan ke JKN: Risiko Kesehatan dan Kewajiban Hukum Menggantung
Siti Rahmawati
KAI Sumut Gencarkan Revolusi Perawatan: Balai Yasa Pulubrayan Selamatkan Armada di Tengah Krisis Transportasi
Siti Rahmawati