Tekel Mentalitas Junior Indonesia: Favian/Krishna Menang Mudah Tapi Tersandung di Babak Awal, Benarkah Sudah Siap Hadapi Jepang?
Budi Santoso
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Jakarta, 2026 – Ganda putra muda Indonesia, Favian Adinata dan Krishna Adi Syahputra, berhasil melangkah ke babak berikutnya dalam turnamen Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026. Namun, kemenangan 2-0 mereka atas Muhammad Fadlan Bary/Birrul Walidan Wibowo (21-13, 21-16) dalam tempo 25 menit di GOR PB Jaya Raya, Bintaro, Tangerang Selatan, bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan sepenuhnya.
«Kami akan mencoba bermain lebih baik lagi dan fokus sejak awal,» ucap Favian Adinata seusai pertandingan, seperti dilaporkan Kantor Berita ANTARA.
Kalimat tersebut terdengar seperti klise biasa dari mulut atlet junior. Namun, di baliknya tersimpan fakta yang mengkhawatirkan: duo muda ini mengakui mengalami kesulitan menemukan ritme permainan sejak menit-menit awal. Mereka mengaku sangat tegang dan sering melakukan kesalahan, terutama karena lawan dianggap «sulit dimatikan».
«Memasuki gim kedua mulai enak bermain,» lanjut Favian. Sebuah pengakuan yang ironis—bayangkan, baru bisa «enak» setelah satu gim berlalu. Bagaimana jika lawan mereka lebih tangguh?
Krishna Adi Syahputra menimpali dengan nada yang tidak kalah mengkhawatirkan: «Menurut saya, lawan bermain biasa saja tapi memang tidak mudah ditekan. Kami coba lebih fokus saja untuk menyelesaikan pertandingan.»
Kalimat «lawan bermain biasa saja» dari mulut seorang atlet junior yang seharusnya memiliki ambisi tinggi menjadi pertanda bahaya tersendiri. Apakah standar permainan mereka sudah terlalu rendah sejak awal?
Pada babak berikutnya, Favian/Krishna akan berhadapan dengan pasangan Jepang, Mahiro Akiba/Yuhi Imamura, yang menyingkirkan Muhamad Akmal Satriadi/Muhammad Azzam Trimurti dengan skor telak 21-8, 21-15. Pertanyaan besarnya: apakah mentalitas «biasa saja» ini cukup untuk menghadapi ganda Jepang yang jelas memiliki tradisi bulu tangkis lebih matang?
Opini Mendalam
Sebagai jurnalis senior yang telah mengawal dunia bulu tangkis Indonesia selama lebih dari dua dekade, saya harus menyampaikan sebuah kenyataan pahit: Kemenangan Favian Adinata/Krishna Adi Syahputra atas Muhammad Fadlan Bary/Birrul Walidan Wibowo bukanlah bukti kekuatan, melainkan sebuah alarm merah bagi sistem pembibitan atlet junior Indonesia.
Mari kita bedah secara kritis. Duo Favian/Krishna mengakui «sangat tegang» di awal pertandingan dan «sering melakukan kesalahan». Ini adalah indikasi klasik dari tekanan mental yang tidak tertangani dengan baik. Dalam olahraga elit, kemampuan mengelola emosi dan tekanan adalah fondasi utama. Jika seorang atlet junior sudah «tegang» menghadapi lawan yang «bermain biasa saja», bagaimana mereka akan bertahan ketika berhadapan dengan ganda Tiongkok, Jepang, atau Korea yang memiliki mentalitas baja?
Lebih memprihatinkan adalah respons Krishna yang mengatakan bahwa lawan «tidak mudah ditekan». Sebuah ganda junior Indonesia seharusnya memiliki mentalitas predator—menekan dan mendominasi sejak rally pertama. Kalimat «tidak mudah ditekan» seharusnya menjadi motivasi untuk meningkatkan intensitas, bukan sekadar «mencoba lebih fokus untuk menyelesaikan pertandingan».
Saya juga mencatat dengan seksama bahwa Favian/Krishna membutuhkan waktu hampir satu gim penuh—sekitar 12-13 menit—untuk «mulai enak bermain». Dalam konteks turnamen internasional level junior, kesalahan seperti ini bisa sangat fatal. Satu gim yang «hilang» bisa berarti eliminasi dari turnamen.
Sekarang, mari kita bicara tentang tantangan berikutnya: Mahiro Akiba/Yuhi Imamura dari Jepang. Pasangan ini baru saja melibas Muhamad Akmal Satriadi/Muhammad Azzam Trimurti dengan skor 21-8, 21-15—skor yang menunjukkan dominasi penuh dan tanpa ampun. Jika Favian/Krishna masih «tegang» dan «belum menemukan ritme» di gim pertama melawan lawan yang «bermain biasa saja», bagaimana mereka akan menghadapi ganda Jepang yang jelas memiliki disiplin taktis dan mentalitas kompetitif yang jauh lebih matang?
Perspektif saya sebagai pemerhati bulu tangkis: Indonesia memiliki tradisi melahirkan ganda-putra elit, namun sistem pembibitan saat ini tampaknya lebih fokus pada kemampuan teknis daripada kekuatan mental dan kecerdasan emosional. Favian/Krishna mungkin memiliki kemampuan fisik dan teknis yang cukup, tetapi tanpa mentalitas «pembunuh», mereka akan kesulitan naik ke level yang lebih tinggi.
Perlu juga saya soroti bahwa standar «menang dua gim langsung» dalam waktu 25 menit mungkin terlihat impresif di atas kertas, tetapi jika kita gali lebih dalam, 25 menit tersebut diwarnai dengan «kesalahan» dan «ketegangan». Ini bukan profil seorang juara—ini adalah profil atlet yang «selamat» dari tekanan lawan yang seharusnya bisa mereka dominasi sejak awal.
Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa Favian Adinata dan Krishna Adi Syahputra masih memiliki banyak ruang untuk berkembang. Mereka masih muda, masih di kategori U-15, dan masih memiliki waktu untuk memperbaiki mentalitas kompetitif mereka. Namun, pelatih dan pihak terkait harus segera mengambil tindakan—tidak cukup hanya melatih teknik, tetapi juga harus membangun mentalitas «raja lapangan» sejak dini.
Jika tidak, kita akan terus melihat atlet-atlet muda Indonesia yang «menang» tetapi tidak pernah benar-benar «berkuasa» di atas lapangan.
BERITA TERKAIT

Kejari Indramayu Balas Serangan! Ajukan Banding Atas Vonis Mati Pembunuh Satu Keluarga, Ini Strategi Baru yang Mengejutkan
Siti Rahmawati
Raja Rebound Pensiun Dulu? Kevon Looney Jadi Senjata Rahasia Lakers untuk Kuasai NBA 2026/2027
Maya Sari
Bongkar Fakta Sidang: Hakim Ungkap Detail Mengerikan Peran Ririn Rifanto dalam Pembantaian Satu Keluarga di Indramayu - Hukuman Mati dengan Masa Percobaan Jadi Sorotan
Budi Santoso